oleh

Catatan Kecil: Dari Gerai APBD, Lalu Cerita Tentang Kopi dan ‘Copy Paste’

Kehadiran Gerai Tangerang Gemilang (GTG) telah memberikan harapan baru bagi para pelaku UMKM dan IKM di Kabupaten Tangerang. Karena, di bangunan ini segala rupa produk UMKM dan IKM bisa diperkenalkan, bahkan dijual. Terlebih, saat ini gerai tersebut sudah diserahkan kepada badan pengelola. Tentu saja, akan memberikan ruang lebih luas kepada pelaku usaha, ketimbang ketika dikelola oleh dinas tertentu.

Namun yang perlu jadi catatan, apakah kehadiran Gerai Tangerang Gemilang (GTG) yang telah diresmikan oleh Bupati Tangerang, Bapak Ahmed Zaki Iskandar, 26 Desember 2017 lalu itu telah memberikan manfaat kepada masyarakat yang berada di sekitar gedung megah tersebut?

Kamis, 12 Desember 2019, saya sempat mampir dan ngopi di salah satu kedai kopi di sudut gedung gerai tersebut. Saya tak perlu menyebutkan apa nama kedai tersebut, tapi yang jelas itu tempat ngopi. Di tempat itu, saya juga sempat berbincang dengan beberapa kepala dinas, pejabat kecamatan, dan Asda II Kabupaten Tangerang. Karena berada di lokasi sentral para pelaku UMKM dan IKM, tentu saja diskusi yang tidak terencana itu bicara soal konsep ekonomi, pengembangan wirausaha, serta kondisi perekonomian para pelaku usaha lokal yang perlu suplemen dan suport dari pemerintah daerah. Perbincangan itu tak berlangsung lama, namun banyak hal yang menarik untuk saya jadikan catatan.

Setelah beberapa jam saya keluar dari tempat ngopi itu, menjelang siang saya kembali lagi. Sejenak saya berdiskusi dengan beberapa sahabat lama di situ, dan kebetulan warga sekitar gerai. Dan, yang satu lagi kawan yang hobi bicara soal dunia pertanian.

Kali ini, topik diskusi tanpa konsep itu seputar gerai yang dibangun menggunakan APBD, sampai cerita tentang kopi, tukang kopi, dan copy paste.

Perbincangan mulai meruncing ketika tukang kopi itu nyerocos soal perkebunan kopi di wilayah Kecamatan Cisoka yang luasnya puluhan hektar. Ada lagi tentang sejarah kopi di Tangerang yang katanya pernah jaya. Terus ngalor-ngidul tentang kopi, yang intinya ingin mengangkat konsep kedai kopi tempat usahanya itu.

Nah, sang pakar pertanian di sebelah saya itu nyahut soal perkebunan kopi puluhan hektar yang ada di wilayah Cisoka. Penasaran, dan terus menggali apa yang dilontarkan si tukang kopi itu. Namun setelah kalimat demi kalimat ‘dikutak-kutik nyaris masuk ke tiang gawang’, ternyata orang ini pun belum tahu seperti apa bentuknya tempat yang namanya Cisoka. Soal kebon kopi puluhan hektar itu, ternyata hanya ‘copy paste’ dari pembicaraan orang lain soal perkebunan yang ternyata masih dalam perencanaan.

Orang ini, mengaku dari Jakarta, dan membuka kedai kopi di gerai APBD ini dalam rangka mengembangkan usahanya yang ada di Jakarta. Dia difasiitasi oleh badan pengelola gerai tersebut. Dan, karena ada di gerai yang dibangun dari APBD Kabupaten Tangerang, serta keinginan Pak Bupati yang mengidam-idamkan ada kedai kopi bernuansa lokal, dan bisa mengangkat brand lokal, dia geret nama kedai kopinya yang ada di Jakarta ke kedai ini dengan memberi lebel ada nuansa ke-Tangerangannya.

Cerita itu pun berakhir begitu saja, tanpa ada kesempulan. Kecuali, hanya menunggu perkembangan berikutnya soal gerai tersebut: Apakah akan semakin maju, atau malah mendek-dek? Apakah akan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya, atau malah warga sekitar akan menjadi penonton saja?

Penulis: Widi Hatmoko
Sebagai Pemerhati UMKM/IKM di Tangerang

Redaksi lensapena.id menerima kiriman tulisan esai, artikel atau cerita fiksi dari pembaca. Setiap karya tulis opini yang diunggah pada kanal konten lensapena.id adalah tanggung jawab penulis. Jika ada yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini, maka sesuai aturan pers dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis opini. Dan, Redaksi akan menyiarkan tulisan tersebut secara berimbang.

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update