oleh

Aris Kurniawan, KTI: (Tak) Goyah Menghadapi Trauma

Sebelum diputar di jaringan bioskop komersial pekan pertama Ramadhan kemarin, film ‘Kucumbu Tubuh Indahku (KTI): Memories of My Body’ (selanjutnya Kucumbu) garapan Garin Nugroho dihadang kontroversi. Sekelompok orang menolak pemutaran film ini karena dianggap mengandung unsur LGBT. Bahkan Wali Kota Depok tegas-tegas menuduh ‘Kucumbu’ mempromosikan LGBT. Dia melarang bioskop-bioskop di kotanya memutar film ini. Petisi daring penolakan film ini juga berhasil menjaring ribuan orang yang menandatangani.

Kontroversi biasanya justru memancing rasa penasaran orang untuk menontonnya. Tetapi itu tak terjadi pada ‘Kucumbu’. Seperti film Garin yang lain—yang bukan tema LGBT— ‘Kucumbu’ hanya diputar di sedikit layar dan bertahan beberapa hari di bioskop. Jumlah penonton yang berhasil dikumpulkan berkisar antara 50-60 ribu orang sahaja. Saya salah satu dari 50-60 ribuan-an orang itu. Saya menontonnya di XXI TIM. Di luar ketertarikan pada isu LGBT, saya memang menggemari karya-karya Garin. Maka saya tak melewatkan begitu saja saat datang kesempatan kedua menonton film tersebut di Goethe Haus yang berjarak kurang dari sekilo dari kamar sewa saya. Apalagi Garin juga hadir memberi diskusi seusai pemutaran.

Sebelum diputar di Indonesia ‘Kucumbu’ lebih dulu diputar di beberapa negara di Eropa dan memenangi penghargaan di sejumlah festival internasional. ‘Kucumbu’ memang mengusung tema sensitif itu. Menuturkan tentang trauma tubuh yang dialami Arjuno atau Juno yang merujuk kepada kisah hidup Riyanto, seorang penari di sebuah desa di Jawa Tengah yang memiliki tradisi tari lengger lanang. Riyanto menjadi narator dalam film yang terdiri dari beberapa bagian ini. Dia membuka setiap bagian dengan tuturan dalam bahasa Jawa ngapak. Ini bahasa yang dipergunakan masyarakat Jawa Tengah bagian barat, khususnya Banyumas, Purbalingga, Gombong, Kebumen, Purwokerto, Tegal dan sekitarnya. Bagi yang tak terbiasa, pengucapan bahasa Jawa ngapak ini terdengar kocak. Seserius apa pun tema atawa soal yang dibicarakan.

Tetapi saat menonton film ini, mendengar Riyanto dan para pemain menggunakan bahasa ini, cita rasa kocak timbul tenggelam dengan kepedihan, kemarahan, kemasygulan. Keduanya meruyak dalam tempo berhimpitan.

Setiap akhir bagian film menyajikan kekerasan atas tubuh yang meninggalkan trauma. Mulai dari tubuh seksual, tubuh personal, tubuh sosial, tubuh seni, hingga tubuh politik. Trauma tubuh seksual dialami Juno saat kanak. Setelah kehilangan ayahnya yang terkait Partai Komunis Indonesia, Juno belajar menari di rumah seorang guru tari (Sujiwo Tejo). Di sanalah dia melihat kekerasan atas tubuh seksual untuk pertama kalinya. Sang guru membunuh selingkuhan istrinya dengan cara menghantamkan linggis berulang-ulang ke kelangkang korban hingga tewas.

Setiap bagian ‘Kucumbu’ disajikan dengan pola pengisahan yang sama. Sebelum kekerasan traumatik atas tubuh dieksekusi, kisah berangkat dari hal-hal sehari-hari yang biasa kita alami dan lihat dalam kehidupan masyarakat desa di Jawa. Setelah kekerasan yang mencekam dan menggelisahkan itu, ditutup dengan tembang yang nglangut dan mengentalkan kepedihan dan kehampaan dalam benak kita.

Puncak kekerasan itu terjadi saat Juno dewasa dan menjadi gemblak seorang Warok. Seorang calon bupati yang cemburu kepada Sang Warok mengirim seseorang untuk duel dengan Sang Warok. Duel jarak dekat menggunakan celurit itu terjadi di ladang jagung. Sang Warok memenangi duel maut itu. Juno melihat Sang Warok mencarok lawannya hingga tewas berlumur darah. Juno shock, trauma kekerasan mencekam jiwanya.      

