oleh

Rendang dan Filosofi Adat Budaya Minang

LENSAPENA – Rendang dinobatkan menjadi salah satu kuliner paling lezat di dunia dan mengalahkan dari cita rasa pizza. Ini menjadi kebanggaan orang Indonesia, karena rendang merupakan salah satu kuliner khas Nusantara yang lahir dari salah satu daerah di Indonisea, yaitu Padang Sumatera Barat.

Di balik rasanya yang lezat, ternyata memiliki filosofi yang sangat erat kaitannya dengan adat istiadat serta budaya orang Minangkabau.

Baca juga: Meski Didemo, Pilkades Tetap Berlanjut Sesuai Tahapan

Rendang terbuat dari daging sapi yang campur santan dengan aneka rempah khas Minang, dan dimasak dalam waktu berjam-jam. Rendang yang terdiri atas tiga bahan pokok ini, masing-masing memiliki makna yang berbeda-beda.

Daging sapi sebagai bahan utama misalnya, dipervaya melambangkan niniak mamak (paman) dan bundo kanduang (ibu) yang memberi kemakmuran kepada anak dan keponakan. Sedangkan kelapa (karambi) melambangkan kaum cerdik dan pandai. Cabai (lado) sebagai salah satu bumbu rendang ini, merupakan lambang dari alim ulama yang pedas, tegas untuk mengajarkan agama. Ketiga komponen bahan utama rendang tersebut dicampur, diaduk hingga menyati. Hal inilah yang melambangkan keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Baca juga: Geliat Seni Budaya di Kabupaten Tangerang Senyap, Kendalanya SDM dan Anggaran

Berbagai sumber juga menyebutkan bahwa proses merendang pun memiliki makna, yaitu seorang pemuda harus berkontribusi kepada masyarakat secara terus-menerus. Hal ini dianalogikan seperti adukan demi adukan pada saat merendang, mencampurkan santan dan rempah sehingga warnanya berubah menjadi kecoklatan hingga hitam. Ini memiliki makna kekuatan dalam memegang prinsip kejujuran dan kebijaksanaan.

Aditya

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update