oleh

Ciwidey Jadi Sumber Mata Pencaharian Menggiurkan Penjual Jaket

Banner IDwebhost

LENSAPENA – Sejak diresmikannya sebagai kawasan agribisnis dan wisata pada tahun 1999, Ciwidey membawa rezeki tersendiri bagi warganya. Banyak yang tadinya merantau di Tangerang atau Jakarta memilih mudik dan mengais rezeki di kampungnya sendiri. Mulai dari membuka usaha kuliner hingga menjual oleh-oleh untuk wisatawan yang berlibur di wilayah yang terletak di daerah Kabupaten Bandung sebelah selatan tersebut.

Salah satunya adalah Kang Deden (35), seorang penjual jaket kulit di kawasan wisata Ciwidey. Dulunya Kang Deden berjualan di Bitung-Tangerang. Namun karena peluang untuk mendapatkan rezeki di kampung lebih menjanjikan, ia memilih meninggalkan Kota Seribu Industri tersebut.

Baca juga: Di Kawah Putih, Burung Tak Berani Melintas dan Ada Mitos Domba Lukutan

“Dulu di Bitung-Tangerang jualan gasper, ikat pinggang, keliling ke pabrik-pabrik dan perumahan. Jalan aja, muter,” ujar Kang Deden kepada lensapena.id di salah satu hotel kawasan wisata Ciwidey, Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu.

Memilihnya Kang Deden berjualan jaket kulit, karena selain kerajinan kulit menjadi salah satu kerajinan khas daerah Bandung, Garut dan sekitarnya, jaket sangat dibutuhkan untuk membalut tubuh di daerah pegunungan seperti di kawasan Ciwidey tersebut. Di kawasan wisata kaki Gubung Patuha ini, banyak wisatawan yang kedinginan saat malam hari. Dari situlah, bisnis jaket lebih menggiurkan ketimbang lainnya.

Kini, hari-hari Kang Deden dengan sepeda motornya berkeliling dari hotel ke hotel, atau dari satu titik lokasi wisata ke titik lainnya. Ia menjajakan jaket kulit buatan perajin jaket di wilayah Bandung, Garut dan sekitarnya. Jaket-jaket yang ia jajakan pun beragam, mulai dari harga Rp120 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung bahan yang digunakan. Jika menggunakan bahan kalep atau kulit imitasi, hanya ratusan ribu, tapi jika menggunakan bahan kulit yang berkualitas harganya antara Rp700 ribu hingga jutaan rupiah.

Baca juga: Daftar Segera! Lowongan 1.047 untuk CPNS Segera Dibuka

“Harga macem-macem, ada yang Rp150 ribu kita tawarkan, ada juga yang Rp1,2 jutaan. Tergantung bahan, kalau yang kulit asli lebih mahal,” katanya.

Dalam satu minggu, Kang Deden bisa menjual tak kurang dari 100 potong jaket kulit. Untuk sekelas Kang Deden yang hanya sebagai pengecer, dalam satu minggu bisa menjual 100 potong jaket, itu sudah sangat bagus. Jika dibandingkan dengan ketika ia berjualan gasper di Bitung-Tangerang, keuntungannya jauh lebih banyak berjualan di Ciwidey, kampungnya sendiri. Terlebih jika di Tangerang ia harus banyak pengeluaran, mulai dari harus sewa kamar kontrakan hingga biaya hidup lainnya yang lebih mahal.

Kalau di kampung, selain biaya hidup lebih meruah, Kang Deden tidak harus mengeluarkan biaya ngontrak. Setiap hari pun bisa kumpul dengan keluarga.

“Alhamdulillah saja, sejak dibuka sebagai kawasan wisata, banyak peluang untuk usaha,” katanya.

Ia juga mengakui, dengan dibukanya kawasan agribisnis dan wisata, banyak pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) seperti jaket, dan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lainnya di wilayah tersebut bisa lebih hidup.

Kang Deden hanya berharap agar produk-produk jaket impor tidak masuk ke kawasan tersebut. Karena, jika produk impor dijual dengan harga lebih murah dan secara kualitas juga belum tentu lebih bagus jika dibandigkan dengan apa yang diproduksi oleh pelaku IKM lokal daerah itu, hanya akan mematikan mata pencaharian pelaku usaha lokal daerah tersebut.

Baca juga: Aetra Tangerang Raih Penghargaan dalam Jambore PR Indonesia

“Kalau produk impor yang masuk dan dijual di sini, kan jadinya nanti bukan oleh-oleh lagi. Kalau jaket yang kita jual kan khas, memang asli bikinan perajin lokal. Dan, punya kebanggan tersendiri kalau kita memakai,” tandasnya.

Indra Setiawan, salah seorang pengunjung kawasan wisata Ciwidey yang sedang melakukan kegiatan Press Gathering mengaku membeli beberapa potong jaket untuk dipakai sendiri dan oleh-oleh. Menurutnya, harganya cukup murah, model dan pilihan warnanya pun banyak, dan sesuai dengan seleranya.

“Bagus, murah. Lumayan buat dipakai, dan buat oleh-oleh. Karena kalau di Tangerng harganya pasti udah mahal, di sini cuma Rp130 ribuan,” katanya.

Indra juga mengatakan bahwa membeli produk perajin lokal sangat membantu, tidak saja secara ekonomi, tapi juga ikut menghidupkan kegiatan usaha masyarakat lokal.

Baca juga: Tiga Touris Tenggelam di Pulau Sangiang Belum Ditemukan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update