oleh

Retno Purwani, Ingin Mengajak Perempuan Menjadi Lebih Berkualitas

LENSAPENA | Perkembangan teknologi yang semakin melesat maju, terutama akses internet, memberikan kemudahan kepada siapa pun untuk melakukan banyak hal. Penggunaan gadget, misalnya, dalam satu menit saja sudah bisa berinteraksi dengan ratusan bahkan ribuan orang, berbagi dan mendapat informasi.

Namun, problem sosial dan ekonomi yang kerap muncul di masyarakat, menimbulkan banyak kekhawatiran. Dan, sudah bukan rahasia umum, banyaknya berbagai aplikasi media sosial justru malah banyak menimbulkan prilaku negatif yang mengarah kepada penyakit masyarakat. Terutama bagi perempuan: banyak yang mengalami persoalan sosial dan ekonomi, menjajakan dirinya melalui media sosial.

Hal ini pula yang menjadi kegelisahan Retno Purwani, salah seorang aktivis perempuan dan penggiat UMKM di wilayah Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Dari situ pula, perempuan yang akrab dipanggil Nana ini, beropsesi ingin menularkan jiwa kewirausaannya tersebut pada wanita-wanita penyandang problem sosial.

Saat ditemui dalam kegiatan ajang Pemilihan Perempuan Inspiratif yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang beberapa waktu lalu, Nana mengaku, banyaknya perempuan yang memilih jalan yang salah dan memutuskan untuk menjadi perempuan penghibur atau pekerja seks komersial, bukan semata-mata karena keinginan atau tujuan hidupnya. Namun karena berbagai faktor: ekonomi, sosial serta lingkungan, ditambah mudahnya mendapatkan fasilitas untuk melakukannya.

“Faktor ekonomi, tidak mendapatkan lapangan pekerjaan, tidak punya ketrampilan, dan mudahnya mendapat fasilitas serta ada kesempatan. Nah, untuk mengurai persoalan itu, kita harus hadir untuk bisa memberikan solusi,” ujar Retno Purwani.

Dalam hal ini, sebagai seorang perempuan, Nana ingin mengajak kaumnya yang menyandang persoalan sosial ini untuk bisa memanfaatkan teknologi pada hal-hal positif. Artinya, tidak lagi membuka praktik prostitusi secara online, tapi menggunakannya untuk usaha yang positif.

Melalui usaha yang dia rintis, dirinya mulai mengajak beberapa perempuan eks pekerja seks yang ada di lingkungannya untuk ikut belajar berwirausaha di tempatnya. Mulai dari membuat boneka maupun keterampilan tangan lainnya. Dengan harapan, mereka tidak saja menciptakan produk, tapi bisa memanfaatkan teknologi untuk memasarkan hasil karyanya.

“Apa pun latar belakang mereka, saya ingin mengajak mereka menjadi perempuan yang berkualitas. Apalagi bagi mereka yang memiliki masa lalu seperti itu (eks-pekerja seks-red), saya selalu memberikan motivasi bahwa itu bukan halangan untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih maju,” paparnya.

Perempuan yang juga mengaku sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi di Tangerang ini, berharap mendapatkan dukungan dari banyak pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Karena, persoalan yang dihadapi oleh para wanita tuna susila ini, menurutnya, menjadi persoalan bersama, dan untuk mengurai persoalannya juga butuh sinergitas dari semua pihak.

“Jagan sampai mereka mendapatkan perlakuan yang kurang baik, karena bisa berdampak pada psikologis. Dan, yang paling penting adalah bagaimana agar mereka tidak kembali ke masa lalunya yang buruk,” katanya.

Banner IDwebhost

Komentar

News Update