oleh

Jejak Pahlawan Nasional Otista di Mauk Tangerang

MAUK adalah salah satu wilayah kecamatan yang terletak di pesisir utara Kabupaten Tangerang, Banten. Mauk memiliki sejarah kelam tentang detik-detik meninggalnya Pahlawan Otto Iskandardinata (Otista). Sebelum Ia meninggal, diculik dan dieksekusi secara tragis oleh Kelompok Laskar Hitam, terlebih dahulu disekap dirumah tahanan, yang saat ini gedungnya dijadikan Kantor Pegadaian Kecamatan Mauk.

Penulis, sekaligus budayawan Tangerang, Mimy Chaetami Albantani atau dikenal dengan nama Mimy CH menyebutkan, Pahlawan Otto Iskandardinata diculik pada 10 Desember 1945. Lalu dieksekusi oleh Kelompok Laskar Hitam di pinggir Pantai Ketapang, atau di sekitar Kampung Pelelangan Desa Ketapang, Kecamatan Mauk tersebut. Jenazahnya hingga sekarang pun hilang bak ditelan bumi.

Namun demikian, kematian Otista ditetapkan pada 20 Desember 1945. Pada penghujung 1952, Otista “dimakamkan” kembali. Disebut begitu karena jenazahnya yang tak ditemukan. Pemakaman itu digelar dengan syarat, putra Otista mengambil air laut dan pasir ke sebuah peti sebagai simbol. Peti itu kemudian dikuburkan di Taman Bahagia, Lembang, Bandung Utara. Otista ditetapkan pemerintah sebagai salah satu Pahlawan Nasional, pada 10 November 1973.

“Jejak detik-detik meninggalnya Otto Iskandardinata, sekarang jadi Kantor Pegadaian Kecamatan Mauk. Memang ada beberapa bagian gedung yang sudah rusak, dan itu dulu dijadikan sebagai tempat untuk menyekap dan memenjarakan Otto Iskandardinata sebelum dieksekusi di pinggir Pantai Ketapang,” papar Mimy CH.

Ia juga menyayangkan, beberapa tempat sejarah detik-detik meninggalnya Pahlawan Nasional yang berjuluk Jalak Harupat tersebut terlihat abai. “Harusnya dibikin semacam monumen untuk mengenang jasa-jasanya. Apalagi Otto Iskandardinata ini juga sebagai Pahlawan Nasional,” katanya.

Untuk diketahui, Otista semasa pergerakan kebangsaan pernah terlibat di Gementeraad (Dewan Kota) dan kemudian Volksraad (Dewan Rakyat – sekarang DPR) di era kolonial Hindia-Belanda, sampai BPUPKI dan PPKI di rezim militerisme Jepang.

Di masa kolonial, Otista bak pejuang perang yang sulit disetop Belanda. Julukan Si Jalak Harupat pun disematkan padanya lantaran punya spirit bak ayam jago yang keras dan tajam menghantam lawan, kencang bila berkokok, dan selalu menang bila diadu. Pasca-kemerdekaan, Otista juga dipercaya menduduki jabatan Menteri Negara, untuk kemudian mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal-bakal TNI.

Selain menganugerahi sebagai Pahlawan Nasional, untuk mengenang jasa-jasanya, gambar atau foto Otto Iskandardinata, oleh pemerintah dipasang pada uang pecahan Rp20 ribu.

Widi

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE