oleh

Kawah Putih: Burung Tak Berani Melintas dan Ada Mitos Domba Lukutan

Banner IDwebhost

LENSAPENA – Kawah Putih di Kaki Gunung Patuha, tepatnya di Desa Alam Endah, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung merupakan salah satu obyek wisata favorit di Jawa Barat. Karena, selain memiliki panorama alam yang indah, banyak keunikan yang didapat ketika pengunjung berwisata di kawasan ini.

Pada saat-saat tertentu, pengunjung bisa menikmati kabut putih yang tiba-tiba datang dan mengepung seluruh kawasan kawah hingga kawah tersebut tidak nampak, kecuali hanya pemandangan yang terlihat putih dengan hawa dingin yang merasuk ke tulang sumsum, bercampur dengan aroma belerang dari permukaan kawah tersebut. Pada saat itulah, biasanya pengunjung langsung berhamburan naik ke atas menghindari kabut gelap yang mengurung kawasan itu.

Baca juga: Daftar Segera! Lowongan 1.047 untuk CPNS Segera Dibuka

Namun demikian, pada saat cuaca terang benderang, pengunjung bisa mengabadikan keindahan alam kawah menyerupai danau yang terbentuk dari bekas letusan gunung api tersebut dengan ber-swafoto. Pengunjung bisa mengambil berbagai angle yang menarik di lokasi kawah. Terlebih ketika warna kawah berubah menjadi biru kehijau-hijauan, pengunjung bisa mendapatkan hasil foto yang unik dan indah untuk diunggah ke Instagram atau media sosial lainnya. Ditambah lagi, pemandangan tebing-tebing gunung yang mengepung kawasan kawah bersama dengan pepohonan serta dahan dan ranting kering yang beraneka warna.

Nah, bicara tentang indahnya panorama alam Kawah Putih di Kaki Gunung Patuha ini, ternyata juga memiliki cerita misteri. Berbagai sumber menyebutkan bahwa kawasan tersebut dulunya dikenal angker. Saking angkernya, konon seekor burung pun tak berani melintas di kawasan itu. Keangkeran Gunung Patuha pun menyebar dari mulut ke mulut. Cerita misteri tentang keangkeran gunung tersebut pun kemudian sampai ke telinga Franz Wilhelm Junghun yang merupakan seorang Botanis kelahiran Jerman. Pada 1837, Junghun melakukan penelitian di Gunung Patuha. Ia tak mempedulikan berbagai cerita tentang keangkeran Gunung Patuha.

Baca juga: Tiga Touris Tenggelam di Pulau Sangiang Belum Ditemukan

Gunung Patuha yang masih berupa hutan belantara kala itu ditembus Junghun dengan tekad memecahkan misteri yang membuat bulu kuduk warga saat itu merinding. Tak disangka, perjalanan Junghun saat itu justru berhasil memecahkan misteri.

Ia menemukan sebuah danau kawah yang indah. Bau belerang pun menyengat. Setelah diteliti, kandungan belerang di kawah itu sangat tinggi. Ternyata, hal itulah yang menyebabkan burung enggan melintas di atas gunung setinggi 2.436 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

Selepas penemuan itu, di lokasi sempat dibangun pabrik belerang bernama Zwavel Ontgining Kawah Putih. Pabrik itu dibangun saat masa kolonial Belanda. Saat Indonesia dijajah Jepang, pabrik itu tetap dikelola dan berganti nama jadi Kawah Putih Kenzaka Gokoya Ciwidey.

Nama Kawah Putih sendiri merujuk pada warna air kawah yang didominasi warna putih. Seiring perkembangan zaman, Kawah Putih akhirnya dijadikan sebagai kawasan wisata. Bahkan menjadi salah satu destinasi wisata utama di Kabupaten Bandung.

Baca juga: Aetra Tangerang Raih Penghargaan dalam Jambore PR Indonesia

Selain cerita misteri yang berhasil diungkap oleh Botani asal Jerman, Franz Wilhelm Junghun, ternyata ada mitologi yang hingga saat ini menjadi salah satu kearifan lokal daerah yang terletak di wilayah Bandung Selatan tersebut. Warga sekitar meyakini jika di puncak Gunung Patuha yang disebut oleh warga sekitar sebagai Puncak Kapuk itu merupakan tempat pertemuan para leluhur di waktu-waktu tertentu. Di Puncak Kapuk ini juga disebut-sebut terdapat makam leluhur. Tak hanya itu, warga juga mempercayai jika ada salah satu hewan peliharaan leluhur yang sering menampakkan diri. Hewan peliharaan itu berupa seekor domba berwarna kehijauan mirip lumut.

Karena warnanya mirip lumut, domba itu kemudian disebut domba lukutan. Dalam bahasa Sunda, domba lukutan berarti domba berlumut. Di waktu-waktu tertentu, konon domba lukutan sering menampakkan diri. Tapi hingga kini belum ada bukti yang bisa menguak misteri domba lukutan itu.

Baca juga: Dalam 14 Hari Polisi Tindak 6.000 Pelanggar Lalu Lintas

Namun di balik misteri itu, warga setempat memiliki tradisi yang tetap terjaga hingga kini, yaitu ruwatan. Tradisi ruwatan ini menjadi tradisi tahunan. Berbagai macam sesajen tersaji saat ruwatan. Ruwatan itu dinilai sebagai wujud rasa syukur pada Sang Maha Pencipta dengan dipimpin pemangku adat.

Sebagai bentuk kepercayaan masyarakat terhadap mitologi misteri doma lukutan ini, di salah satu tempat sebelum turun ke lokasi kawah putih, dibangun sebuah patung doma yang dijadikan sebagai simbol terhadap keparcayaan tersebut. Patung domba ini menggambarkan sosok domba lukutan penunggu kawasan kawah dan Gunung Patuha.

Baca juga: Tiga Touris Hilang Tenggelam di Perairan Pulau Sangiang

Komentar

News Update