oleh

Cerita Pendek: Suryati (Remember Of The Past Time)

Tak seperti biasanya: setelah pertemuannya dengan Kartiko—bekas anggota Polisi yang dipecat gara-gara mengamuk di tengah-tengah pasar, memuntah-muntahkan peluru pistolnya hingga melukai seorang pedagang martabak kacang serta anak perwira tentara—Suryati sering kali terlihat aneh. Nyengar-nyengir sendiri di dalam kamar, atau mepet-mepet pekarangan belakang rumah. Maksudnya, menghindari kelebat orang-orang seisi rumah, untuk SMS-an atau telpon-telponan dengan laki-laki itu. Ia juga jadi rajin curhat dengan tetangga sebelah.

Tak banyak yang tahu tentang hal ini memang, kecuali Sundari—perempuan tetangga yang selama ini paling ia percaya dalam hal apapun. Selain itu, karena mereka memang sama-sama mempunyai kisah dengan orang-orang di masa lalunya.

”Mbak Sun, gimana ya? Akhir-akhir ini kok pikiranku selalu dibayang-bayangi Kartiko,” ucap Suryati

”Kartiko? Siapa itu Jeng Sur?” Tanya Sundari

”Itu loh, teman sewaktu masih sekolah. Memang, dulu pernah saling dekat, tapi hanya beberapa bulan. Setelah itu ia pergi entah ke mana. Dari situ pula hubungan kami sudah tak anggep bubar.”

”Wah, jangan-jangan..”

”Jangan-jangan apa Mbak Sun?”

”Jangan-jangan  CLBK Jeng Sur.”

”CLBK, apa itu Mbak Sun?”

”Itu loh, cinta lama bersemi kembali.”

”Heleh, Mbak Sundari ini ada-ada aja. Ya ndak mungkin to Mbak Sun. Satu aja ndak habis gitu kok. Lagi pula, Mbak Sundari sendiri kan tahu, Mas Parlan itu kan Is The Best.”

Is The Bes, Jeng Sur?”

”Iya, Is The Best. Pokoknya begini Mbak Sun,” sambil mengacungkan jempol  kanannya. ”Memangnya tetangga seberang jalan, Mbak Sun! Janjian ama do’i  main petak umpet ama suaminya, he..he..he..,” imbuhnya sambil cengengesan.

”Huss! Jeng Sur bisa aja. Kalau orangnya denger bisa marah loh Jeng!”

*

Pagi itu di sebuah kamar kost yang hanya berukuran empat kali enam meter; Sarman ngedumel kepada Kartiko yang masih gelimpungan di atas kasur sambil SMS-an.

”Kartiko, udah lah, Suryati itu kan sudah punya suami, beranak pula. Jangan terus-terusan kamu goda’in gitu dong. Apa udah nggak ada perempuan yang lebih muda dan cantik? Kau lihat, bodinya aja sudah kendor, dan payudaranya menggelayut seperti kantong plastik yang diisi air. Ibarat susu kaleng, dia itu udah expired. Belum lagi kalau ketahuan suaminya yang Polisi itu, apa kamu nggak takut; bagaiama kalau tiba-tiba suaminya gelap mata dan melabrakmu ke Jakarta, lalu memba-bibuta atau menembak jidatmu; atau malah memutilasi satu-persatu organ tubuhmu, dan membuangnya di kali atau di tempat sampah?”

”Hm, pagi-pagi kok horror. Sudah lah, ini bukan urusanmu, Sarman! Kamu pikir saya takut? Saya juga kan pernah jadi Polisi!” Reaksi Kartiko sambil beranjak dari tempat tidurnya, dan meraih handuk, ke kamar mandi.

*

Sementara; di sebuah desa, di sebelah selatan bukit yang di bawahnya banyak terdapat kuburan-kuburan cina, dan pangkalan mobil-mobil truk. Selimut kabut dingin yang mengepung sang fajar perlahan-lahan sirna oleh semburat jingga dari langit sebelah timur. Ya, semburat jingga yang mulai menjamah seisi jagat, serta menelanjangi seluruh permukaan planet bumi.

Seperti hari kemarin, kemarinnya, dan kemarinnya lagi. Suryati sudah sibuk; membuat sarapan, menyiapkan segelas kopi, serta seragam Parlan sebelum beranjak ke kantor Polsek sebelah kecamatan. Lalu, mengurus dan memandikan anaknya yang sudah menjadi rutinitas yang tidak bisa tidak, dan selalu ia jalani.

Begitulah; meskipun sudah hidup di jaman kini, sebagai isteri seorang abdi Negara, dan perempuan yang mempunyai profesi serta berpenghasilan, namun uang bukanlah segalanya. Kodratnya sebagai seorang isteri dan ibu dari anaknya selalu rajin ia jalankan—tanpa harus membayar orang lain untuk menggantikannya.

Mungkinkah karena profesi dan setatusnya sebagai seorang isteri Polisi sehingga ia harus bersikap sebagai perempuan yang sempurna. Atau, mungkin supaya tak mendapatkan celaan dari masyarakat, lantaran masa lalunya yang pernah menjadi biduan panggung; atau, malah agar mendapat pujian dari teman, tetangga, serta kawan-kawan Parlan yang selalu membanggakan dirinya? Entahlah, tapi yang jelas ia hanya ingin menjalani hidup apa adanya sebagai seorang ibu dari anak, dan isteri laki-laki yang telah mengawininya itu.

