oleh

Sepiring Nasi Putih dan Kelo Mrico Sang Kiyai

Selepas Asar, sebelum Magrib di teras rumah, depan Pondok Pesantren Raudlatul Thalabin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Kurang lebih satu jam saya menunggu untuk bertemu sang kiyai tersohor, karismatik, puitis, dan sosok priyayi Jawa itu.

Selepas Magrib, usai solat bersama dengan para santri di pondok pesantren tersebut, barulah saya bisa bertemu sang kiyai. Saya bersalaman di luar masjid, karena saya tidak berkesempatan untuk bersalaman ‘pas’ setelah Sholat Magrib. Karena saya berada di deretan paling belakang. Maklum, lama menunggu giliran mengambil air wudhu.

Beberapa orang ternyata juga sedang menunggu untuk bisa bercengkerama dengan sang kiyai. Dua orang mengaku dari Lamongan, dan Tuban. Beberapa orang berikutnya dari sekitar Rembang.

Kami masih berada di teras rumah sang kiyai. Tak lama pun, sebut saja namanya cantrik, mempersilahkan kami masuk ke ruang tamu. Beberapa menit kemudian, menyuruh kami untuk masuk ke ruangan di sebelah tengah rumah Jawa dengan ornament kuno itu, yang ternyata ruang makan.

Berbagai hidangan khas pesisir utara Jawa Tengah, menanti di atas meja. Lengkap, lauk pauk serba ikan, tempe goreng, sampai buah pisang siap disantap.

Satu yang bikin ‘ngiler’, yaitu kelo mrico. Kuliner ini adalah makanan khas orang Rembang. Pagi sebelum sowan ke rumah sang kiyai, saya juga menyantap kuliner serupa, yaitu di warung Bu Tri, di pojok seberang Alun-alun Lasem. Pun demikian, meski benyak hidangan yang disuguhkan, makan malam di rumah sang kiyai bersama dengan beberapa orang tamu itu, tetap saja saya memilih kelo mrico.

Hidangan yang satu ini mengingatkan saya pada awal 90-an. Tepatnya saat saya masih menimba ilmu di tanah Lasem. Saat itu saya tinggal di wilayah Desa Jolotundo, di sekitar Pasar Nduwur.

Setelah sholat Isak, saya baru bias secara utuh bertemu dengan Sang Kiyai. Obrolan malam itu saya mulai dengan topik Pancasila.

Menurut penilaian kiyai sekaligus budayawan yang akrab dipanggil Gus Mus itu, selama ini Pancasila hanya dijadikan sebagai alat untuk kepentingan bagi penguasa. Padahal, menurut sang kiyai, jika Pancasila diterapkan secara benar, mulai dari sila pertama sampai sila ke lima, kondisi bangsa akan berjalan baik dan damai.

“Selama ini kan Pancasila itu hanya digunakan untuk kepentingan-kepentingan, terutama untuk kepentingan penguasa. Setiap pejabat itu kalau pidato menyebut Pancasila itu tidak kurang dari 6 sampai 7 kali, tapi ndak pernah diurai. Menyebut silanya itu enggak pernah, sila Ketuhanan yang Maha Esa tidak disebut, Kamunisaan yang Adil dan Beradab tidak disebut, Persatuan Indonesia tidak disebut. Yang disebut hanya Pancasila tok. Apalagi pada zaman Orde Baru,” ungkap Gus Mus.

Jika hal ini masih terus dilakukan, kata Gus Mus, sampai kapan pun, kehidupan bertoleransi yang sesungguhnya sulit untuk terjadi. Apa yang terkandung dalam Pancasila, yang dicetuskan oleh para pendahulu negeri, menurutnya merupakan suatu rambu atau ajakan agar kehidupan bangsa Indonesia bisa tertata dengan baik.

Terlebih jika menyebut sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, menurutnya, karena pada sila ini dijelaskan bahwa semua bermuara pada sang pencipta.

“Selama itu begitu terus, kiamat sampai kurang dua hari juga, ya akan begitu terus. Wong itu sudah sangat indah sekali pendahulu-pendahulu kita bikin itu. Ketuhanan yang Maha Esa, itu kan puncaknya di sana. Orang Indonesia punya Tuhan yang Maha Esa itu, dan itu yang membikin orang yang beradab, berkeadilan, berkemanusiaan dan bersatu dengan orang lain, itu karena ngerti Pengeran, ngerti Tuhan,” paparnya.

Banyaknya permasalahan yang terus menerpa bangsa Indonesia ini juga, menurutnya, karena Pancasila hanya dijadikan simbol, dan alat untuk kepentingan-kepentingan penguasa dan elit politik.

Berbincangan malam usai menyantap hidangan kelo mrico dengan sang kiyai, melebar pada persoalan isu-isu intoleransi.
“Ini tergantung kepada pemerintah, pemerintah tegas apa enggak itu? Kalau bibit-bibit inteloresanis itu dari awal dibiarkan, nanti akan berkembang,” kata sang kiyai menjawab pertanyaan saya.

Terkait banyaknya organisasi-organisasi yang berbasis agama, yang kala itu ramai di media masa, bahkan dinilai sudah mengarah pada intoleransi, Gus Mus berpendapat:
“Saya katakan, agama itu dianggap sebagai tujuan, lalu bikin organisasi keagamaan. Dikiranya agama itu juga ghayah, bukan! Agama itu wasilah, ghayahnya Allah, Tuhan yang Maha Esa. Kalau ghayahnya Tuhan, jadi kecil semua. Pelajari masing-masing itu jangan hanya fanatik pada organisasi keagamannya, tidak hanya pada agamanya. Kalau sampean ini misalnya, ini partai politik sebagai tujuan, orang-orang Indonesia yang tidak satu partai akan Anda musuhi, seolah-olah mereka bukan orang Indonesai. Ketika organisasi Islam Anda anggap tujuan hidup, maka organisasi-organisasi selain Islam akan Anda anggap bukan orang Indonesia,” paparnya.

“Kembali ke Tuhan! Terutama pemimpinnya, semua harus kembali ke Tuhan. Pemimpinnya harus kembali ke Tuhan! Kalau orang itu lupa kepada Tuhan, lupa kepada Allah, Allah akan menjadikan orang itu lupa diri, itu. Sehingga dia lupa dengan dirinya, sampai kadang-kadang lupa saudara, lupa bapaknya, lupa anaknya dan segala macam itu karena lupa Allah. Maka orang-orang beriman tidak boleh melupakan Allah, enggak boleh!” Tegas Gus Mus melanjutkan.

Setelah beberapa saat saya bertatap muka dengan sang kiyai, perbincangan malam usai menyantap kelo mrico itu ditutup dengan permintaan saya terhadap sang kiyai, untuk membacakan bait puisi terbarunya.

“Puisi terbaru saya judulnya Dzikir! Begini;
“Setiap saat, setiap mengingat-Mu aku menyebut-MU..;”
“Setiap saat setiap menyebut-Mu aku mengingat-Mu…”
“Setiap saat…”
“Begitu saja! Hehehe…”

Widi Hatmoko
Catatan Januari 2017

Setiap karya tulis opini yang diunggah pada kanal ESAI lensapena.id ini, menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini. Dan Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update