oleh

Cerita Pendek, Widi Hatmoko: Selingkuh

Perempuan ini mulai menelanjangi dirinya sendiri di hadapan laki-laki itu. Entah, apa yang membuat perempuan ini berani-beraninya mengumbar rumah tangganya. Padahal, laki-laki itu baru saja dikenal, dan baru sekali pula bertemu. Itu pun hanya beberapa menit saja. Setelah itu menghilang entah kemana. Hanya dua belas digit nomer seluller yang ditinggalkan—agar bisa kembali dihubungi. Itu pun kalau dianggap penting.

”Mas?” Begitu lah perempuan itu memanggil laki-laki ini—meski usianya terpaut 10 tahun lebih tua.

“Aku juga tak tahu, kenapa aku bisa menjadi seperti ini. Aku bisa berhubungan dengan orang yang belum jelas latar belakangnya. Tapi memang beginilah keadaannya. Mungkin ini salah satu bentuk kekecewaanku. Sejak awal pernikahan, yaitu puluhan tahun yang lalu aku sudah dibuatnya kecewa. Ya, kecewa karena kehadiran perempuan lain dalam rumah tangga kami. Tapi, sedikit pun ia tak pernah merasa bersalah. Apa lagi sampai meminta maaf. Sampai-sampai, saat ini aku merasa bukanlah perempuan normal seperti perempuan kebanyakan. Di ranjang, aku pun sudah dingin, seperti salju. Mati rasa.” Ungkap perempuan ini terhadap laki-laki itu, pada suatu ketika dalam sebuah pesan pribadi di jejaring sosial ciptaan Mark Zuckerberg.

Ya, dari alamat akun facebook yang ia dapat dari kebiasaannya berkirim Short Message Service dengan laki-laki itu, sebelum mereka bersepakat untuk bermain kucing-kucingan—menikmati cinta terlarang model perselingkuhan.

Pada suatu pagi, saat orang-orang seisi rumah hendak pergi beraktivitas, sebelum ia juga meninggalkan semua pekerjaan rumah untuk beralih kepada rutinitasnya di kantor—dan hidangan sarapan pagi sudah berjajar di meja makan untuk siap disantap—ia selalu menawarkan kepada laki-laki itu lewat Short Message Service. ”Sarapan Mas, di sini ada roti, nasi hangat, ayam begana, serta teh manis, juga kopi.” Begitulah perempuan ini dengan bahasa yang lebay, dan enggak penting banget dalam SMS-nya.

”Ah, dasar penggoda. Jangan nawarin lewat Short Message Service dong. Kalau berani, kapan luangkan waktu buatku, makan bareng, seperti orang-orang kebanyakan yang sedang dimabuk cinta; apa kamu tak ingin makan bareng dengan pacarmu ini?” Balas laki-laki itu.

”Waduh, bahaya Mas. Hampir semua orang di kota ini mengenaliku. Kalau mereka melihat kita jalan berdua, bisa berantakan semuanya. Aku bisa dibanting sama suamiku. Kau lihat, kumisnya saja sangar. Ia sableng. Kacau, lebih mengedepankan okol ketimbang akal. Kalau ada masalah, kemana-mana bawaannya golok. Maklum lah, berpikirnya masih ortodok. Aku juga tak habis pikir. Kuliah pun, mungkin ijazahnya nembak. Begini dech, kalau kepengen makan bareng sama aku, kamu datang aja ke kantor. Pura-pura bertamu. Nanti aku sediakan makanan yang banyak, kita makan bareng. Bagaimana, sepakat?” Papar perempuan ini menanggapinya.

Kebiasaan untuk berbagi perasaan lewat Short Message Service, atau ceting di facebook ini pun selalu mereka lakukan setiap hari. Mulai dari pagi, siang, bahkan malam hari; terkadang ketika perempuan ini sedang asyik memakai lulur (maklum, usianya sudah hampir menekati lima puluhan, biar tak terlihat kendor), serta laki-laki itu sedang berjalan di garang matahari, di antara dinamika kota yang tak pernah surut dengan rupa-rupa peritiwa. Terkadang juga saat perempuan ini sedang di pasar buah, dan laki-laki itu duduk memandangi bokong setiap perempuan yang berseliweran di dalam mal yang tempatnya sejuk dan ber-ac. Namun, tak jarang, saat suaminya sedang asyik bermain laptop, sambil memunggunginya, perempuan itu pun cengar-cengir sendiri dalam hati, sambil mengirimkan pesan singkat lewat Short Message Service dengan laki-laki itu.

”Kau tau Mas, kami di sini sedang saling membelakangi. Ia tak tahu tuh, kalau diam-diam aku sedang bercanda dengan kamu,” katanya.

Namun, pada suatu ketika, saat perempuan ini tertidur pulas di samping suaminya, dan bermimpi entah terbang di langit yang ke berapa, tanpa disadari oleh laki-laki itu, ia mengirimkan pesan singkat lewat Short Message Service kepada perempuan kucing-kucingannya ini.

”Kok diam, mana mesranya?” Pesan singkat dari laki-laki itu.

”Kok mesra, sejauh apa sih, hingga aku harus mesra denganmu. Sepenting apa juga aku dalam hidupmu?” Balasan dari nomer seluller perempuan ini.

”Kok gitu, kamu engak serius, ya?” Laki-laki itu balik bertanya.

”Serius apanya?” Jawabnya singkat.

”Lah, ya serius cinta dan sayangnya sama aku lah?”

”Gubrak!!”

Seketika pula, kamar yang sedari tadi sepi itu menjadi pecah. Suami perempuan ini murka. Kasur dan ranjang berukuran nomer satu itu dijungkirkan. Perempuan ini ikut tersungkur. Bantal dan guling berserakan. Kapuk-kapuk berterbangan. Dengan wajah dan sebagian tubuh yang lebam, perempuan ini tersimpuh, menangis di pojok ruangan.

Sambil berdiri di hadapan perempuan ini, ia berkacak pinggang.

”Siapa laki-laki bedebah itu?!” Bentaknya. Ia tidak menjawab, bibirnya keluh. Badannya semakin menggigil, ketakutan.

”Ayo jawab?!” Bentaknya semakin keras.

”Kau tahu, laki-laki itu mengirim pesan untukmu saat kau lelap. Aku membacanya, dan aku membalasnya seolah-olah dirimu. Hm, ternyata kamu bermain serong dengan laki-laki tadi. Kebiasaan, kamu. Dulu dengan berondong ketemu di salon. Sekarang dengan laki-laki lain. Apa saja yang sudah kau perbuat dengan laki-laki itu? Ayo, jawaaaab!” Bentaknya semakin keras lagi.

Sampai malam, sampai semua menjadi gelap, dan amarah suami perempuan ini meledak-ledak, ia hanya menangis. Menangis sedih. Bukan lantaran sedih kehilangan laki-laki itu. Tapi sedih, mengapa hubungannya bisa diketahui oleh suaminya.

”Dasar, kacangan. Katanya professional. Enggak tahunya memble. Gombal mukiyo!” Gerutu perempuan ini kepada laki-laki selingkuhannya itu.

Suami perempuan ini pun keluar, mencarai di mana laki-laki itu. Dengan nomor yang berbeda, ia mencoba menghubungi. Tapi laki-laki itu tak mau menjawabnya. Diam, tak mau bersuara. Enggan menanggapi suami perempuan ini. Ia lebih asyik menikmati gurihnya kacang rebus dari tetangga sebelah rumah. Ya, kacang oleh-oleh dari kampung yang gurih, segurih malam itu, sambil ia membayangkan bibir perempuan ini. Ingin segera melumatnya. Melumat seperti bara api yang menjilat seisi gudang Kosambi yang panas membara, berkobar-kobar. Pikirannya nakal, semakin liar. Sementara, suami perempuan itu tak kuat menahan isterinya berpindah hati ke laki-laki lain.

”Bangsat kamu, ya?! Dasar bedebah!” Berkali-kali ia mengirimkan pesan singkat ke seluller laki-laki itu. Namun, tak satu pun digubris.

”Bodo amat, lah! Dasar, wong gemblung. Sakit jiwa. Dirinya selingkuh aja isterinya diam. Eh, giliran isterinya dekat dengan laki-laki lain, emosi. Egois!”  Batin laki-laki itu setiap kali ia usai membaca pesan singkat dari suami perempuan ini.

*

Udara di pesisir Pantai Utara semakin menyengat. Pijar mentari dari hari kehari semakin menggarang seisi jagat. Sebuah surat kabar harian umum lokal memberitakan, suhu udara hampir mendekati angka 35 derajat celsius. Sudah melebihi batas normal. Bumi Teluknaga pun semakin gersang. Kali-kali diambang kekeringan. Sawah-sawah retak. Daun-daun mulai rontok. Pohon-pohon nyaris tinggal tulang. Suami perempuan itu duduk di sofa, di depan kopi, di hadapan laptop sambil memandangi foto isterinya. Foto isterinya yang cantik, mirip bintang film, dan penyanyi yang pernah gagal mencalonkan diri sebagai bupati di Cirebon. Sesekali juga memandangi fotonya sendiri. Ia mengenakan topi seperti koboy, dengan kaos oblong bermotif batik Pekalongan, berwarna coklat putih.

”Aku ini gagah kok. Lumayan, cakep lah. Mirip konglomerat yang di majalah-majalah,” batinnya mengagumi dirinya sendiri, sambil membuka-buka file foto-foto di laptopnya.

”Tapi, kok..,” tiba-tiba dia teringat kepada laki-laki itu. Jiwanya kembali murka. Mukanya memerah.

”Gubrak!!” Situasi kembali pecah. Kopi di hadapannya ditendang, gelas terpental, keluar, jauh sampai halaman rumah. Tiga orang kawanan tukang rongsok yang melintas, kaget, lari tunggang langgang.

”Ada apa, Cing?” Tanyanya.

”Ada orang mengamuk,” timpalnya, sambil bergidik.

”Bukan orang mengamuk, tapi orang sakit jiwa. Kepengen jadi pemain Timnas, tak kesampaian. Jadi, apa yang ada di hadapannya ditendang-tendang, seperti menendang bola.”

Hitam legam kopi berceceran. Kakinya berdarah. Tak dirasakan, kecuali perasaan hati yang sudah mendidih, terbakar api cemburu.

”Bangsat! Bedebah!” Kata suami perempuan itu.

Dengan langkah penuh emosi, ia menghampiri golok yang digantung di ruang tengah. Dicabut dari kerangkanya, dimasukkan kembali, sampai berulang-ulang, sambil membayangkan laki-laki itu mencumbui isterinya di kamar hotel—seolah, paha isterinya ini dibuka lebar-lebar, ditindih; busananya berserakan di lantai; rintihan mulut isterinya mendesah, berubah bagai suara kobaran api yang menjilat-jilat gedung bertingkat, panas. Gedung panas itu adalah hatinya. Amarahnya semakin hebat. Ingin segera menghunuskan golok ke tubuh laki-laki itu. Ya, tubuh laki-laki yang sedang mengeksekusi isteri di kamar hotel dalam bayangannya.

”Gubrak!”

”Bangsat! Bedebah!”

Sementara, laki-laki itu sedang asyik pada dunianya. Ia mulai melupakan perempuan ini. Tak ada lagi yang istimewa darinya. Karena, menurutnya, perempuan semacam ini hanyalah obyek untuk mengimplementasikan pikiran liarnya. Ya, hanya untuk membidik setiap insiprasi dalam hidupnya. Ia meyakini, tak mungkin bisa hidup bahagia dengan perempuan ini. Karena, ia juga menyadari, hidup terpaut sepuluh tahun lebih muda dari seorang perempuan akan lebih beresiko tinggi dalam setiap mengambil keputusan. Apalagi, ia sudah menjadi isteri orang, bercucu pula.

Suami perempuan ini masih dalam luapan emosi stadium tinggi. Amarahnya semakain meledak-ledak. Golok dalam genggamannya tak sudah-sudah ia keluar masukkan dari sarung. Yang ada dalam pikirannya hanyalah laki-laki itu. Laki-laki yang telah dianggap merebut isterinya.

Sementara, sang bilal sudah tiga kali berubah wujud; dari bentuk semula, berubah, dan kembali lagi ke dalam bentuk yang sama. Sawah-sawah yang retak sudah rapat oleh genangan air hujan dari langit; ranting-ranting menyerupai tulang sudah dihiasi dedaunan hijau; serta kali-kali yang tandus berkelok indah dengan gemercik air yang mengalir sampai ke bibir pantai.

Bumi Teluknaga kembali pada suhu udara batas normal. Bayangan laki-laki itu masih belum bisa sirna dari pikirannya. Laki-laki itu semakin liar mencumbui isterinya di kamar hotel, dalam prasangkanya. Berpindah-pindah, dari hotel satu ke hotel yang lain. Kadang-kadang di semak-semak, di pinggir pantai, di sekitar barisan pohon mangrove yang rimbun menghadang abrasi, efek dari pembangunan yang tak pernah memihak pada nasip kaum pantai.

”Gubrak!”

”Bangsat! Bedebah!” Ledakan emosi suami perempuan itu kembali pecah, semakin hebat. Kini ia berlari ke dalam dapur, di mana perempuan ini sedang asyik membakar makanan laut yang diambil langsung dari nelayan tadi sore. Semakin beringas. Bara api pembakar makanan laut di hadapan isterinya itu ditendang. Cumi-cumi, cuek, udang, dan kembung berceceran. Berserakan. Perempuan ini pun lari. Seperti UFO, piring-piring berterbangan: gelas-gelas pecah, berantakan.

Sampai akhirnya, tak satu pun bisa meredam murka suami perempuan ini. Kecuali perempuan lain yang pernah sejenak singgah dalam hatinya. Perempuan yang ia kenal dalam sebuah pertemuan, serta nama, alamat, dan nomer telponnya tersimpan rapi di dalam bukunya. Ya, buku yang juga pernah menyulut api cemburu perempuan (isterinya) pada awal perkawinan.

Sebagai pengobat sakit hati kepada isterinya, setiap kali bertemu dengan perempuan masa lalunya, ia selalu melakukan seperti bayangan laki-laki itu saat mencumbui isterinya—berpindah-pindah, dari satu hotel ke hotel yang lain, terkadang juga di semak-semak.

Pikiran perempuan, isteri laki-laki yang juga berselingkuh itu pun menghilang entah ke mana. Bukan pada laki-laki itu, tak pula pada suaminya. Namun, berubah menjadi seperti lilin. Menerangi gelapnya malam, sampai meleleh, habis, hilang dimakan api.

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update