oleh

Inilah Kreativitas Seni Campursari di Kota Seribu Pabrik

LENSAPENA – Musik campursari adalah jenis musik kontemporer yang berakar pada seni musik gamelan Jawa. Tembang campursari pertama kali dilantunkan oleh Manto’s, seniman asal Wonosari, DI. Yogyakarta. Seiring perjalanannya campursari berkembang pesat dengan berbagai kreasi: mulai dari campusari dangdut, pop, koplo hingga hampir semua jenis musik dikolaborasikan.

Para penyanyi campursari ini pun mulai bermunculan. Pada awal tahun 2000-an, Didi Kempot namanya mulai melambung dengan lagi ‘Sewu Kuto’. Lalu Sony Josz dengan tembang ‘Sri Minggat’. Disusul Cak Dikin, dan banyak lagi generasi berikutnya.

Seiring perjalanan waktu, tidak hanya di daerah asalnya, di Tangerang-Banten, kesenian ini pun berkembang pesat. Puluhan, bahkan hampir ratusan grup campursari menjamur hampir di setiap kecamatan, desa dan kelurahan. Pelakunya adalah para seniman urban yang memang menggantungkan hidupnya di Kota Seribu Pabrik tersebut. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Ada yang berangkat dari buruh pabrik, pekerja bangunan, tukang baso, tukang jamu bahkan pengamen jalanan.

Kini, seni campursari menjadi kesenian rakyat yang hampir di setiap resepsi hajatan selalu ditampilkan di wilayah Tangerang dan sekitarnya. Bahkan, pada momentum Agustusan atau Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI), dan pada tahun ini berbarengan dengan ‘Bulan Besar’, penyanyi dan pemain campursari ini banjir ‘job’. Bulan Besar adalah bulan dimana banyak orang mengangkat hajat, dan menanggap hiburan campursari.

Kreativitas seni campursari di Tangerang ini pun semakin berwarna. Mereka tampil dengan berbagai ‘performa’ yang memikat. Ada yang menampilkan tokoh punokawan. Ada pula yang menyuguhkan tokoh pewayangan seperti Arjuna, Srikandi, Gatotkaca, serta tokoh legenda seperti Joko Tarub, Joko Tingkir dan lain sebagainya.

Salah satu campursari yang menampilkan tokoh ‘superhero’ lokal ini adalah ‘Mbangun Karso’. Campursari yang dipromotori oleh Widi Hatmoko rersebut, sengaja mengkreasikan seni campursari ini dengan gaya dan penampilan yang berbeda. Dengan tujuan, ingin membumikan tokoh ‘superhero’ lokal kepada masyarakat.

“Ketika tampil di panggung, campursari ini kan tidak hanya dilihat oleh kalangan tertentu, tetapi semua golongan, termasuk anak-anak. Dengan kita menampilkan tokoh-tokoh Punokawan, Pewayangan atau tokoh legenda, berarti kita telah menularkan virus positif kepada masyarakat, terutama jika anak-anak ikut menontonnya. Karena, ‘Mbangun Karso’ ini lebih mengedepankan estetika seni dengan nilai-nilai kearifan lokal. Bukan sebagai seni yang urakan dan terkesan erotis di atas panggung,” ujar Widi Hatmoko, Rabu 27 Agustus 2019.

Menurut Widi, penyanyi campursari adalah sebuah obyek atau lakon, yang ketika tampil tidak hanya dituntut bisa memberikan hiburan, tetapi ada pesan positif, dan secara budaya memiliki nilai-nilai yang membangun peradaban.

Red

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE