oleh

Menghirup Aroma Bakau di Tanjung Rappa Pelangi

LENSAPENA – Tanjung Rappa Pelangi di Desa Wisata Bobanehena, Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara, tak menawarkan hamparan pasir putih. Melainkan bongkahan bebatuan bekas letusan gunung berapi berabad-abad silam di sepanjang garis pantainya serta pemandangan hijau perbukitan sejauh mata memandang di seberang.

Di balik bongkahan bebatuan yang dipagari pohon-pohon bakau itu tersembunyi taman yang asri nan teduh menaungi beberapa bangunan resort yang disewakan bagi pengunjung yang ingin mereguk keindahannya sepanjang waktu.

Lebih menjorok ke daratan masih dalam naungan aneka pepohonan terdapat kedai-kedai yang menawarkan aneka kuliner khas Halmahera Barat, seperti popeda—orang Jakarta menyebutnya papeda— dan goreng pisang mulut bebe. Di sanalah kami duduk mengudap goreng pisang yang dimasak dengan cara diiris tipis-tipis memanjang sehingga mirip keripik namun masih terjaga keempukan dagingnya. Sebelum disantap pisang dicocolkan lebih dulu ke sambal.

Kami mengudap sambil menyimak Iswan, Kepala Desa Bobanehena, bertutur perihal Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang mengelola Pantai Rappa Pelangi. “Pokdarwis belum genap dua tahun dibentuk untuk mengelola Pantai Rappa Pelangi,” kata Iswan seperti meminta pemakluman kami tentang fasilitas yang disediakan pengelola.

Pantai Rappa Pelangi hanya memiliki satu pintu masuk—yang sekaligus jadi pintu keluar. Itu yang acap membuat penumpukan terutama saat ramai pengunjung pada momen-momen liburan.

“Dengan bantuan Dinas Pariwisata Pemkan Jailolo kami akan membuat satu lagi pintu keluar dan menata tempat parkir,” terang Iswan.

Selain itu Pokdarwis akan mengembangkan kedai-kedai untuk menyajikan lebih banyak kuliner khas Jailolo, termasuk aula untuk kegiatan yang bisa menampung lebih banyak orang. Saat ini memang hanya ada beberapa kedai dengan fasilitas terbatas. Begitu juga aulanya.

Sore itu, ketika kami ke sana, sedang ada demo masak dengan chef kenamaan dari Jakarta. Pesertanya termasuk ibu bupati. Yang agak mengharukan bagi kami adalah mereka memasak menggunakan kompor minyak. Kata kawan yang mengantar kami selama di Jailolo, hanya 5% masyarakat di Jailolo yang memasak menggunakan kompor gas, selebihnya masih menggunakan kompor minyak bersumbu 20! Jadi Anda bayangkan sendiri butuh berapa lama sang chef mematangkan masakannya.

Selain resort di balik rumpun bakau di atas tanah, ada beberapa resort lagi yang dibangun di atas pantai. Resort-resort yang hampir sepenuhnya dibuat dari kayu ini disangga dan dihubungkan jembatan yang juga disusun dari kayu yang dibangun di sepanjang garis pantai. Pengunjung pantai dapat menikmati keindahan pantai Rappa Pelangi dari jembatan ini. Waktu kami ke sana akhir Juni lalu—saat Festival Teluk Jalolo ke11 sedang digelar— tampak anak-anak menggunakan jembatan kayu ini untuk arena melompat ke laut berair biru jernih di bawahnya.

Sayangnya resort-resort ini belum dilengkapi toilet. Penyewa harus ke darat lebih dulu untuk ke toilet. “Ke depan kami akan melengkapi resort dengan toilet dan fasilitas lainnya untuk kenyamanan tamu. Kami yakin bila resort di atas pantai ini sudah dilengkapi toilet dan fasilitas lainnya, akan banyak tamu yang menyewa,” kata Iswan.

Dibanding pantai yang lain, pantai Tanjung Rappa Pelangi paling mudah dijangkau dari Pelabuhan Speedboat Jailolo. Hanya 10 menit menggunakan betor (becak motor). Ongkosnya hanya 10 ribu. Tapi bagi kami rada ngeri membayangkan sopir betor mengerem mendadak saat betor sedang melaju kencang, penumpang yang tak bersabuk pengaman—betor memang tak menyediakannya—bisa langsung terdorong jatuh ke depan. Sama ngerinya saat naik speedboat tanpa pelampung.

Jadi bagi Anda yang tak nyaman naik betor, bisa naik ojek motor biasa. Atau menyewa mobil untuk mencapai Tanjung Rappa Pelangi yang nyaris semua sudutnya sangat elok untuk foto, orang menyebutnya instagramable.

Aris Kurniawan

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update