oleh

Resume Perubahan Hari Jadi Kabupaten Tangerang

Kabupaten Tangerang sebelumnya telah memiliki hari jadi pada tanggal 27 Desember 1943, yaitu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Tingkat II Tangerang Nomor 18 Tahun 1984. Penetapan tersebut merujuk pada Pembentukan Tangerang Ken oleh Pemerintah Militer Jepang pada 27 Desember 1943 berdasarkan Osama Serei Nomor 34 Tahun 1943.

Akan tetapi secara historis diketahui bahwa wilayah yang bernama Tangerang, tidak dimulai sejak ditetapkan sebagai sebuah Kabupaten, secara sosiologis pun, pengakuan masyarakat terhadap wilayah yang bernama Tangerang tidak dimulai sejak ditetapkannya sebagai sebuah kabupaten, melainkan jauh sebelum tahun 1943.

Hal itulah yang menjadi dasar pertanyaan masyarakat mengenai hari jadi Kabupaten Tangerang, apakah di tahun 2019 ini memang baru berumur 76 tahun saja ?

Berdasarkan kondisi itulah, Pemerintah Kabupaten Tangerang meminta Tim Akademisi untuk melakukan kajian ulang, apakah ada tanggal lain yang lebih tepat, untuk dijadikan hari jadi Kabupaten Tangerang. Kemudian Tim Akademisi membuat kajian, dan hasil kajiannya disusun sebagai naskah akademis tentang Perubahan Hari Jadi Kabupaten Tangerang yang disusun atas permintaan dari Pemerintah Kabupaten Tangerang karena adanya keinginan dari masyarakat Kabupaten Tangerang untuk mengubah hari jadi Kabupaten Tangerang, pada tanggal lain yang lebih tepat dalam berbagai aspek, sebagai hari jadi Kabupaten Tangerang yang ideal.

Kajian mengenai hal ini dilihat dari tiga aspek yaitu aspek historis, aspek legal/hukum, dan aspek sosio-antropologis (aspek makna simbolis bagi masyarakat Kabupaten Tangerang secara sosioantropologis). Aspek historis dikaji oleh Prof. Dr. Nina Herlina, M.S dan Dr. Miftahul Falah, M. Hum, sedangkan aspek hukum dikaji oleh Dr. Hernadi Affandi, SH., LL.M., dan aspek sosio-antropologi dilakukan oleh Ade Makmur Kartawinata, Ph.D. Sistematika hasil kajian tidak semata-mata dilakukan secara ilmiah saja, tetapi merujuk juga pada peraturan perundang-undangan yang berlaku sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia no. 53 Tahun 2011 tentang pembentukan Produk Hukum Daerah.

Hasil pengkajian kemudian diuji-publikkan melalui seminar pada 21 November 2018 di Gedung Sport Center Citra Raya, Panongan, Kabupaten Tangerang. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang terdiri atas unsur eksekutif, unsur legislatif, unsur perguruan tinggi (dosen dan mahasiswa), para budayawan, tokoh masyarakat, ormas dan berbagai LSM terkait dari Kabupateng Tangerang, antara lain dari Balai Adat Ka-Aria-an Tangerang. Hasil kajian dan Uji Publik tersebut menyepakati, bahwa Hari Jadi Kabupaten Tangerang yang ideal dan lebih tepat dari berbagai aspek adalah pada tanggal 13 Oktober 1632 M. Dengan dasar analisis dan kesimpulan dari tiga aspek sebagai berikut:

Aspek Historis

Berdasarkan kronologis sejarah Tangerang, nama wilayah yang disebut Tangerang sudah dikenal pada tahun 1513 berdasarkan informasi dari Tome Pires, akan tetapi nama tersebut tidak merujuk pada wilayah pemerintahan, melainkan sebagai nama salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda, yaitu Tamgara, sumber ini juga tidak menyebut tanggal keberadaan Tamgara.

