oleh

Cerita Pendek: Maling-maling Sapi

Malam Jum’at. Langit pekat. Tak ada cahaya rembulan, apalagi kerlip bintang. Semua tertutup mendung yang sedari sore sudah memayungi jagat. Suara bangkong bersahut. Irama jangkrik pun mengerik. Mengisyaratkan kehidupan di kampung itu masih seperti kemarin, kemarinnya dan kemarinnya lagi.

Selalu begitu memang. Jika malam Jum’at, apalagi mendung, gerimis, atau hujan, kampung ini nyaris tak bergeliat. Para penghuninya lebih suka masuk ke dalam kamar sore-sore, ketimbang melek di luar rumah.

Mungkin ini juga salah satu penyebab populasi manusia dan angka kelahiran dari tahun-ketahun di kampung ini semakin melangit. Lihat saja: Lik Mirsan anaknya dua belas, Pak Suwito anaknya delapan dan Kang Warso anaknya Sembilan. Malah isterinya sedang mengandung lagi lima bulan. Sepertinya, program keluarga berencana pun hanya berseliwaran di telinga saja.

Di antara semarak nyanyian binatang sawah, empat pasang mata tajam menembus kegelapan. Satu orang diantaranya berbadan kekar, rambutnya ikal, berkulit hitam dan beralis tebal. Usianya sekitar empatpuluh lima tahun. Satu orang lagi badannya tinggi, rambutnya cepak dan matanya sipit—jauh lebih muda dari orang pertama. Satu orang berikutnya bertubuh tambun, rambutnya beruban—lebih muda sedikit dari orang kedua. Satu orang lagi, yaitu yang terakhir, berkulit putih, bermata sipit, berbadan kerempeng, serta punggungnya agak sedikit bongkok.

Diam, tak satu mulut pun bersuara. Yang ada hanya kebulan-kebulan asap yang tak terlihat oleh mata, dan hanya menebarkan aroma tembakau semprul tanpa merek.

Setelah itu, perlahan mengendap-endap meninggalkan puntung-puntung rokok lintingan yang sudah membekaskan sampah di sekitar kebon singkong, di bibir sawah tadah hujan. Melangkah, pelan. Sengaja, mereka bergerak menunggu teriakan pertama kokok ayam jantan. Bukan tanpa sebab, mungkin dalam pikirannya, saat itulah orang-orang seisi kampung sudah benar-benar lengah, terlelap bersama mimpi indah usai menafkahi batin para isteri-isterinya.

”Kawan, mari kita bergerak. Orang-orang seisi kampung sudah lelap. Ya, mereka sudah pada tepar usai bergelut dengan isteri-isterinya,” kata lalaki-laki yang berbadan kekar, rambutnya ikal, berkulit hitam, dan beralis tebal.

”Siap, Kang! Sepertinya memang begitu. Biarlah mereka yang menikmati pahala membunuh manusia kafir. Kita cukup menikmati hasil dari sapi-sapi mereka,” pungkas laki-laki yang berkulit putih, bermata sipit, berbadan kerempeng dan punggungnya agak sedikit bongkok.

Carang-carang bambu pagar pembatas pekarangan rumah besar berwarna cream ringsek diterobosnya. Lalu berpencar; satu orang pertama menyelinap, berjaga-jaga di sudut rumah yang mengarah ke jalan besar, dua orang berikutnya menghampiri kandang sapi di belakang rumah, sedangkan si bongkok tetap pada pagar pembatas pekarangan. Mereka bergerak, celingukan, pelan namun pasti.

Dalam beberapa menit pun dua orang sudah kembali dengan dua ekor sapi-sapi yang gemuk. Satu orang yang mengawasi di sudut rumah yang mengarah ke jalan raya juga segera merapat di antara ketiganya. Entah, bagaimana mereka bisa begitu cepat menyeret sapi-sapi ini keluar dari kandangnya? Dengan cara apa pula sapi-sapi itu ‘manut’ di tangan-tangan mereka? Tentu saja, hanya mereka yang tahu.

”Sip Kang, ayo bergeser,” kata laki-laki yang berkulit putih, bermata sipit, berbadan kerempeng dan punggung agak sedikit bongkok. Diikuti tiga orang yang lain, bergerak menyeret sapi-sapi itu.

Sekomplotan maling dengan dua ekor sapi itu pun melesat dengan cepat—berlari ke arah utara—dan menghilang dalam gelapnya sisa malam. Disusul teriakan wareng untuk yang ke dua kali, ke tiga dan terus bersahut-sahutan sampai semburat jingga mengelus pagi, menggerayangi dan perlahan-lahan menelanjangi seisi jagat yang sejenak dibalut gelapnya malam.

Terang saja, Jum’at pagi itu, seisi kampung menjadi geger. Rumah besar berwarna cream itu langsung penuh dengan kerumunan warga. Bayan, sesepuh kampung tergopoh-gopoh ke arah rumah besar yang sapinya digondol maling itu. Sebentar melongok ke dalam kandang sapi yang sudah kosong, lalu merangsek masuk menerobos kerumunan warga ke dalam rumah, menemui sang pemilik sapi yang apes, usai digasak maling.

Ia yang paling banyak nyerocos. Kadang-kadang juga sok tahu.

”Kang, cepat bikin laporan kehilangan ke Kantor Polisi!” Suara sang Bayan.
”Untuk apa lapor ke Kantor Polisi, buang-buang waktu saja!” Jawab seorang yang berperawakan tinggi besar dengan kulit hitam.
”Loh, bagaimana ini?” Si Bayan kembali menimpali dengan nada yang tak kalah keras.
”Sudahlah Pak Bayan, tak perlu lapor Polisi! Mendingan, sekarang kita kejar maling-maling itu sebelum jauh dan menghilang entah ke mana. Ayo saudara-saudara, kita ganyang maling-maling bedebah itu!” Pungkas laki-laki tinggi besar dengan wajah membringas, menggerakkan para warga.

Tanpa banyak bicara lagi para warga pun langsung bergegas di bawah komando laki-laki ini. Dengan garang pula mereka membawa alat seadanya. Ada yang membawa linggis, golok, dan juga arit. Sebuah balokan kayu yang ada di sekitarnya, juga mereka sahut semau-maunya. Mereka berjalan mulai dari kandang sapi, menerobos pagar yang ringsek, lalu menapaki ladang-ladang singkong, serta sawah tadah sebelum memasuki jalanan ladang yang mengarah ke Kampung Teluk Jukung. Berjalan mengikuti jejak-jejak kaki sapi. Sesekali mengumpat.

”Bedebah, kita gasak maling-maling sapi itu sampai modar!!” Teriak mereka.

Pagi pun semakin buyar, hiruk-pikuk penghuni kampung masih terus berdatangan ke lokasi kandang. Ada yang sekadar menonton. Ada juga yang langsung menyusul warga lain yang telah jauh entah sampai mana.

”Duh Gusti, apa salah hamba? Mengapa harus ada manusia-manusia tak berperasaan menggasak harta saya. Bukankah engkau tahu Tuhan, sapi-sapi itu aku pelihara dengan baik agar kelak bisa menghasilkan uang? Uang-uang itu akan aku gunakan untuk membiayai anak-anakku.” Tak diam-diam isteri si punya sapi meratap penuh kesedihan.
”Sudahlah mbakyu, kita percayakan saja sama orang-orang di sini. Lihat saja, mereka begitu turut prihatin dan sudah kompak akan membantu mengejar maling-maling itu.” Seorang ibu dengan wajah yang nampak kuyu menguatkan hatinya.
”Aduh..aduh, percaya sama orang-orang di sini? Hm, musyrik kali!” Dalam hati seorang perempuan lagi dengan kalung serta gelang emas imitasi yang gemerincing.

Sementara, sepanjang perjalanan para pemburu maling dengan garang mengumpat-umpat semau-maunya.
”Lihat saja jika tertangkap, saya slumbat perutnya pakai linggis!”
”Ya, akan saya sembelih seperti menyembelih sapi!”
”Huss, jangan sembrono! Jangan main hakim sendiri. Negara ini negara hukum, dan yang salah harus dihukum. Bukan dihakimi sendiri begitu. Kita bawa saja ke Kantor Polisi, beres kan?”
”Kantor Polisi? Ah, seperti tidak tahu saja kelakuan Polisi-Polisi di sini!”
”Heleh, tak usah berburuk sangka. Tidak semua Polisi moralnya bobrok!”
”Hm, mentang-mentang saudaramu Polisi ya?”
”Sudah lah, kita lihat saja nanti.”