Seperti halnya juga ibunya. Meski sudah tak lagi menyandang gelar keningratan karena dinikahi oleh ayahnya yang hanya orang kebanyakan, tapi mampu membuat bahagia, dan senang suami serta anak-anaknya.

Tiba-tiba, telpon genggamnya memekik, bergetar, gemuruh di atas meja makan yang telah siap dengan aneka rupa menu sarapan. Hm, sebuah pesan singkat yang dikirim lewat Short Message Service. Jantungnya ikut bergetar, berdebar-debar hebat.

”Waduh! Dasar! Pagi-pagi kok udah SMS-an,” gumamnya, sambil bergegas, dan segera meraihnya sebelum Parlan mengetahuinya.

Namun, ia tak membaca isi pesan singkat itu. Malah buru-buru mematikannya. Rupanya, ia sudah tahu siapa pengirimnya. Sampai selesai sudah semua pekerjaan rumahnya, dan sampai sepeda mini berwarna biru yang sudah digantikan dengan honda bebek merah dengan nomor polisi K 4259 CM itu, mengantarkannya ke depan pintu gerbang sekolah yang sudah mulai sepi.

Begitulah, setelah usai menunaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, tak ada yang istimewa dalam hidupnya kecuali mengajar, mengajar, dan mengajar.

Hari ini, ia tak akan mengajarkan tentang anonim, akronim, huruf vokal, huruf konsonan, ataupun huruf miring. Tetapi, ia akan menyuruh murid-muridnya untuk membuat karangan bebas, cerita pendek.

Di dalam ruangan kelas yang sudah nampak hening itu, sambil mengawasi murid-muridnya membuat cerita fiksi pendek, Suryati mulai menghidupkan seluller-nya yang sejak tadi pagi dimatikan. Ia mulai membuka isi SMS yang sengaja ditunda.

”Suryati, pkbr say? Muuaaach.” Begitulah isi SMS-nyaitu.

”Kartiko..Kartiko. Huh!” Dalam hatinya ”Sialan banget nich orang. Untung aja Mas Parlan nggak tahu, kalau sampai dia membaca, wah..bisa gawat,” sambil jari-jemarinya mengetik huruf-huruf kecil pada selullernya menjawab SMS dari laki-laki yang ia sebut sebagai Kartiko itu.

”Huh! Memble! Sialan! Gombal! Jangan sinting kamu!” Balasnya.

”Waduh, kok gitu? Dari pagi SMS-SMS-ku nggak dibales, eh giliran bales kok ngamuk-ngamuk! Nggak cakep ah!” Balas laki-laki itu kembali.

”Kartiko, jangan gitu dong? Gimana coba kalo SMS-SMS-mu tadi sampai dibaca suamiku. Bisa mati aku! Enggak cuman aku, malah kamu juga bisa ikut mati! Kamu mau ditembak sama suamiku?”  Balas Suryati berikutnya.

”Ha..ha..ha, omonganmu mota-mati melulu. Tapi nggak apa-apa dech kalau kita matinya bareng-bareng!”

”Huh! Gombal!” Dalam hatinya tanpa membalas lagi SMS dari laki-laki itu.

*

Di ruang kantor, di kota dimana Kartiko menggantungkan hidupnya, setelah hengkang menjadi seorang anggota Polisi. Sejenak matanya mengintip ke luar dan mengarah ke langit yang sudah nampak redup. Meskipun tak ada isyarat seekor elang melengking, namun awan kelabu tetap saja berkumpul dan memayungi planet bumi tempatnya berpijak.

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada pertengahan tahun yang seharusnya memasuki musim kemarau, curah hujan turun tak beraturan: terkadang pagi, tak jarang siang, sore, bahkan malam hari. Mirip seperti cuaca pada akhir dan permulaan tahun. Para ahli menyebutnya anomali cuaca. Dan, jika iklim sudah extrim begini, sudah pasti jalanan akan semakin macet, karena banyak genangan air akibat saluran got yang mampet. Setelah itu wabah penyakit menjamur di mana-mana. Tak ada yang disalahkan memang, kecuali orang-orang yang percaya dan memilih manusia pengobral janji yang menawarkan setumpuk konsep visi dan misi sambil menghambur-hamburkan uang saat kampanye, yang akhirnya semua itu gombal mukiyo dan mbelgedes seperti ini.

Beberapa menit yang lalu, baru saja Kartiko menerima balasan SMS dari Suryati yang ia kirimkan sejak tadi pagi. Namun, setelah ia membalas balasan SMS itu, Suryati pun hanya membalasnya kembali dengan beberapa SMS saja. Kartiko pun penasaran, lalu mencoba menghubungi nomer perempuan ini. Tetapi tak ada jawaban, malah nomer itu sengaja dirijeck. Terang saja hatinya gondok, dan memaki-maki sendiri.

”Udehlah Kartiko, lupain aje. Ape sih istimewanye dari perempuan yang ente bilang namanye Suryati Suryati ntuh? Emangnye cantiknye selangit ye? Keren? Kaya Chatrin Whilson, Sahrini, Dewi Persik atau Julia Peres? Kok ente bisa ampe termehek-mehek gitu?” Begitulah mulut Japar melihat teman sekantornya itu memaki-maki sendiri.

”Waduh! lu bilang gue termehek-mehek? Enggak lah. Masak gue tergila-gila ama perempuan yang udah punya laki. Lagi pula, kalau sekedar cuma buat selingkihan di sini juga banyak, malah lebih bohay dari dia.”

”Tapi kayaknye ente lebih ngarep ke die tuh. Buktinye, ente ngebel kagak diangkat aje ngedumel kagak karuan!”

”Ya enggak lah. Gue cuma kengen aja, inget waktu masa-masa sekolah dulu.”

”Aduh-aduh, kayaknye CLBK nich, cinte lame bersemi kembali?” Ledek Japar, sambil nyengir.

”Apa, cinta lama bersemi kembali? Gue jatuh cinta lagi ama Suryati maksudnya? Enggak lah! Masak gitu aja jatuh cinta.”

”Terus, ape namanye kalau bukan jatuh cinte? Kagak usah Kartiko, ente kudu cepet buke mate-buke telinge. Akhiri semue perasaan ente yang sinting ntuh. Jangan ampek ade yang gelap mate. Bukannye kaye Kenarok-Kendedes, bise-bise malah ente dibolingin jidatnya peke proyektil dari slongsong beceng lakinye!”

”Ha..ha..ha, bisa aja luh! Dasar Japar horor!! Enggak ada bedanya lu ama Sarman!” Sambil matanya mengintip ke luar melihat alam sekitar yang telah diguyuri oleh air hujan yang semakin deras.

*

Di desa di tempat dimana Suryati dilahirkan, dibesarkan dan tumbuh menjadi seorang perempuan pada umumnya. Delapan tahun sudah embrio kasihnya bersama Parlan telah membuahkan cinta yang begitu menyenangkan. Senyum, tawa serta celotehnya yang lucu selalu melepas serta menyambut setiap kali ia melangkah keluar dan memasuki halaman rumah. Hm, indah sekali bukan?

Usai menyedekahkan sebagian ilmunya kepada murid-muridnya, dan Parlan belum ada di rumah, Suryati duduk di kursi ukir jati tua warisan kakeknya. Guratan-guratan usang di permukaan kayu ini seolah menjadi saksi perjalanan waktu yang mengantarkan dirinya ke dalam kehidupannya saat ini. Dulu sewaktu ia masih kecil, kursi ini selalu dijadikan tempat ibunya menenangkannya setiapkali ia menangis. Sambil mengibas-ngibaskan kipas bambu, ibunya mendongak-dongakkan boneka kain sampai ia terkekeh-kekeh.

Tiba-tiba HP-nya menjerit kencang, bergetar, menggemuruh di atas meja yang di lapisi kaca di hadapannya. ”Hm, pasti dari Kartiko,” batin Suryati sambil nyengir dan meraih telpon genggan di hadapannya. Hatinya ikut bergetar, berdebar-debar tidak karuan. Lalu membuka pesan singkat dari selullernya.

”Selamat, anda telah memenangkan kuis yang telah diselenggaarakan oleh profider kami. Dan anda berhak mendapatkan hadiah sebesar limapuluh juta rupiah. Untuk informasi selanjutnya silahkan menghubungi profider kami di nomor ini.” Ia pun sontak terkaget. Sejenak terkecoh, ”Ah, bohong! Sialan! Gombal! Profider bodong! Tukang tipu!” Hm, ternyata bukan Kartiko yang ia harapkan.

Untuk kesekian kalinya telepon genggamnya memanggil-manggil. Wajahnya menjadi sumringah, dan hatinya berdebar semakin kencang. Lalu meraih serta membuka isi SMS itu.

”Promo murah hari ini! hanya 3rb/bln dari profider kami (Wali, Anang Syahrini, Ungu, dll) Ketik: Murah ke 123.”

”Sialan!” Wajahnya kembali menguncup.

Dan, SMS berikutnya, ”Liga Super Indonesia bagi2 MOTOR keren, uang tunai JUTAAN rupiah, & HP keren. Raih kesempatan itu dengan menghubungi *465*# (2rb/sms, CS: 021-26230148).”

”Huh!” Suryati pun semakin dongkol. Beberapa SMSnya tidak membuat hatinya senang.

Entah, ke mana laki-laki itu? Mengapa ia tidak lagi mengirimkan pesan singkat lewat Short Message Service?

Padahal Suryati sudah kebelet ingin SMS-an kembali dengan laki-laki ini, mumpung Parlan belum pulang ke rumah. Ya, SMS-an dengan dua belas digit nomer yang telah ia samarkan namanya menjadi Dora Emon dalam daftar telponya—agar tak diketahui oleh Parlan suaminya. (*

Oleh: Widi Hatmoko

Banner IDwebhost

Komentar

News Update