oleh

Lestarikan Seni Budaya Hingga Ke Istana Negara

Pawai Dongkrak saat perayaan hari Nasional.

DARI tradisi ini kemudian menjadi ciri kebudayaan masyarakat Caruban dengan sebutan Dongkrek. Yaitu satu kesenian yang menyiratkan pesan bahwa setiap maksud jahat akhirnya akan lebur juga dengan kebaikan dan kebenaran. Ini sesuai dengan moto Sura Dira Jaya Ningrat, Ngasta Tekad Darmastuti.

Asal dari bunyi alat musik dongkrek itu sendiri masyarakat pada waktu itu mendengar musik dari kesenian dongkrek. Berupa bunyian “dung” yang berasal dari beduk atau kendang dan “krek” dari alat musik yang disebut korek. Dari bunyi “dung” pada kendang dan “krek” pada korek, inilah kemudian dijadikan nama kesenian Dongkrek.

Alat korek ini sendiri yakni berupa kayu berbentuk bujur sangkar dengan satu ujungnya terdapat tangkai kayu bergerigi yang saat digesek mengeluarkan suara “krek”. Dalam perkembangannya digunakan pula alat musik lain berupa gong, kenung, kentongan, kendang dan gong berry sebagai perpaduan budaya Islam, budaya Cina dan kebudayaan masyarakat Jawa pada umumnya.

Dalam pementasan Dongkrek, para penari akan menggunakan tiga jenis topeng, yaitu topeng raksasa atau buta dengan muka seram, topeng perempuan yang sedang mengunyah kapur sirih dan topeng orang tua lambang kebajikan.

Tidak sedikit masyarakat yang belum mengetahui mengenai kesenian yang satu ini. Padahal sejak tahun 1973 silam Dongkrek coba kembali digali dan dikembangkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun dan Propinsi Jawa Timur dan tahun 1980 silam kembali diadakan garap tari.

Tahun 1996 Pemerintah Kabupaten Madiun pernah juga melaksanakan Festival Dongkrek di tingkat kabupaten dengan hasil yang menggembirakan dan memuaskan. Bahkan tahun 2002 Dongkrek diikutkan pada festival-festival di luar kota Madiun, termasuk Festival Cak Durasim di Surabaya dan yang lebih membanggakan lagi pernah tampil di Istana Negara.

One.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE