oleh

Seniman Urban dan Wujud Semangat Gotong Royong

Semprul adalah akronim dari Seniman Berkumpul. Pelakunya para seniman urban, penggiat seni musik kontemporer campursari. Warga Semprul datang dari latar belakang yang berbeda. Buruh pabrik, pekerja serabutan, ada juga tukang jamu. Tak hanya pelaku seni, Semprul juga terbuka. Di dalam Semprul ada orang-orang penggembira seni, yang tak harus ‘nyanyi, ngendang, atau berkesenian, yang penting ‘guyub rukun’.

Jelang Pemilu lalu, Semprul sempat menjadi salah satu kelompok yang ‘dilirik’ oleh pemangku kepentingan (politik). Kasak-kusuk, ‘slempat-slempit’ ada saja yang menyusup untuk menarik simpatik warganya. Trik dan intrik, bermanufer penuh harapan. Entah terorganisir atau tidak, geliat itu terlihat ada.

Ketua Semprul, Edi Supriyadi menjelaskan, Semprul adalah wadah para seniman (campursari). Selebihnya adalah gerakan kemanusiaan. Dipersatukan dalam Cipta, Rasa dan Karsa, kata Edi, Semprul ingin menjadi miliki semua golongan, bukan kelompok tertentu. Itu pula yang menjadikan organisasi seniman urban (campursari) ini selalu meluangkan waktu di sisa berkeseniannya untuk berbuat kepada sesama.

Ketika gempa mengguncang Wonosari-Yogyakarta, Lombok, Banten, dan tsunami menyapu beberapa wilayah di Selat Sunda, Semprul tak hanya diam. Lewat karya campursari, ia sumbangkan tenaga dan pikirannya untuk bisa membantu. Panggung kemanusiaan digelar. Receh demi receh dikumpulkan dalam semangat membangun peradaban.

“Kita tidak pandang bulu, selagi kita bisa berbuat, kita akan hadir untuk semua. Terutama untuk saudara-saudara kita yang terkena bencana, dan dalam kesusahan. Semprul siap membantu,” ujar Adi Supriyadi.

Ketika melihat banyak warga yang kurang beruntung lantaran tak memiliki hunian yang layak, Semprul mencoba hadir untuk mereka. Melalui program Bedah Rumah, Semprul membangkitkan semangat kepada warganya untuk menyisihkan rezeki, keringat dan pikiran mereka. Semprul bukan sekadar warna-warni dalam kehidupan, tetapi juga sebuah semangat kegotong-royongan, semangat membangun peradaban. Semperul belum pernah terang-terangan berbuat untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu.

Namun, di tengah-tengah krisis sosial karena masih kerap terlihatnya kepentingan sekelompok orang yang menjadikan moment kemanusiaan sebagai ajang tujuan ‘tertentu’, akankah Semprul tetap menjadi diri sendiri?

Widi Hatmoko

Setiap karya tulis opini yang diunggah pada kanal ESAI lensapena.id ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini. Dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update