oleh

Kabasaran Tari Keprajuritan Orang Minahasa

Banner IDwebhost

LENSAPENA – Minahasa adalah adalah nama salah satu kabupaten di wilayah Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten Minahasa beribukota di Tondano.

Selain memiliki puluhan tempat wisata yang unik dan menarik, seperti Danau Tondano, Bukit Pinus di Toliang Uki, Gua Tikus Tasuka, Meseum Pinawetengan, dan Benteng Portugus di Amurang; Minahasa juga memiliki kekayaan tradisi dan budaya yang hingga saat ini masih tetap dijaga kelestariannya.

Baca juga: Polemik Pilkades di Tangerang, Pelapor ke Ombudsman Bertambah 12

Salah satunya adalah Tari Kabasaran. Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata; Wasal, yang berarti ayam jantan yang dipotong jenggernya agar sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung. Para penari Kabasaran ini disebut Kawasaran, yang berarti menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung. Tarian ini juga hampir mirip dengan tarian Cakalele dari Maluku.

Baca juga: Tari Cukin Simbol Harmonisasi dalam Bingkai Budaya

Mengutip dari sumber wikipedia, tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak – babak tersebut terdiri dari :

  1. Cakalele: Ini berasal dari kata “saka” yang artinya berlaga, dan “lele” artinya berkejaran melompat – lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran
  2. Kumoyak: Berasal dari kata “koyak” artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata “koyak” sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.
  3. Lalaya’an: Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari “Lionda” dengan tangan dipinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut “Tumu-tuzuk” (Tombulu) atau “Sarian” (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa sub–etnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, dimana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.

Baca juga: Jelang Pelantikan Presiden, Polresta Tangerang Siagakan 800 Personil

Busana yang digunakan dalam tarian ini terbuat dari kain tenun Minahasa asli dan kain “Patola”, yaitu kain tenun merah dari Tombulu dan tidak terdapat di wilayah lainnya di Minahasa. Seperti tertulis dalam buku Alfoersche Legenden yang ditulis oleh PN. Wilken tahun 1830, dimana kabasaran Minahasa telah memakai pakaian dasar celana dan kemeja merah, kemudian dililit ikatan kain tenun. Dalam hal ini tiap sub-etnis Minahasa punya cara khusus untuk mengikatkan kain tenun. Khusus Kabasaran dari Remboken dan Pareipei, mereka lebih menyukai busana perang dan bukannya busana upacara adat, yakni dengan memakai lumut-lumut pohon sebagai penyamaran berperang.

Baca juga: Diskusi Polemik RUU KPK: Pentingnya Membangun Nalar Kritis Mahasiswa

Tari Kawasaran diiringi oleh suara tambur dan/atau gong kecil. Alat musik pukul seperti gong, tambur atau kolintang disebut “Pa’ Wasalen”. Kata Kawasalan ini kemudian berkembang menjadi “Kabasaran” yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian” “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari. Sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa tersebut.

Perkembangan bahasa Melayu Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, yang sebenarnya tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata “besar” dalam bahasa Indonesia. Namun akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para pembesar-pembesar.

Baca juga: Seruit Menjadi Kuliner Pokok Pesta Adat Lampung

Pada zaman dahulu para penari Kabasaran atau Kawasaran hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani dan rakyat biasa. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari Kabasaran menjadi Waraney (bahasa Minahasa), atau prajurit perang.

Bentuk dasar dari tarian ini adalah sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4 per-4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan. Tiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya yang terdahulu, karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun.

Baca juga: Begini Cara ‘GOOX’ Melawan Sampah dari Produk Impor

Komentar

News Update