oleh

Warga Desa Carenang Minta Peninggian Jembatan dan Normalisasi Sungai Cidurian

LENSAPENA | Banjir yang terjadi di Desa Carenang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang sejak Rabu 1 Januari 2020, bukanlah pertama terjadi. Namun kali ini menjadi banjir terbesar setelah pada tahun 2002 silam pernah terjadi peristiwa serupa.

Banjir disebabkan karena intensitas hujan yang cukup tinggi di daerah Tangerang dan sekitarnya sejak 31 Desember 2019 kemarin. Sehingga debit air di Sungai Cidurian meluap dan merendam sawah dan rumah-rumah warga.

Kepala Desa Carenang, Eris Ris Haryadi mengungkapkan, meskipun pihaknya belum menerima informasi tentang adanya korban jiwa, namun banyak kerugian yang ditimbulkan oleh bencana banjir tersebut. Karena, ratusan rumah dan ratusan hektar sawah milik warganya terendam air. Bahkan, rumah salah seorang warga yang baru saja dibangun lewat program bedah rumah, juga ikut tergerus derasnya air Sungai Cidurian.

“Dulu pernah terjadi parah seperti ini, yaitu tahun 2002. Ini, semata-mata banjir karena air kiriman dari Rangkas, di Sungai Cidurian,” ujar Eris Ris Haryadi, Kamis 2 Januari 2020.

Eris juga berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang bisa segera meninggikan Jembatan Sungai Cidurian yang berada di wilayah desanya. Ia juga mencontohkan kejadian di Jembatan Kampung Nyompok Girang. Di kampung ini, kata Eris, luapan air dari Sungai Cidurian telah menenggelamkan sekitar 76 rumah warga dan puluhan hektar sawah. Belum di wilayah lainnya.

Hal senada juga diungkapkan salah seorang tokoh masyarakat Desa Carenang, Didi Rosyadi. Menurutnya, banjir sebenarnya terjadi setiap tahun. Hanya saja, pada tahun 2020 ini menjadi banjir terparah.

“Setiap tahun warga Desa Carenang terdampak banjir, dan persawahan gagal panen. Terutama di areal perkampungan dan persawahan seperti di Kampung Solear, Kampung Nyompok, Kampung Pulo Gede, Kampung Lembur, Kampung Slapajang, dan Areal Perswawahan Blok Rabak,” papar Didi Rosyadi.

Didi juga mengungkapkan bahwa banjir akibat luapan air dari Sungai Cidurian yang kondisi Daerah Aliran sunga (DAS) cukup dangkal, serta banyak pepohonan yang penghambat aliran air. Ditambah lagi pada setiap tikungan aliran sungai yang longsor.

Terkait hal ini, Didi meminta kepada Balai Besar Wilayah Sungai Cidurian untuk dapat melakukan normalisasi sungai tersebut.

“Harapannya ke depan pihak Balai Besar Wilayah Sungai Cidurian untuk dapat melakukan normalisasi sungai dan saluran pembuang,” katanya.

Selain itu, ia juga berharap kepada pemerintah daerah untuk segera meninggikan jalan dan jambatan yang melintas di Sungai Cidurian, terutama yang terdampak banjir dan berada di desa tersebut. Karena, jika tidak segera ditinggikan, apa bila sewaktu-waktu air sungai tersebut meluap, risikonya adalah banjir. Akibatnya rumah warga terendam serta lahan pertanian berpotensi gagal panen.

“Seperti Jembatan Kampung Slapajang, Jembatan Kampung Karoya, dan Jembatan Kampung Nyompok. Untuk Pemkab Tangerang dan Provinsi Banten, harapan kita bisa segera meninggikan jalan dan jembatan tersebut,” pungkasnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE