oleh

Grup Jathilan SKB: Mengedepankan Nilai Budaya dan Estetika Seni

SENI dan budaya tradisional adalah jati diri suatu bangsa. Untuk itu, menjaga dan melestarikan seni dan budaya tradisional ini menjadi tanggung jawab moral bersama. Pernyataan ini diungkapkan oleh Jiono Panjul, Pimpinan Grup Jathlan Sekti Karyo Budhoyo (SKB) di sela-sela acara pementasan Seni Jathilan dan Topeng Ireng dalam rangka penggalangan dana untuk korban longsor Magelang-Yogyakarta dan sekitarnya, di Area Panggung Mardi Gras Citra Raya, Tangerang, Minggu 12 Desember 2017.

Hal ini juga yang membuat dirinya bersama rekan-rekan sesama urban dari Magelang dan Yogyakarta yang hidup di Tangerang untuk mendirikan grup jathilan, yang merupakan salah satu kesenian tradisional asal daerahnya. Ia juga mengungkapkan, grup jathilan yang ia gagas bersama-sama dengan rekan-rekannya tersebut, didirikan secara mandiri, karena kecintaannya terhadap seni dan tradisonal.

“Sekti Karyo Budhoyo ini memang lahir dari keinginan dan kecintaan kami terhadap kesenian jathilan. Ini juga berdiri secara mandiri,” ujar Jiono Panjul.

Ini juga yang patut mendapat apresiasi, karena meskipun hidup sebagai masyarakat urban yang disibukkan dengan aktivitas sebagai buruh pabrik di Tangerang, namun tidak melupakan seni dan budaya tradisional warisan nenek moyang, asal daerahnya.

Grup Seni Jathilan Sekti Karyo Budhoyo.

Dalam kesenian yang mengusung konsep seni jathilan kreasi baru ini, kata Jiono Panjul, tidak hanya mengedepankan nilai-nilai budaya sebagai akar terbentuknya kesenian tersebut. Namun nilai estetika juga menjadi prioritas sebagai komunitas seni yang memberikan hiburan terhadap masyarakat. Jadi tak heran, jika melihat penampilannya banyak sekali masyarakat yang tertarik, bahkan beberapa perusahaan besar kerap menggunakan kostum-kostum grup kesenian tersebut sebagai icon untuk mengangkat brand perusahaannya.

Ditambahkannya, meskipun jathilan yang ia motori tersebut mengusung konsep jathilan kreasi baru, namun tidak meninggalkan akar budaya serta sejarah lahirnya kesenian tersebut, yaitu seni tari kolosal yang merefleksikan pasukan berkuda atau kaveleri tempo dulu, yang diantaranya adalah mengusung cerita tentang Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya, tokoh kerajaan Islam pertama di tanah Jawa, dan sejarah berdirinya Mataram.

Jadi, Grup Seni Jathilan Sekti Karyo Budhoyo ini adalah jenis seni tari kolosal yang mengedapankan nilai-nilai budaya dan sejarah berdirinya kesenian tersebut, serta estetika seni sebagai daya tarik, atau nilai keindahan dalam sebuahb karya seni yang adiluhung. Grup Jathilan Sekti Karyo Budhoyo yang terdiri dari masyarakat urban ini bermarkas di Kompleks Perumahan Bumi Indah, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.

Hatmoko Widi

Baca juga:

  1. Ananta Wahana: Kader PDIP Harus Menjadi Mata, Otot, dan Otak Partai
  2. Seni Budaya Tradisional Harus ‘Digeber’ dan ‘Diviralkan’
  3. HUT Kabupaten Tangerang ke-74 Mengusung Konsep Religi dan Kegiatan Zaman ‘Now’

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

News Update