oleh

SMKN 4 Kabupaten Tangerang Lestarikan Seni Degung dan Lengser

LENSAPENA | Di tengah hiruk pikuk K-Pop, dan gempuran terhadap budaya lokal yang terus mendesak, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 4 Kabupaten Tangerang berupaya untuk tetap melestarikan apa yang menjadi warisan adiluhung para pendahulu.

Di tangan, Dani, salah seorang guru di sekolah tersebut, para siswa diajak untuk lebih mencintai seni degung, yang merupakan salah satu seni musik tradisional atau gamelan Sunda. Pada saat Tangerang menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat, secara administratif, seni degung juga menjadi bagian seni dan budaya daerah ini. Pun demikian, setelah terjadi pemekaran daerah, dan Banten berdiri sendiri, serta Tangerang menjadi bagian dari Banten, masyarakat Tangerang masih merasa memiliki kesenian tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia tersebut.

Dani mengaku, dengan berbagai motivasi yang dia berikan, para siswa SMKN 4 Kabupaten Tangerang tersebut merasa memiliki tanggung jawab moral dalam melestarikan kesenian degung. Untuk terus memperluas pengetahuan masyarakat terhadap seni degung ini, kata Dani, pihaknya mencoba untuk tidak hanya tampil di acara sekolah atau acara yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang saja, tapi juga dalam acara-acara hajatan yang digelar oleh masyarakat pada umumnya.

“Tujuannya agar seni degung ini tetap membumi, dan masyarakat tetap mencintai budaya tradisional kita. Makanya, kalau ada acara-acara hajatan, kita juga siap tampil,” ujar Dani saat ditemui dalam salah satu acara di Kompleks Perumahan Sudirman Indah Tigaraksa beberapa waktu lalu.

Dalam seni degung ini, kata Dani, juga dikembangkan dengan lengser. Lengser atau Ki Lengser merupakan salah satu kesenian orang Sunda yang biasanya ditampilkan pada upacara adat mapag pengantin atau juga dalam penyambutan kedatangan para pejabat serta tamu negara.

Seni degung dan lengser di SMKN 4 Kabupaten Tangerang ini, kata Dani, dimainkan oleh para siswa dari latar belakang serta suku yang berbeda-beda: ada dari Sunda, Jawa dan daerah lainnya. Melihat antusias para siswa binaannya ini, Dani mengakui bahwa ternyata untuk menumbuhkan kecintaan generasi milenial terhadap seni dan budaya tradisional, perlu sentuhan hati serta pemahaman yang mendalam tentang bagaimana hebatnya para pendahulu dalam mewujudkan cipta, rasa dan karsa, sehingga masih bisa dirasakan oleh masyarakat hingga saat ini.

“Harapan kita, generasi kita tidak lupa dengan seni dan budayanya sendiri. Meskipun berpikir moderen, tetapi tetap pada jadi dirinya sebagai bangsa Indonesia yang memiliki ciri dan khas ke-Indonesiaannya,” tandasnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE