oleh

Berburu Rajungan di Pantai Ketapang Mauk

LENSAPENA | Bagi penggemar seafood tentu tidak asing dengan bahan olahan yang satu ini, yaitu rajungan. Sekilas bentuknya memang sama dengan kepiting. Namun demikian rajungan dengan kepiting tidak sama, dan masing-masing memiliki ciri yang berbeda.

Rajungan hidup di air laut dengan kedalaman yang cukup jauh, sedangkan kepiting banyak di pinggir pantai yang dangkal.Ciri lain yang membedakan rajungan dengan kepiting adalah, rajungan memiliki capit yang pipih dan panjang, sedangkan kepiting punya capit yang besar dan bulat; daging kepiting lebih manis dari rajungan; rangka luar atau kulit kepiting lebih tebal dan keras dari rajungan; daging kepiting lebih banyak dari rajungan; kepiting lebih tahan lama apabila tidak kena air ketimbang rajungan; permukaan kulit rajungan bertotol-totol dengan warna kebiru-biruan dan bersih, sedangkan kepiting warnanya cencerung gelap, bulat dan polos; harga kepiting lebih mahal daripada rajungan; dan kepiting masih diragukan kehalalannya, sedangkan rajungan halal.

Nah, buat anda yang gemar makan rajungan, dan ingin mendapatkan rajungan-rajungan yang masih segar, bisa datang ke Kampung Pelelangan, Desa Ketapang, Kacamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Di tempat ini, setiap pukul 10:00 WIB pagi puluhan nelayan pemburu rajungan bersandar membawa hasil tangkapan.

Tak hanya itu saja, jika ingin merasakan sensasi bagaimana rasanya berburu bahan olahan seafood yang satu ini, kita juga bisa ikut dengan para nelayan ke tengah laut. Namun harus siap fisik dan mental. Karena, selain hanya meniki kapal-kapal kecil yang mudah diombang-ambingkan ombak, angin dan udara di tengah laut cukup ektrim. Kita bisa berangkat sekitar pukul 15:00 WIB sore, dan harus bermalam di tengah laut saat udara dingin merasuk ke tulang sumsum.

Ujang (35), salah seorang nelayan pemburu rajungan dari Desa Ketapang, mengatakan, dalam menangkap rajungan ini, nelayan di pantai utara Mauk menggunakan jaring-jaring khusus berbentuk segi empat yang dikasih umpan ikan-ikan petek berukuran kecil.

“Sekitar jam tiga sore kita mulai berangkat, menebar jaring ke tengah-tengah laut. Biasanya, rajungan ini di laut yang ada batu-batu karangnya. Kita semalaman di laut, baru pagi-pagi jam sepuluhan baru ke pinggir,” ujar Ujang kepada lensapena.id.

Ia juga mengatakan, perbekalan yang paling pokok untuk dibawa ke tengah laut, selain peralatan tangkap dan bahan bakar kapal, adalah logistik atau makanan. Karena harus berlama-lama di tengah laut dengan lama waktu hampir selama 18 jam.

Dalam berburu rajungan ini juga harus dalam kondisi cuaca sedang baik. Dan, hasil tangkapan ini nantinya akan disetor kepada tengkulak yang sudah menunggu di Dermaga Pelelangan, Desa Ketapang, untuk didistribusikan ke rumah-rumah makan, hotel, dan restoran. Namun sebagian juga ada yang dijual di pasar tradisional di wilayah Kecamatan Mauk dan sekitarnya.

Banner IDwebhost

Komentar

News Update