oleh

Celoteh Kecil dari Sudut Lorong Pengap dan Sempit

Belum lama ini rakyat dibawa dalam situasi politik yang cukup menguras energi. Di Pemilihan Legislatif misalnya, kita diperlihatkan dengan banyak hal. Dari yang ruwet sampai yang tidak lumrah. Kepentingan politik membuat tak sedikit rakyat ikut-ikutan ‘baper’, karena kerasukan mimpi politikus yang setiap hari mempropagandakan diri pengen duduk di kursi dewan.

Ditemukan Ketua RW dan RT hingga orang-orang yang seharusnya tampil netral, ikut-ikutan ‘nyemplung’ jadi tim sukses.’ Clamitan’ ke para caleg yang terlihat tajir. Menjadi oknum, suara rakyatnya digadaikan tanpa malu-malu alias ‘rai gedek’. Jalan-jalan cor dan segala pembangunan disiarkan sebagai hasil kerja nyata calon jagoanya (caleg uncumbent tapi ya?). Padahal itu dibangun dari uang APBD, dan sudah semstinya menjadi hak yang harus dinikmati masyarakat. Eh, diklaim! Bajindul!

Ada yang lebih miris lagi. Seorang oknum Ketua RW ‘kesandung’ lantaran ‘ngentit’ isi amplop dari Caleg. Niat hati ‘bermoney politic’ untuk ‘serangan fajar’, amplop isi Rp50 ribu ditilep Rp25 ribu. Di sini, Ketua RW sebagai perpanjangan tangan pemerintah saja sudah belajar ‘ngapusi’. Bagaimana jika diberikan tanggung jawab kekuasaan yang lebih besar. Bisa-bisa volume ‘gorohnya’ malah semakin digeber sampai ke langit.

Ketua RW sontoloyo ini terciduk ketika wayah Magrib ngider alat peraga kampanye Caleg. Ini mungkin hanyalah satu dari sekian banyak oknum yang muncul kepermukaan. Karena apes saja, nyopet amplop dari caleg ‘ngiler’ dan kebelet jadi anggota dewan yang mau coba-coba ‘bermoney politic’ tapi malah ‘ciluk ba’. Buat sang caleg, uangnya diporotin, jadi juga enggak.

Tapi, memang begitu. Katanya, Nyaleg, apalagi bagi yang pernah jadi dan bergulat dalam kubangan politik kotor, ‘bermoney politic’ itu bikin tuman. Mesti ‘keok’ pun, tetap saja tuman.

Lalu, gejala apa ini? Dekadensi moral! Nilai-nilai kepatutan sudah tidak lagi dianggap penting.

Sebagai rakyat yang hidup di lingkungan paling kecil, sepertinya tak perlu terlalu jauh melihat pejabat yang level-nya sudah ‘selangit’. Biar lah itu menjadi urusan para elit yang di atas sana. Karena, berkuar sekeras apa pun, bahkan sampai ‘ubun-ubunnya jebol’, hanya akan buang-buang energi saja.

Jatah kita adalah, bagaimana agar kekuasaan terkecil, meskipun di sudut lorong pengap dan sempit, bisa memberikan dampak yang baik kepada masyarakat di lingkungannya. Baik secara ekonomi, sosial, budaya maupun moral. Karena, dengan kita membangun masyarakat yang beradab di lingkungan terkecil di lingkungan singgah kita, sudah sama dengan membangun negara. Dan, untuk membangun atau membenahi hal yang besar, harus dimulai dari hal-hal kecil yang kerap dianggap sepele.

Widi Hatmoko

Setiap karya tulis opini yang diunggah pada kanal ESAI lensapena.id ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini. Dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update