Bumi berputar semakin ke timur. Pijar matahari semakin terik mendekati ubun-ubun kepala. Sementara, langit yang membiru dengan beberapa gerombol awan menyerupai wedus gembel yang berlarian diseruduk angin, turut mengiringi parjalanan kaki-kaki garang memburu maling. Ya, pemburu-pemburu maling yang sudah semakin jauh melangkah meninggalkan Gunung Terang, melewati Teluk Jukung—Telunglawe—bahkan empat kampung di depannya.

Sebuah pesan singkat terkirim lewat Short Message Service pada telpon genggam si punya sapi.
”Kang, kami sudah memasuki kali besar yang dilintasi rel kereta api. Tepatnya, di dekat pemancar yang dicat warna merah-putih dan tinggi menjulang ke langit. Tapi hasilnya nol. Jejak-jejak sapi itu hilang menyeberangi kali.”

Pupus sudah harapan si punya sapi untuk mendapatkan kembali sapi-sapinya.

Memang, begitulah; setiap kali sapi-sapi di Kampung Gunung Terang atau Teluk Jukung dan sekitarnya hilang digondol maling, di tempat itulah perburuan selalu berakhir. Ya, di liukan kali besar yang di atasnya jembatan perlintasan kereta api. Di tempat ini pula jejak kaki-kaki sapi hilang terbawa derasnya arus kali yang mengalir hingga ke hulu.

Orang-orang pun curiga. Mereka menerka maling-maling ini pasti ada hubungannya dengan salah satu penghuni kampong itu. Cukup beralasan memang. Bagaimana mungkin mereka bisa leluasa bergerak, dan seolah tahu kapan orang-orang kampung lengah—jika tak ada yang menjadi penunjuk dari dalam kampung itu?

”Huh! Bedebah, pasti manusia brengsek itu!” Seorang yang berperawakan tinggi besar dan berkulit hitam bersuara dengan nada geram.

”Ya, saya juga sudah menduga. Tetapi nggak mungkin kita menuduh begitu saja tanpa ada bukti-bukti yang kuat,” komentar salah seorang diantaranya.

Pun demikian, sulit memang untuk mengungkapkannya. Kecuali mereka jujur mengakui perbuatannya. Atau, para benoleng ini terciduk saat menggasak hewan ternak itu.

Dukun pun berbicara. Puluhan, belasan, bahkan lebih penerawangannya mengarah kepada orang yang sama. Ya, sama persis seperti manusia yang ada dalam pikiran laki-laki tinggi besar dan berkulit hitam itu. Namun, tak satupun orang yang berani secara langsung menudingnya.

Entah, sampai kapan maling-maling ini akan terus bernasip mujur dan terus menggeret sapi-sapi di kampong itu? Atau, sampai ia mati dan sampai ia tak akan pernah mendapat perlakuan hukum bikinan manusia di negeri ini? Atau malah akan menurunkan generasi-generasi berikutnya yang lebih hebat, lantaran jaman semakin canggih yang memudahkan para maling ini semakin jitu, sementara hukum tak sanggup menjamah sepak terjang generasi sebelumnya?

*

Sampai akhirnya, wajah kampung itu pun berubah. Ladang-ladang singkong yang selalu menjadi saksi bisu setiap gerik para maling, menjadi hamparan perkebunan karet dan kelapa sawit yang sangat luas. Sampai Kampung Gunung Terang ini juga berganti nama untuk yang ke tiga kalinya; setelah Bondo Joyo, Gunung Terang, lalu menjadi Mekar Jaya—maling-maling itu pun tak pernah terungkap. Hanya maling-maling itu yang tahu, siapa yang menjadi maling sapi sesungguhnya.

Sementara, prasangka buruk warga yang dari tahun ke tahun tak pernah mendapatkan kebenaran itu, hanya menurunkan prasangka baru yang menyebutkan keturunan orang yang disangkakan sebagai maling sapi itu adalah keturunan maling.

Oleh: Widi Hatmoko
Satelit DKI 08 Januari 2011

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update