oleh

Nasib Tragis Penembang Kawih “Kanaya” Karya Rini Intama Dibedah

LENSAPENA | Puisi bertajuk “Kanaya” karya Rini Intama dibedah, di Studio Film Dinas Perpustakaan dan Arsip (Perpusip) Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, beberapa waktu lalu.

Kanaya diambil dari kata Sansekerta. Namun dalam buku kumpulan puisi ini, Kanaya kemudian dijadikan nama perempuan dari Suku Sunda. Perempuan itu sinden atau penembang kawih.

Perempuan dan sinden adalah teks yang dieksplorasi Rini. Dengan teks itu, Rini yang sebelumnya juga menulis buku kumpulan puisi bertajuk “Kidung Cisadane”, ingin mengisahkan tentang romantisme masa lalunya, yakni budaya Sunda yang telah mewarnai langkah-langkah spirit hidupnya, pikiran-pikiran, dan jiwanya juga.

Sinden tentu saja sangat dekat dengan dunia kawih (tembang) yang sarat dengan pesan-pesan dan makna-makna filosofinya yang dalam dan luas. Karena itu, dalam buku kumpulan puisi ini, ada banyak contoh kawih seperti lagu-lagu kaulinan urang lembur untuk anak-anak yang ditulis ulang Rini dalam beberapa puisinya.

Bukan sebuah kebetulan Rini mengolah kawih dalam buku kumpulan puisinya ini, memang secara sosiologis Rini sangat dekat dan cinta dengan budaya itu. Bahkan dulu, ibunya kerap meminta Rini menghapal berbagai keindahan jenis kawih.

Dalam kerja-kerja kreatifnya pun, Rini tidak pernah serampangan dalam menulis puisi. Namun ia selalu berangkat dari riset, observasi atau studi pustaka. Karena itu, narasi dan wacana dalam puisi-puisi Rini tampak lebih luas, dalam, dan cerdas.

Kecerdasan dalam menulis puisi itu, bisa dilihat dari cara Rini mengolah tema, mengolah diksi, mengolah pesan, menata frasa, meramu kalimat, membangun imaji, mencipta simbol dan metafor serta menyusun konstruksi puisi, sehingga selain puisi-puisinya lebih indah, juga menjadi lebih hidup, punya ruh, punya jiwa dan relevan dengan perasaan-perasaan budaya Sunda.

Sinden meski dekat dengan dunia kawih dan pesan-pesan filosofisnya yang kuat tentang Tuhan, alam dan bumi, perjalanan, manusia serta kehidupan, namun nasib sinden seringkali tragis. Misalnya di era milenial ini banyak sinden yang kehilangan dan terasing dari pekerjaannya, karena manusianya sudah beralih pada produk-produk teknologi.

Namun sinden sebagai manusia dan sebagai perempuan yang memiliki watak pengabdian yang kuat, ia tetap saja tabah dan setia sebagai penyenandung kawih yang selalu ingin memberikan gairah hidup pada pendengarnya atau penontonya.

Sekadar informasi, hadir sebagai narasumber bedah buku tersebut, Teteng Jumara yang juga penyair, penulis, budayawan dan mantan Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Tangerang.

Selain itu hadir pula guru-guru, pecinta puisi dan sastra, penyair dan penulis di Kabupaten Tangerang, seperti Iis Komariningsih (penyair), Navys Ahmad (penulis), Ihah Parihah (penulis dongeng), Supi El Bala (sejarawan), dan undangan lainnya.

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update