oleh

‘Prank’ Budaya Roma Kuno dan Guyonan Kebablasan

Prank, sepertinya sudah menjadi gaya trend anak zaman kekinian alias millenial. Aksi jail, atau ngerjain orang dengan sesuatu yang dianggap lucu dan tanpa merasa bersalah ini, sebenarnya bukan tradisi dan budaya kita. Tidak ada sejarah yang mengatakan bahwa prank itu pernah ada pada zaman Jaka Tingkir, Arya Penangsang atau Danang Sutawijaya.

Menurut kamus Cambridge (dictionary.cambridge.org), prank adalah sebuah tindakan lelucon kepada seseorang, namun tanpa menyakiti atau membuat kerusakan. Singkatnya, prank adalah semacam permainan pikiran untuk membuat korban bereaksi atas suatu kondisi yang sudah direkayasa.

Baca juga: Tempat “Spa” Menjamur, Seni Budaya Tradisi “Kembang-kempis”: Ini Kata Disporbudpar

Berbagai sumber menyebutkan bahwa prank ini awalnya ada kaitannya dengan Hari April Mop dangen Festival Hilaria yang dirayakan di Roma Kuno pada akhir Maret. Namun ada juga yang berspekulasi bahwa April Mop berkaitan dengan Vernal Equinox, atau hari pertama musim semi di belahan bumi utara. April Mop atau dikenal juga dengan April Fool’s Day diperingati setiap tanggal 1 April. Di hari tersebut, orang dianggap boleh berbohong, atau memberi lelucon (prank) terhadap orang lain tanpa merasa bersalah.

Akhir-akhir ini, prank begitu viral di media sosial, Instagram dan Youtube. Prank juga diikuti oleh gaya anak-anak milenial dalam pergaulan: di acara ulang tahun, atau acara-acara lainnya, kerap muncul sebagai lelucon yang sebanarnya enggak ada lucu-lucunya. Karena, korban kerap kali menjadi sesorang yang teraniaya, menjadi seorang yang seolah-olah sangat bersalah, tanpa tahu kejadian yang sesungguhnya.

Baca juga: Ketua Dewan: Tes Uji Kompetensi Dasar Bakal Calon Kades, Jangan Main-main!

Entah, dari mana letak lucunya? Melihat orang jail kepada orang yang tidak tahu apa-apa malah jadi bahan tertawaan. Entah apa pula yang menjadikan acting sepihak tanpa kompromi dan tanpa konsep skenario ini seneng banget divideokan lalu diunggah ke media sosial?

Kreativitas kah?

Nah, bicara soal prank ini, beberapa waktu lalu, media digegerkan oleh dua mahasiswa yang tewas tenggelam di sebuah danau buatan (embung) di dekat Kampus UIN Raden Intan Lampung. Dua mahasiswa ini adalah Azrul Anam dan Ikbal Firmansyah. Dilansir dari sejumlah sumber, dua mahasiswa tenggelam di embung ini akibat prank, alias dijaili oleh rekannya dalam acara ulang tahun. Korban pertama didorong ke dalam tanah cekung serapan air tersebut (embung) dan tak bisa berenang. Ketika ada temannya yang ingin menolong, rekannya justru ikut tenggelam.

Baca juga: Kembangkan Sektor Wisata, Kabupaten Tangerang Perlu Belajar dari Daerah Lain

Ada lagi peristiwa di BSD Serpong, Kota Tangerang Selatan pada 26 September 2016 silam. Dalam peristiwa ini, seorang pemuda dikerjain saat ia berulang tahun. Korban diikat di tiang lampu penerangan lapangan futsal tempat korban bekerja oleh teman-temannya. Setelah itu, korban lantas langsung disiram air oleh teman-temannya dan seketika itu juga korban langsung mengalami kejang-kejang. Korban baru bisa ditolong setelah seorang satpam mematikan aliran listrik. Meskipun sempat dilarikan ke rumah sakit, namun sayang nyawa korban tidak terselamatkan.

Dilansir dari detikhealt, menurut Psikolog Veronica Adeslla, MPsi, prank semacam ini adalah perilaku abusif berselubung, yaitu sama dengan melakukan bully berselubung jokes (“cuma bercanda”). Perilaku ini sama sekali tidak dapat dibenarkan, dan untuk beberapa prank seperti ini bisa hingga diproses hukum.

Widi Hatmoko

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update