oleh

Aris Kurniawan: Film Bumi Manusia dan Ingatan Sayup Novelnya

Dia tidak anti Barat, tidak antibule. Yang dia lawan adalah kesewenangan, penindasan, ketidakadilan, penjajahan. Mental penjajah bukan monopoli bule dan Barat yang datang ke Nusantara pada akhir abad 18 hingga pertengahan abad 20 di Nusantara. Mental penjajah adalah mental yang melihat bangsa lain lebih rendah dan boleh diperlakukan lebih buruk dari pada anjing. Mental penjajah bisa menghinggapi siapa saja, termasuk kaum ningrat Jawa dan mana pun.  

Dia adalah Minke (Iqbal Ramadan), pemuda yang merasakan pedihnya menjadi korban ketidakadilan di negeri jajahan. Hukum yang diciptakan kaum penjajah memang menihilkan manusia di negeri jajahan; hukum yang bisa dengan mudah memisahkan anak dari ibunya, istri dari suaminya. Itulah pesan terdalam film ‘Bumi Manusia’ karya Hanung Bramantyo yang sedang diputar di bioskop sejak Kamis pekan lalu. Pesan yang lumayan berat. Maklumlah film ini adaptasi dari novel tebal karangan pujangga terbesar Indonesia Pramudya Ananta Toer.

Teman saya, seorang pewarta yang mengajak saya nonton film ini bahkan bertanya tak paham alasan Annelies Mellema (Mawar Eva de Jong) harus dibawa ke Belanda.

Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti) gundik Herman Mellema, tak berhak mengasuh anak kandungnya sendiri, Annelies. Pernikahan Minke dengan Annelies dianggap tidak sah karena Annelies masih di bawah umur. Di mata hukum kolonial, pernikahan di bawah umur adalah illegal. Begitu juga pernikahan Herman Mellema dengan Nyai Ontosoroh atau Sanikem. Pegawai pemerintah kolonial di negeri jajahan tidak perkenankan menikahi perempuan non Kristen apalagi dari ras berbeda yang dianggap lebih rendah. Ketika pernikahan tetap terjadi disebut pergundikan.

Apa pun yang dihasilkan dari pergundikan tidak sah secara hukum. Maka, selain kehilagan Annelies, kekayaan yang diusahakan oleh Nyai Ontosoroh bertahun-tahun mengelola usaha perkebunan dan peternakan lenyap akan jatuh ke tangan Maurits, putra Herman Mellema dari istri sahnya di Belanda. Keputusan pengadilan membawa Annelies pulang ke Belanda adalah untuk mendapatkan jaminan hidup dari pemerintah Belanda.

Teman saya baru mengangguk-angguk. “Terus kenapa Herman Mellema jadi limbung dan depresi hanya gara-gara digugat Maurits?” kejar teman saya, kali ini dengan lirih.

Tentu saja, karena menikahi (menggundik) perempuan pribumi (saya sebenarnya malas dengan istilah pribumi) itu aib bagi bangsa kolonial. Cibiran dan penolakan masyarakat kolonial pada praktik pergundikan di era VOC paling dominan datang dari kalangan gereja yang melarang pernikahan dengan orang non-kristen dan beda secara rasial. Mengutip historia.id, peraturan yang dikeluarkan Gubernur Jenderal Dymaer van Twist pada 1850-an menyebut tentara yang hidup bersama nyai akan ditangguhkan kenaikan pangkatnya.

Namun pemerintah kolonial membiarkan pergundikan karena mereka mengambil keuntungan dari praktik tersebut. Mereka tak perlu mendatangkan perempuan dari Belanda yang tentunya membutuhkan biaya besar dan risiko. Begitulah. Apakah penuturan saya terdengar ruwet? Itu sepenuhnya kesalahan saya. Tetapi teman saya mengangguk-angguk lagi. Semoga dia beneran paham. Mungkin dia belum membaca novelnya. Setelah ini saya akan menyarankan dia baca novelnya.

Saya sendiri membaca novel ‘Bumi Manusia’ sekitar tahun 2000, cetakan awal yang diterbitkan Hasta Mitra dengan sampul warna putih tanpa lukisan orang naik kereta kuda. Saya mendapatkannya dari Edijushanan, pengarang novel ‘Jantan’, senior saya di Singdanglaut Cirebon. Saya sudah lupa alur cerita novel ‘Bumi Manusia’. Hanya karakter-karakter utamanya yang saya ingat, itupun lamat-lamat. Karakter Darsam misalnya, hilang dari ingatan saya. Juga karakter Jean Marais, pelukis asal Perancis, teman baik Minke itu.  

Maka ketika menikmati ‘Bumi Manusia’ dalam wujud visual layar lebar, ingatan saya seperti dibangkitkan lagi. Dengan begitu saya tak mencoba membanding-bandingkan novel dengan filmnya. Lagi pula tak adil juga membandingkan dua media berbeda meskipun manyajikan materi yang sama, kan?  

Tetapi, berbekal ingatan yang lamat-lamat tentang novelnya, pikiran saya tetap saja bekerja sendiri membandingkan suasana yang muncul dalam imajinasi dari novel tersebut dengan penggambaran yang disajikan Hanung di layar, dan saya merasa tidak terlalu mengecewakan. Hanya warnanya kurang vintage, dan yang rada canggung adalah ketika Annelies memeriksa dan mencatat bumbu dan sayur-mayur yang dipanen petani penggarap sawahnya. Tapi mungkin begitu cara anak juragan bekerja.

Aris Kurniawan

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update