oleh

Goyang Mantul, Kreativitas Seni atau Dekadensi Moral?

Goyang mantul dua penyanyi cantik dalam Duo Semangka semakin hangat menjadi buah bibir. Lantaran, goyangannya yang kerap kali menonjolkan bagian buah dadanya dengan gerak yang seolah memantul-mantul tersebut dinilai seronok dan vulgar. Sampai akhirnya, Kamis 22 Agustus 2019, dua artis cantik itu dipanggil Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Dari hasil pertemuan tersebut, KPAI meminta Duo Semangka sebagai bagian dari pekerja seni yang memiliki pengaruh dan penggemar yang cukup banyak di masyarkaat agar segala aktivitas seni yang ditampilkan memperlihatkan azas-azas kepatutan dan kesusilaan.

Melihat pernyataan dari KPAI yang meminta agar Duo Semangka dalam melakukan aktivitas keseniannya tampil memperlihatkan azas-azas kepatutan dan kesusilaan, jelas ada sesuatu yang dinilai tidak pantas oleh KPAI.

Apa yang dipermasalahkan oleh KPAI dalam prilaku seni Duo Semangka ini, sepertinya berakar pada seni gerak tubuh atau koreogfrafi yang ditampilkan. Gerakan tubuh dalam koreografi atau seni tari berisi ungkapan perasaan, pemikiran, maksud dan tujuan. Dalam seni tari terdapat musik pengiring yang menjadi pengatur gerakan penari serta memperkuat maksud yang ingin disampaikan dari tarian tersebut. Seni tari sendiri adalah perpaduan dari beberapa unsur wiraga (raga), wirama (irama), dan wirasa (Rasa) yang melebur dan membentuk sebuah koregrafi indah dan harmonis.

Kalau kita cermati antara goyang mantul dengan apa yang dilakukan oleh KPAI terkait prilaku seni Duo Semangka tersebut, perlu adanya pemahaman tentang apa itu seni yang sesungguhnya. Dan, itulah pentingnya kuratorial dalam sebuah karya seni.

Nah, jika melihat karya seni yang dilakukan oleh Duo Semangka, dalam sebuah karya seni yang dipertunjukkan belum memiliki tiga unsur: dalam artian baru ada pemain atau seniman yang dalam hal ini artis dan penonton saja. Unsur ketiga, yaitu kritikus atau kurator tidak ada di situ. Sehingga, ketika ia tampil, baik secara panggung atau pun dalam bentuk video selalu memunculkan kehebohan-kehebohan, yang oleh pelakunya sendiri: entah disengaja atau tidak disengaja telah munculah hal-hal yang dinilai menyimpang serta di luar kepatutan dan kesusilaan.

Pun demikian, dalam pengertian, jenis, fungsi dan tujuan seni tari lewat koreografi Duo Semangka cukup berhasil. Karena, gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran sukses dan sampai kepada penikmat. Begitu pun, bunyi-bunyian yang disebut sebagai musik pengiring koreografi yang mengatur gerakan Duo Semangka dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan, sudah sesuai dengan kaidah sebuah karya seni tari, seni berjoget atau seni bergoyang.

Hanya saja, penikmat sulit untuk mendifinisikan apa yang ingin disampikan oleh goyang mantul Duo Semangka tersebut, kecuali hanya bentuk dadanya yang bergoyang hebat dan vulgar, dan sangat tidak cocok jika disaksikan oleh anak-anak di bawah umur. Karena bisa merangsang prilaku negatif yang berlebihan.

Lalu, apakah goyang mantul Duo Semangka ini sebuah kreativitas seni? Atau bagian dari gejala dekadensi moral yang memboncengi sebuah seni gerak tubuh yang dikemas untuk kepentingan hiburan?

Widi Hatmoko
Seniman dan Pemerhati Budaya

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update