oleh

Proses Produksi Garam Secara Tradisional

Tambak garam (FOTO Istimewa)

DALAM ilmu kimia, garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif dan ion negatif, sehingga membentuk senyawa netral. Garam terbentuk dari hasil reaksi asam dan basa.

Garam merupakan komoditas yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Garam tidak hanya bisa dijadikan bahan konsumsi, namun garam juga bisa dikategorikan dalam bahan industri, seperti industri penyamakan kulit, pengeboran minyak lepas pantai, produksi ikan asin dan lain sebagainya.

Nah, bicara soal garam, dalam beberapa minggu terakhir ramai diberitakan jika harga barang yang satu ini naik sampai ‘gila-gilaan’. Bahkan sempat membuat sejumlah perajin ikan asin kelimpungan.

Berikut lensapena.id melansir dari berbagai sumber tentang bagaimana mudahnya mendapatkan bahan baku untuk pembuatan garam, serta proses produksi pembuatannya.

Proses pembuatan garam secara tradisional ada dua jenis, yaitu dengan metode penguapan dengan sinar matahari di tambak–tambak garam, dan dengan cara teknik perebusan (garam rebus).

Biasanya para petani garam membuat garam dengan metode petakan-petakan sebagai media penguapan. Untuk mendapatkan hasil garam yang baik dengan kristal yang besar, petani garam biasanya secara langsung menguapkan air laut yang dialirkan pada petakan-petakan.

Proses pembuatan garam dengan cara penguapan sinar matahari disebut kristalisasi (penguapan) yaitu cara memisahkan campuran/zat terlarut dari pelarutnya menggunakan pemanasan atau penyerapan kalor berdasarkan titik didihnya. Air memiliki titik didih lebih rendah dari pada garam, sehingga ketika air laut terkena panas matahari, air akan menguap menginggalkan partikel-pertikel garam kemudian membentuk kristal-kristal garam.

Kristal inilah yang selanjutnya dikumpulkan oleh petani garam untuk kemudian dicuci sampai bersih dan dijemur lagi sampai menghasilkan garam yang layak konsumsi.

Faktor yang mempengaruhi produksi garam antara lain:

1. Air Laut
Mutu air laut (terutama dari segi kadar garamnya (termasuk kontaminasi dengan air sungai), sangat mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk pemekatan (penguapan).

2. Keadaan Cuaca
Panjang kemarau berpengaruh langsung kepada “kesempatan” yang diberikan kepada kita untuk membuat garam dengan pertolongan sinar matahari; Curah hujan (intensitas) dan pola hujan distribusinya dalam setahun rata-rata merupakan indikator yang berkaitan erat dengan panjang kemarau yang kesemuanya mempengaruhi daya penguapan air laut; Kecepatan angin, kelembaban udara dan suhu udara sangat mempengaruhi kecepatan penguapan air, dimana makin besar penguapan maka makin besar jumlah kristal garam yang mengendap.

3. Tanah
Sifat porositas tanah mempengaruhi kecepatan perembesan (kebocoran) air laut kedalam tanah yang di peminihan ataupun di meja. Bila kecepatan perembesan ini lebih besar daripada kecepatan penguapannya, apalagi bila terjadi hujan selama pembuatan garam, maka tidak akan dihasilkan garam. Jenis tanah mempengaruhi pula warna dan ketidakmurnian (impurity) yang terbawa oleh garam yang dihasilkan.

4. Pengaruh air
Pada kristalisasi garam konsentrasi air garam harus antara 25–29°Be. Bila konsentrasi air tua belum mencapai 25°Be maka gips (Kalsium Sulfat) akan banyak mengendap, bila konsentrasi air tua lebih dari 29°Be Magnesium akan banyak mengendap.

Berita lainnya, baca juga: Harga Garam ‘Gila-gilaan’, Perajin Ikan Asin di Tangerang Kelimpungan

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE