oleh

Makam Gajah Barong, Pengawal Sultan Banten, di Desa Cileles Tigaraksa

LENSAPENA | Jika kita melakukan perjalanan dari arah Pasar Gudang Tigaraksa menuju arah Taman Adiyasa, dan lewat Perumahan Munjul, tak jauh dari situ terdapat sebuah makam keramat, tepatnya di Desa Ciseles, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.

Makam itu disebut-sebut makam Gajah Barong. Pada saat-saat tertentu, makam ini kerap didatangi peziarah, baik dari sekitar Tangerang maupun daerah lain seperti Jakarta, Lampung, Cirebon dan sekitarnya.

Di sekitar makam keramat ini terdapat sebuah sumur tua yang dipercaya bisa memberikan keberkahan. Sumur yang lokasinya berada di tepat belakang Makam Keramat Gajah Barong ini juga tidak pernah kering meskipun musim kemarau.

Nah, bicara soal siapa sebenarnya Gajah Barong sendiri, hingga saat ini belum diketahui silsilah keluarganya. Namun berdasarkan cerita turun temurun dari masyarakat di sekitar wilayah tersebut, Gajah Barong dipercaya sebagai pengawal Sultan

Hasanudin. Sultan Hasnudin atau disebut juga Sultan Maulana Hasanudin adalah putra dari putra kedua dari Nyi Kawunganten yaitu putri dari Prabu Surasowan bersama dengan Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati (salah satu Wali Songo). Sultan Maulana Hasanudin merupakan pendiri Kesultanan Banten sekaligus penguasa pertama kerajaan Islam di Banten.

Sejak kecil Sultan Hasanudin telah diberi gelar Pangeran Sabakingking atau Seda Kikin oleh kakeknya, Prabu Surasowan. Begitu sang prabu wafat, kedudukannya diwariskan pada putranya yang bernama Arya Surajaya atau Prabu Pucuk Umun yang kemudian memerintah di wilayah Banten Girang di bawah kekuasaan kerajaan Pajajaran.

“Kalau cerita dari turun temurun, Ki Gajah Barong ini dulunya pengawal Sultan Maulana Hasanudin, pendiri Kesultanan Banten,” ujar juru kunci Makam Keramat Gajah Barong Nurdin Purwanto (63).

Keberadaan Gajah Barong di wilayah tersebut, menurut Nurdin, tak lepas dari cerita turun-temurun masyarakat Desa Cileles yang menyebutkan bahwa saat itu dia seperti sedang melakukan penyamaran. Gajah Barong mengenakan pakaian compang-camping di sebuah desa yang diberinama Desa Pesanggerahan. Desa Pesanggerahan ini saat ini menjadi salah satu desa tak jauh dari Desa Cileles tempat Makam Keramat Gajah Barong.

Pada saat itu pula sedang ada pesta yang cukup mewah. Gajah Barong bermaksud hadir dalam pesta tersebut. Namun karena pakaiannya tidak menunjukkan seorang prajurit atau pengawal Sultan Banten yang amat tersohor, ia dicibir dan tidak dianggap oleh warga di arena pesta tersebut. Dari situlah, Gajah Barong beranggapan bahwa orang-orang di wilayah tersebut hanya menilai orang dari sisi penampilannya saja. Lalu ia pergi meninggalkan arena pesta.

Tak lama pun, ia kembali ke arena pesta dengan mengendarai kuda dan berpenampilan mengenakan busana keprajuritan. Melihat penampulannya yang sangat gagah, semua orang di arena pesta tersebut menghormati dan mempersilahkanya masuk ke tempat yang paling istimewa. Namun Gajah Barong menolak, dan mengucapkan kalimat yang pedas terhadap warga dan yang punya hajat.

“Oh, begini orang di kampung ini hanya melihat pakaian dan kendaraan, kalau orang biasa tidak digubris,” begitulah kalimat Gajah Barong yang dikutip dari buku Inventarisasi dan Dokumentasi Data Seni Budaya Kabupaten Tangerang yang diterbitkan Disporbudpar Kabupaten Tangerang tahun 2014 lalu.

Dalam buku ini, setelah marah dan mengucapkan kalimat tersebut, Gajah Barong meninggalan tempat pesta lalu menancapkan sebilah keris serta menyimpan pakaiannya di dekat keris tersebut sambil berkata, “Nah, ini yang kalian mau dan kalian hargai!” Di tempat keris dan pakaian tersebutlah, Gajah Barong dimakamkan.

Untuk diketahui, Makam Gajah Barong tersebut sebelumnya berada di wilayah Desa Bantar Panjang. Namun setelah terjadi pemekaran, tempat kedudukan makam keramat tersebut menjadi salah satu bagian dari Desa Cileles, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang.

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update