Dalam sumber pribumi, naskah Paririmbon Ka-Aria-an Parahijang, yang disusun oleh Bale Adat Kaoem Parahijang atas perintah Kangjeng Aria Gerendeng V, R.A. Idar Dilaga tahun 1830; disebutkan bahwa pada Rebo – Pon Ba’da Mulud 1042 Hijriah atau pada tanggal 13 Oktober 1632 masehi, Sultan Banten melantik dan memberi perintah di Pasanggrahan Kadu Agung kepada Pangeran Suriadiwangsa II mewakili para Tiga Raksa (Pangeran Suriadiwangsa II, Pangeran Aria Jaya Santika, Pangeran Wiraraja II/R.A Wangsakara); untuk membuka perkampungan baru di wilayah antara Cisadane dan Cidurian. Kampung tersebut kemudian dikenal dengan nama Lengkong Sumedang, menjadi cikal bakal wilayah Keariaan Tangeran yang kemudian berubah lafal menjadi Tangerang.

Kemudian Raden Aria Wangsakara diangkat sebagai Aria Tangerang oleh Sultan Banten. Wilayah keAriaan ini dapat dianggap setara dengan kabupaten. Jadi dilihat dari aspek historis, meskipun tanggal ini terdapat dalam sumber sejarah di tahun 1830, Namun dalam ilmu sejarah dikenal prinsip ”argumen ex silentio”, tanggal ini dapat dianggap benar selama belum ada sumber lain menyangkalnya.

Mengenai konversi historis, Rebo-Pon Ba’da Mulud 1042 Hijriah ke penanggalan tahun Masehi; dari keterangan budayawan Balai Adat Ka-Aria-An Tangerang R.TB. M. Nurfadhil Tirtayasa, S.Sos., M.A. dalam Seminar Uji Publik dan tercatat pula dalam buku “Tangerang dari Masa ke Masa, diterbitkan Pemerintah Kabupaten Tangerang, Desember 2018 halaman 79; bahwa sudahlah betul, dapat dipastikan bertepatan dengan tanggal 13 Oktober 1632 masehi dikarenakan faktor perhitungan hari dan pasaran, Rebo – Pon. Apabila perhitungan hari dan pasaran ini terabaikan, maka perhitungan pengkonversian ke penanggalan masehinya bisa luput kurang tepat, jatuh sesudah tanggal 13 Oktober 1632.

Aspek legal

Dilihat dari aspek legal, tanggal 13 Oktober 1632 ketika Tiga Raksa/iga Maulana/Tiga Pangeran membuka perkampungan baru, merupakan perintah dari Sultan Banten, tidak mungkin dilakukan secara lisan, dan biasanya ditulis melalui sebuah surat keputusan. Jadi penanggalan itu bersifat legal dan memenuhi syarat aspek legal tentang didirikannya Kabupaten Tangerang.

Aspek simbolis

Dilihat dari Aspek simbolis, surat keputusan Sultan Banten tentang pengangkatan para Tiga Raksa sebagai pemimpin yang mengelola kawasan daerah Tangerang dan Raden Aria Wangsakara kemudian menjadi Aria Tangerang yang setara dengan Bupati Tangerang, dilakukan oleh kaum Pribumi yaitu Sultan Banten, hal ini sangat membanggakan bagi kita. Sementara itu pada momen sejarah yang lain tentang pengangkatan para pemimpin di Tangerang lainnya; surat pengangkatan Kiyai Aria Soetadilaga sebagai Bupati Tangerang I tertanggal 2 Juli 1682 adalah keputusan Gubernur Jendral VOC yang tertuang dalam dagh-register.

Peristiwa ini tidak memberikan kebanggaan kepada kita dan bukan merupakan suatu tanggal yang patut dikenang karena merupakan produk penjajah VOC Belanda. Selain itu, pada momen sejarah lain, yakni pada tanggal 27 Desember 1943 adalah produk pemerintah penjajah pendudukan Jepang, jelas tanggal ini juga tidak memberikan kebanggaan kepada kita dan juga tidak ingin kita kenang. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tanggal 13 Oktober 1632 paling memenuhi kriteria dilihat dari aspek historis, aspek legal dan aspek simbolis untuk dijadikan Hari Jadi Kabupaten Tangerang yang baru.

Oleh: Balai Adat Ka-Ariaan Tangerang

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE