oleh

Kacung Mbarik (Jadi Budak di Negeri Sendiri)

Ketika malam, dan insomnia hinggap di kedua bola matanya, Kacung Mbarik menguraikan kegelisahannya dalam sebuah cerita sebelum ia tinggal di Ibu Kota Jakarta. Ia memaparkan pengalamannya dalam beberapa lembar kertas yang dibawa dari ruang kantor, di pabrik kutang tempatnya bekerja.

Lalu, mulailah ia bercerita;

Awalnya saya membayangkan, Jakarta adalah kota besar yang hanya berpenghuni orang-orang kaya, hidup bergelimang kemewahan dan serba berkecukupan. Semua yang ada di desa di kota ada—tidak sebaliknya—yang ada di kota di desa belum tentu ada. Itu artinya, orang-orang di sini mempunyai taraf hidup yang jauh lebih sejahtera ketimbang orang-orang di desa. Sebab, peluang untuk mendapatkan mata pencaharian, tentu akan lebih besar pula dibandingkan orang-orang yang ada di desa.  

Saya masih ingat, sebelum berangkat meninggalkan desa, Simbok membelikan saya baju-baju yang baru.

”Lihat Cung, ini Simbok belikan baju-baju yang baru. Sengaja Simbok belikan kamu empat setel. Warnanya pun Simbok pilih yang ngejreng, dan berbeda-beda. Ada merah, biru, cream, dan coklat. Supaya pakaianmu kelihatan banyak, dan kamu akan terlihat keren,” kata Simbok.

Memang, Simbok selalu beranggapan bahwa orang-orang di kota itu setiap hari berpakaian bagus-bagus. Tak seperti di desa, memakai pakaian bagus hanya pada waktu kondangan atau Hari Raya Idul Fitri. Dalam pikiran Simbok, pakaian bagus yang dimaksud itu adalah pakaian yang baru saja dibeli dari pasar, bukan karena ber-merk, atau harganya mahal.

1997, beberapa bulan setelah pemilu terakhir rezim orde baru, tepatnya pada bulan September. Seiring do’a yang tulus dari Bapak dan Simbok, saya beranjak meninggalkan desa. Tekat saya sudah benar-benar bulat, ingin mengukir masa depan di ibu kota. Ya, Ibu Kota Jakarta. Saya akan bekerja di kota itu. Tak seperti di desa yang hanya ke sawah, ladang, atau mencari rumput untuk sapi dan kambing. Yach, pokokoknya keren lah. Keren..keren..keren.

Saya berangkat naik kereta api kelas ekonomi. Maklum saja saya belum punya penghasilan dan gaji sendiri. Dari pada saya harus membeli tiket bus yang exekutif, ber-AC, dan harganya selangit, mendingan uang dari Bapak dan Simbok itu saya gunakan untuk  tambahan bekal hidup di Jakarta. Lagi pula, perjalanan malam hari udaranya kan dingin. Kalau harus berlama-lama di ruangan AC pasti saya akan semakin menggigil. Bisa-bisa sampai Jakarta malah masuk angin. Terus, kalau sampai Jakarta sakit, gue harus bilang wow gitu?

*

Pada lembaran-lembaran kertas yang dibawa dari ruang kantor pabrik kutang tempatnya bekerja, Kacung kembali memaparkan kegelisahannya.

Dan, mulailah ia kembali bercerita;

Jakarta. Ya, saya sekarang sudah hidup di Ibu Kota Jakarta. Kota metropolitan yang sedang disulap menjadi megapolitan. Kota terbesar dan termegah di seantero negeri. Kota yang menjadi barometer dari berbagai segi dan aspek kehidupan. Ekonomi, perdagangan, pendidikan, sosial, kebudayaan, pertahan dan keamanan, bahkan agama sekalipun. Lihat saja, semua kantor yang membidangi semua itu berada di kota ini. Malah undang-undang juga lahir di kota ini. Sungguh hebat sekali kota Jakarta. Tak salah jika saya menyebutnya sebagai barometer dari berbagai aspek kehidupan. Sudah sepatutnya; perekonomian, pendidikan, tingkat sosial, budaya, moral serta tingkat kesadaran hukum orang-orang di sini harus melebihi di atas rata-rata masyarakat yang berada di pelosok-pelosok sana. Namanya juga ibu kota, kalau kalah sama yang di daerah malu dong? Masak ibu kota kok memble.

Satu kebanggaan tersendiri dalam hidup saya, bisa hidup di kota pusatnya kota-kota yang ada di seantero negeri—walau terkadang sering mengumpat dalam hati. Keki, melihat kehidupan yang tak seimbang dengan kenyataan yang ada. Yang kuasa semakin congkak, dan yang lemah semakin terinjak-injak. Begitulah yang saya lihat selama ini.

Meskipun saya hanya sebagai pekerja buruh autsourching di sebuah pabrik kutang, namun saya menjalani hidup ini penuh dengan rasa syukur. Tak neko-neko. Tak seperti kaum buruh yang lainnya—yang suka demonstrasi, berunjuk rasa di sepanjang jalan, di gedung-gedung parleman, atau di istana negara. Minta ini-minta itu, sampai membuat jalanan menjadi macet. Kalau sudah begitu kan kasihan bapak sopir atau masyarakat lain pengguna jalan yang sedang melakukan aktivitas mencari nafkah. Selain itu, saya tak mau dicap sebagai laten komunis. Karena tak sedikit gerakan-gerakan buruh yang haluannya kiri, sekuler. Saya tidak anti komunis, tapi saya hanya ingin hidup ini wajar dan baik-baik saja.

Saya tak terlalu banyak menuntut; cukup pemerintah benar-benar menjalankan semua kebijakan-kebijakan yang telah dibuat, serta mengawasi kebijakan-kebijakan itu agar tak diselewengkan oleh para stakeholder atau manusia yang berkepentingan meraup keuntungan pribadi—atau pemerintah tak perlu lagi membuat kebijakan-kebijakan yang mudah diplintir sehingga merugikan kaum buruh seperti saya, itu sudah cukup.

Dengan demikian, program pengentasan kemiskinan bukan sekadar slogan, omong doang, memble, atau apa itulah namanya. Agar orang-orang seperti saya tak lagi menjadi budak di negeri sendiri.

Apalagi sejak diciptakan undang-undang No 13 Tahun 2003, tentang ketenaga kerjaan. Kehidupan kaum buruh seperti saya semakin terpojok. Jangankan yang sudah bekerja bertahun-tahun, yang baru mau melamar kerja pun sudah dibikin susah oleh oknum sialan. Bayangkan saja, mau masuk kerja sebagai buruh kasar tukang buang benang, atau tukang dorong-dorong lori saja harus melalui yayasan penyalur tenaga kerja, enggak jelas—nyogok uang pula. Gombal! Lebih edan lagi, pelakunya malah oknum serikat buruh sendiri. Negeri macam apa ini?

Dari situlah, saya jadi teringat tentang seorang manusia yang gemar memakan daging manusia. Saya menyebutnya manusia kanibal. Seumur hidup saya, ini adalah manusia tersadis yang pernah saya lihat. Saya sepakat, dan semua orang yang pikirannya waras juga pasti akan setuju jika manusia seperti ini adalah manusia gemblung, dan pantesnya masuk rumah sakit jiwa. Bayangkan saja, manusia kok makan daging saudaranya sendiri. Dasar manusia rusak! Manusia sialan! Tak punya perasaan! Hidup sudah susah masih juga dibikin susah! Dasar kampret! Sontoloyo!

Andai saja Paimo yang jadi presiden, sayalah orang yang pertama kali menyarankan agar ia membuka mata lebar-lebar dan melihat jauh ke bawah—bagaimana buruknya sistim pelaksanaan undang-undang bikinan pemerintah itu. Upahnya perbulan saja tak layak untuk mencukupi hidup dan makan satu bulan, dan kalau pun cukup itu tak standar gizi yang layak, eh masih juga direcokin. Dasar geblek! Penjajah! Otak rentenir! Lintah darat!

Sayang, Paimo hanyalah rakyat biasa yang merasakan nasip dalam gelombang hidup yang sama—menjadi budak di negeri sendiri.

Tiga belas tahun sudah saya jalani hidup di kota ini. Selama itu pula sudah lima belas kali saya harus berpindah tempat tinggal. Maklum saja, untuk pekerja buruh pabrik seperti saya rasanya tak terlalu bermimpi tinggi untuk bisa memiliki tanah dan rumah pribadi di Jakarta. Mendapatkan kontrakkan yang murah saja sudah sangat bersyukur. Kecuali, pemerintah membuat program pro-rakyat yang memberikan subsidi tanpa syarat, kredit rumah dengan harga yang super murah, tanpa uang muka, dan cicilan sesuai dengan kemampuan masyarakat—mungkin saja dalam waktu dekat saya bisa hidup nyaman di rumah sendiri.

*

Malam pun semakin merayap. Hawa dingin mulai menyusup lewat pentilasi dan bolongan bilik kontrakan—membaur ke seluruh ruangan—dan, perlahan menggerayangi tubuh Kacung yang mulai menggigil.

Ia masih terus menguraikan kegelisahannya dalam sebuah cerita pada lembaran-lembaran kertas yang dibawa dari ruang kantor pabrik kutang tempatnya bekerja. Dalam ceritanya kali ini, ia juga menuliskan sebuah surat untuk Bapak dan Simbok di desa.

Dan, mulialah ia meneruskan kembali ceritanya;

Mbok? Jakarta ini tak seperti yang pernah Simbok bayangkan—yang katanya orang-orangnya keren, hidup bergelimang kemewahan, serba kecukupan, dan berpakaian bagus-bagus.

Kemewahan hanya menjadi tontonan ’Mas Kumis’.

Bapak dan Simbok tahu, apa itu ’Mas Kumis’?

Mas Kumis itu bukan keponakan Lek Klowor yang jadi pegawai negeri nyogok lima puluh juta.

Bukan, Mbok!

Mas Kumis itu masyarakat yang kumuh dan miskin.

Iya Mbok, masyarakat kumuh dan miskin.

Kemewahan hanya menjadi iming-iming yang terpajang di setiap sudut tempat, yang membuat mereka dan kita semua ngiler. Hidup enak; bergelimang kemewahan, serba kecukupan dan keren itu hanya milik orang-orang yang mempunyai kekuasaan  serta duitnya banyak—meskipun hartanya dari hasil korupsi. Itu pun orang-orang yang lolos dari pengawasan Indonesian Corruption Watch serta jeratan KPK, alias kebal hukum.

Bapak dan Simbok tahu, siapa manusia yang kebal terhadap hukum itu?

Mereka adalah manusia-manusia tikus yang korup. Duitnya banyak, jika dimasukkan ke dalam karung mungkin saja bisa berpuluh-puluh karung. Uang-uang itu yang menjadikannya manusia sakti yang kebal hukum. Jangankan yang lolos dari kejaran KPK, yang jelas-jelas sudah dimasukkan ke dalam kerangkeng saja masih bisa keluyuran kesana-kemari, malah ada yang sempat nonton bulutangkis.

Buat orang-orang lemah, apa lagi buruh pabrik seperti anakmu ini, Jakarta hanyalah sumber dari segala macam mimpi. Ya, mimpi yang selalu mengganggu pikiran dan nyenyaknya tidur.

Mbok, sampaikan juga salam saya buat bapak kepala sekolah. Tandatangan dan kertas ijazah itu, sekarang sudah tak populer untuk mencari kerja. Sudah tak laku. Sebab track retingnya sudah kalah tanding dengan kertas-kertas yang bertuliskan angka-angka, bergambar pahlawan, dan ditandatangani oleh Gubernur Bank Indonesia, yaitu duit.

Di sini, lapangan pekerjaan hanya membutuhkan orang-orang yang punya uang. Ijazah hanya formalitas—bahkan bisa dibeli, seperti beli trasi. Dengan uang semua bisa menjadi beres. Makanya, kalau tak punya uang, biarlah hidup di desa mungkin akan lebih baik sebelum jauh terbenam dalam kehidupan yang belum jelas.

Lagi pula Jakarta sudah terlalu sempit. Bayangkan saja, luasnya hanya sekitar 661,52 km2, dan telah dihuni oleh puluhan juta manusia—yang setiap harinya terus berkembang—dan tentu saja mempunyai kebutuhan yang sama; butuh sandang, papan dan pangan.

Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin bisa hidup keren, sejahtera, dan senang—apalagi  jika kita harus bersaing secara tak sehat di jaman yang sudah gila ini. Lihat saja berita di televisi, bagaimana menakutkannya manusia-manusia di sini dalam mencari makan? Tak segan-segan mereka melakukan apa saja, yang penting perut bisa kenyang.

Belum lagi permasalahan yang lain, permasalahan yang sering kali membuat anakmu ini risi dan malu, yaitu membuang kotoran. Ya, membuang kotoran. Anakmu ini harus membuang kotoran di tempat padat yang WC-nya berdempetan dengan sumur dan tempat tidur. Kadang-kadang kalau pas mampet, tak jarang anakmu ini harus bangun lebih pagi, nongkrong di pinggiran kali yang airnya sudah tak berupa lagi—terkontaminasi oleh berbagai limbah, yang salah satunya adalah limbah anakmu juga, Mbok.

Tetapi Bapak dan Simbok tak perlu khawatir, anakmu ini akan baik-baik saja. Anakmu tak akan pernah lupa dengan nasehat Bapak dan Simbok—jujur, sabar dan bekerja keras. Anakmu tak akan buta oleh kemilau kemewahan yang selalu menyilaukan mata-mata yang melihat. Meskipun di pabrik kutang ini anakmu mempunyai posisi dan kedudukan yang sangat penting dan berpeluang untuk bisa melakukan manipulasi—selap-selip seperti para koruptor kelas kakap—anakmu tak akan korupsi. Anakmu akan tetap menjaga nama baik dan kehormatan keluarga.

Anakmu akan tetap tabah dengan upah yang walau pun itu sebenarnya sangat tidak layak. Karena anakmu ini sadar, memang begitulah kenyataan hidup di negeri ini. Tetapi, seperti yang Bapak dan Simbok ajarkan, belajar berbahagia dengan segala apa yang kita miliki akan jauh lebih penting, ketimbang menjalani hidup bergelimang gengsi dan mengelabuhi ketidak mampuan serta kelemahannya dengan kepalsuan-kepalsuan, yang kesemuanya itu hanya membuat orang lain menderita.

Tidak lupa, anakmu ini juga menitipkan salam untuk semua keluarga di desa. Anakmu juga mohon do’a restu, semoga dapat kembali pulang membangun desa, dan segera terbangun dari mimpi-mimpi yang semu. Bukan hanya sekadar menjadi budak di negeri sendiri.(*

Oleh: Widi Hatmoko

Banner IDwebhost

Komentar

News Update