oleh

Unik, Ada Patung Bangsawan Jawa di Klenteng Gie Yong Bio Lasem

LENSAPENA – Klenteng Gie Yong Bio adalah salah satu tempat peribadatan umat Tridharma  di Kota Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Klenteng yang lokasinya  berada tepat di Desa Bagan ini memiiki sejarah panjang tentang Perang Kuning pada tahun 1741 hingga 1750.

Keunikan dari klenteng ini, selain terdapat altar untuk bersembahyang umat Tridharma, juga terdapat satu altar lagi dimana terdapat patung salah seorang tokoh Lasem tempo dulu, Raden Panji Margono.

Raden Panji Margono merupakan seorang keturunan trah Panji Lasem yang juga salah satu Pahlawan Lasem dalam pertempuran melawan VOC dalam Perang Kuning. Ia adalah putra dari seorang Adipati Lasem bernama Tejakusuma V (Raden Panji Sasongko). Pada saat perang kuning, ia menggunakan nama samaran Tan Pan Ciang dan dicatat dalam Babad Tanah Jawi sebagai Encik Macan.

Selain Raden Panji Margono, dalam peristiwa Perang Kuning tersebut, terdapat 2  orang tokoh lainnya, yaitu  Oey Ing Kiat atau Tumenggung Widyaningrat yang pada saat itu sebagai Adipati Lasem keturunan Tionghoa, dan Tan Kee Wie seorang guru Kung Fu yang juga keturunan Tionghoa.

Salah satu pementasan drama kepahlawanan Raden Panji Margono, Oey Ing Kiat, dan Tan Kee Wie yang dimainkan siswa SMA Negeri 1 Lasem. (Widi Hatmoko)

Menurut Sejarawan Lasem Edi Winarno, Perang Kuning berawal dari peristiwa Geger Pecinan atau pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta-red) dan sekitarnya pada tahun 1740-an. Dari kejadian tersebut orang-orang Tionghoa melarikan diri ke daerah Semarang, dan meluas ke Lasem. Dari situlah VOC melakukan pengejaran hingga ke Lasem. Namun kedatangan VOC ditolak oleh Oey Eng Kiat, Raden Panji Margono, dan Tan Kee Wie, hingga terjadi perlawanan sengit, yang kemudian dikenal sebagai Perang Kuning.

Tan Kee Wie gugur pada peristiwa itu, yaitu pada tahun 1742. Disusul oleh Raden Panji Margono dan Oey Eng Kiat, yang juga gugur di medan laga pada pada tahun 1750.

Perlawanan masyarakat Lasem yang terdiri dari orang-orang peranakan Tionghoa, Jawa dan Santri Lasem kala itu tidak cukup sampai disitu. Dalam beberapa tahun setelah gugurnya Tan Kee Wie, Raden Panji Margono dan Oey Ing Kiat terjadi ‘kevakuman’, perang melawan VOC kembali dikobarkan oleh Kyai Ali Badawi bersama para santri Lasem.

Meskipun kala itu rakyat Lasem kalah dalam perang melawan VOC Belanda, kisah heroik ketiganya dimonumenkan dalam bentuk Kelenteng Gie Yong Bio. Klenteng ini dibangun oleh warga Tionghoa Lasem pada tahun 1780. Untuk mengenang kepahlawanan Raden Panji Margono, di klenteng ini juga dibuatkan altar yang dipasang patung Raden Panji Margono.

Klenteng ini memiliki keistimewaan karena dibangun untuk menghormati tiga pahlawan Lasem, yaitu Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat, dan Raden Panji Margono, sehingga klenteng Gie Yong Bio dianggap sebagai satu-satunya klenteng di Indonesia yang memiliki Kongco pribumi.

Penghormatan Raden Panji Margono sebagai dewa oleh komunitas Tionghoa di Lasem dapat disebut unik di seluruh Indonesia, selain menjadi bukti persahabatan leluhur kedua komunitas.

Klenteng Gie Yong Bio juga menjadi salah satu obyek wisata sejarah yang patut dikunjungi, untuk lebih memperkaya wawasan tentang sejarah-sejarah kepahlawanan yang ada di Indonesia.

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update