oleh

Achi TM, Penulis Perempuan dengan Ratusan Karya Imajiner

LENSAPENA | Menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tiada hari tanpa menulis, menulis, dan menulis. Itulah sosok Achi TM, penulis perempuan asal Tangerang yang kini sudah menelurkan 22 karya novel, serta ratusan skenario sinetron Tv.

Dari jumlah karyanya yang cukup banyak tersebut, membuktikan betapa hebat dan tangguhnya kesabarannya dalam menorehkan kata demi kata dalam karya yang imajiner. Bertahun-tahun pula, 22 novel serta skenario itu diselesaikannya dengan penuh gairah serta idealisme yang tinggi.

“Dalam satu tahun saya menulis dua novel,” ungkap Achi TM

Bagi perempuan ramah dan murah senyum ini, menulis novel tentu saja bukan sekadar untuk mendedahkan berbagai ide cerita yang berseliweran di kepalanya, namun lebih dari itu dijadikannya sebagai ruang untuk mencurahkan kepuasaan batinnya.

“Kalau ide-ide yang ada di kepala saya tidak dituliskan dalam bentuk naskah seperti novel misalnya, bisa sakit saya. Tetapi menulis novel bagi saya untuk mencurahkan idealisme,” ungkap ibu dari tiga orang anak ini.

Menurut istri Agung Argopo ini, sebuah novel tidak bisa digarap main-main apalagi secara serampangan. Namun harus digarap secara intens dan lebih serius. “Misalnya saja mengenai tokoh-tokohnya. Karakter tokoh-tokoh itu harus kuat,” ujarnya.

Hal itu sangat berbeda ketika menulis skenario sinetron atau skenario tv. “Kalau menulis skenario sinetron atau tv, itu sudah masuk industri pasar. Jadi harus ada komprominya dan istilahnya harus mau kerja rodi,” ungkap Achi sambil tersenyum.

Tak hanya karya novel, Achi TM juga menelurkan ratusan karya skenario sinetron dan tv. Dan dari situ pula. Achi merasa jika dirinya benar-benar bisa hidup mandiri. Sebab dari situ pula Achi bisa membiayai hidup keluarga bersama-sama suaminya yang juga seorang penulis. Bahkan bisa membeli motor dan mobil juga dari hasil menulis.

“Kalau menulis novel, karena itu untuk kebutuhan idealisme, jadi uangnya hanya buat nambah-nambah kebutuhan dapur saja, apalagi royalti dari satu novel itu kan enam bulan sekali,” ucapnya.

Achi juga memiliki cita-cita besar novelnya bisa diangkat ke film layar lebar agar karya-karya bisa dinikmati banyak orang lagi dengan media berbeda. Namun sampai novel ke-21, belum ada satu pun yang diangkat ke layar lebar dan tak ada satu pun yang best seller.

“Mungkin karena gak ada yang best seller, jadi novel-novel saya tidak ada yang diangkat ke film layar lebar. Padahal itu keinginan dan harapan saya sejak lama sekali. Saya sempat frustrasi juga,” katanya.

Pun demikia, Achi mengaku, akan tetap menulis dan berkarya. Karena menulis sudah menjadi bagian dalam hidupnya.

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update