Cara bertutur ‘Kucumbu’ berpusat pada Juno dan bergerak secara linear. Sub plot yang muncul pada setiap bagian berfungsi mempertegas benang merah trauma kekerasan atas tubuh yang disaksikan dan dialami Juno, berurutan, sambung menyambung. Bagi saya ini film Garin yang sangat mencekam meski adegan kekerasan tak dipertontonkan secara vulgar.

Jadi sesungguhnya isu sentral ‘Kucumbu’ bukan tentang LGBT, melainkan isu kekerasan atas tubuh. Film ini memang jadi nggladrah bagi Anda yang ingin melihat bagaimana kisah film ini menangani ke-gay-an Juno. Isu LGBT pada dirinya sendiri di film ini tampaknya memang sudah selesai. Yang belum—dan tak akan pernah— selesai adalah ketidakadilan yang dihadapi kaum minoritas seksual itu.

Ketidakadilan tentu saja bisa terjadi dan dialami kelompok mana pun. Tetapi kelompok minoritas merupakan yang paling rentan mengalami ketidakadilan. Penghakiman masyarakat tanpa proses dialog terhadap ‘Kucumbu’ misalnya, dapat ditunjuk sebagai contoh nyata dari ketidakadilan itu. Tanpa merasa perlu menonton untuk memahami filmnya lebih dulu, orang bisa langsung menghakimi. Persis seperti Orde Baru dulu melarang peredaran novel Bumi Manusia tanpa perlu lebih dulu membaca isi novelnya.

“Setiap tubuh memiliki traumnya sendiri,” kata Garin dalam diskusi seusai pemutaran film. Dan kekerasan atas tubuh terjadi karena kuatnya ketidakadilan. Itu yang menjadi kegelisahan Garin dan mendorongnya membuat film ini. Kegelisahan bagi seorang seniman atau profesi apa pun menandai penghayatan manusia atas hidupnya, yang memicunya melahirkan karya. Garin memang sineas dengan talenta yang lumayan langka di negeri ini.

Bukan hanya karena karya-karyanya yang kerap mengolaborasikan berbagai disiplin seni, mulai tari, teater, musik dan lagu, hingga sastra. Garin juga penulis produktif. Komentar sosial yang jempolan. Buku terbarunya adalah ‘Nagara Melodrama’ yang menyoroti kecenderungan masyarakat kita menanggalkan nalar kritis ketika memberi dukungan kepada pemimpin politik. Kecenderungan tanpa nalar menjatuhkan mereka menjadi masyarakat melodrama. Menjadi penggemar, bukan warga negara yang rasional.

Penandanya mereka akan marah apabila ada yang mengkritik presiden atau pemimpin politik yang mereka dukung. Sekalipun kritik dilancarkan memliki pijakan argumentasi logis. Bagi masyarakat penggemar, apa pun yang dilakukan tokoh idola selalu benar. Para pengkritik dianggap golongan pembenci. Itulah yang terjadi sekarang ini di negeri kita. Polarisasi tak kunjung surut bahkan setelah pilpres berakhir. Perbantahan dan saling caci masih marak di ranah media sosial. Apa saja yang berbeda akan jadi sasaran caci maki dan pelarangan. Buku-buku, pementasan, tema diskusi, film akan menghadapi pelarangan dan pembubaran saat dianggap menyempal dari norma-norma ‘moral’ mayoritas.

‘Kucumbu’ menandai 38 tahun Garin berkarya. Film panjang pertamanya, ‘Cinta dalam Sepotong Roti’ (1990) pada masanya dianggap mendobrak cara bertutur film Indonesia. Film-filmnya bertumpu pada kegelisahan intelektual bukan pesan-pesan moral. Dari tangannya bisa lahir film ‘Rindu Kami Padamu’ (2004) yang memotret kehidupan masyarakat lapis bawah di sebuah pasar; Soegijapranata (2012), uskup lokal Indonesia pertama dan pejuang kemerdekaan; hingga ‘Guru Bangsa Cokroaminoto’ (2015) tentang pemimpin gerakan Islam pertama di Nusantara ‘.

Bila Juno menyerah menghadapi trauma, Garin sebagai seorang intelektual yang akan selalu menjadi agen perubahan bagi lingkungannnya, tak pernah jera menghadapi penolakan. Jalan yang ditempuh kaum intelektual memang jalan sunyi yang sangat berisiko untuk ditinggalkan. Namun Garin menempuhnya dengan gembira sambil sesekali mengejek diri sendiri.   

Aris Kurniawan

Banner IDwebhost

Komentar

News Update