oleh

Seniman dan Manajemen, Ketua DKT: Sebuah Keniscayaan Zaman

Jika mengukur geliat kesenian di Kota Tangerang, kita tidak perlu meragukan lagi bahwa aktivitasnya lumayan meruyak. Perhelatan kesenian apapun bentuknya baik seni tari, seni rupa, seni musik, seni tradisi, teater, sinema, maupun sastra, sudah memperlihatkan intensitas pegiatnya.

Penyelengaraan Festival Cisadane dan Festival Budaya Nusantara yang didanai dari APBD Kota Tangerang, misalnya, terlepas belum efektif dan optimalnya kedua even yang diselenggarakan oleh SKPD Kota Tangerang itu, bahkan belum mampu memberi kontribusi positif pada gerakan kebudayaan di Kota Tengarang, tapi beberapa pegiat kesenian yang tampil di situ sudah menunjukkan profesinya yang digeluti dengan intens. Belum lagi aktivitas, even, atau helatan kesenian yang didanai secara mandiri oleh pegiatnya, hampir setiap pekan bisa kita saksikan. Walakin, pola kegiatan kesenian itu umumnya masih bersifat intern kelompok/komunitasnya.

Seniman-senimannya masih berada pada tahap presentasi (penampilan), belum sampai kepada penguatan posisi tawar (bargaining position) pada ranah sosiokultural secara wajar dan dinamis. Apalagi parameternya kita tarik ke wilayah materi kesejahteraan seniman sebagai umpan balik dari aktivitas berkeseniannya, boleh dikata masih jauh panggang dari api.

Kajian lebih mendalam terkait aktivitas kesenian di Kota Tangerang ini dirasa masih sangat jauh dari manajemen seni yang benar-benar mencitrakan integritas-profesionalisme seniman. Nyaris, di banyak kesempatan pengelolaan even berkesenian acap dikelola sendiri oleh kelompok/sanggar/komunitas seni yang bersangkutan. Kadangkala dari hal demikian sering terjadi kesemerawutan dalam tata kelolanya yang menyebabkan kiprah seniman yang bersangkutan seperti tak cukup diapresiasi oleh masyarakat.

Bukan hanya itu saja, masalah lainpun menerpa alam berkesenian Kota Tangerang yang tak kalah ruwetnya yaitu ketergantungan dan keterbatasan seniman di segala aspek baik finansial, kompetensi, eksistensi, fasilitas, dan lain-lain. Hal ini bukan saja menjadikan seniman sangat terbatas ruang geraknya tapi sedikit banyaknya turut mempengaruhi independensi seniman dan maju-mundurnya seni itu di masyarakat. Karena dalam setiap niat memunculkan karya-karya seni, seniman seringkali hanya menunggu even dari program dan/atau donasi pemerintah lewat komunitas seni, kampus seni, even dari pihak swasta yang bersifat non-profit atau hibah, dan undangan-undangan dari pihak-pihak yang berminat terhadap mereka untuk mengisi acara tertentu.

Sangat jarang kita melihat di lapangan seniman betul-betul independen menunjukan eksistensi dirinya, dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Artinya, seniman yang bersangkutan mampu memperlihatkan profesionalitasnya sebagai bagian dari dinamika seni secara luas (makro) dalam kehidupannya. Tanpa adanya dukungan manapun ia tetap eksis dan konsisten berkarya dan mempromosikan dirinya. Konsekuensi ini merupakan cerminan sebuah sikap profesionalitas yang benar-benar terlahir dari jiwa yang paling dalam sebagai seniman.

Pergerakan seniman dalam mengangkat harkat derajat karya seninya sudah semestinya ditopang oleh sebuah pola manajemen seni yang mampu berperan strategis dan dinamis untuk menjawab semua tantangan dan segala kemungkinan terhadap upaya mempertahankan eksistensi diri dan kesinambungan berkarya. Untuk mewujudkan hal itu, maka seniman sudah semestinya bersinerji dengan berbagai pihak yang mau dan mampu memperjuangkan atau membangun seni untuk kemajuan bersama lewat kerjasama saling menguntungkan satu sama lain dengan memperhatikan aspek-aspek yang berlaku sesuai peran masing-masing.

Manajemen seni yang profesional dengan aplikasi yang tepat tentu akan berfungsi mengatur lalu lintas berkesenian dengan baik, terarah, dan profesional. Dampak positifnya, posisi seni dan seniman dengan sendirinya akan terdongkrak ke tingkat terhormat, penting, dan diapresiasi baik di tingkat wacana maupun sosiokultural. Tanpa manajemen seni yang profesional akan menyebabkan dinamika seni tersebut berjalan di tempat, stuck atau mandul dalam pergerakannya dan sulit menyejahterakan seniman-seniman secara materi. Konsekuensi ini akan sangat mempengaruhi arus perubahan dinamika berkesenian dari waktu ke waktu. Karena seniman dalam berkesenian lebih banyak berkutat pada rasionalitas dirinya sendiri yang sangat membelenggu gerak langkah mereka, seperti bagaimana berkarya, mempromosikannya, bagaimana karya tersebut dapat menghidupi mereka dan lain sebagainya. Untuk itu, seniman dan manajemen adalah keniscayaan zaman.

Atas fenomena di atas itulah, Dewan Kesenian Kota Tangerang menyelenggarakan Workshop Manajemen Organisasi Kesenian yang akan dilaksanakan pada Minggu, 9 Februari 2020, mulai pukul 10.00 sampai 14.00 WIB bertempat di Gedung Kesenian Kota Tangerang, Jalan Masjid Al-Hidayah, No. 3, Modernland, Kota Tangerang. Narasumber yang diharapkan dapat mendedah materi manajemen seni profesional adalah Sari Madjid, aktivis kesenian, anggota senior Teater Koma, yang kemampuan tata kelola keseniannya bukan hanya eksis di level nasional, juga mengglobal. Workshop yang pesertanya masih dibatasi (maksimal 50 orang) ini ditujukan untuk para anggota/pengurus Dewan Kesenian Kota Tangerang, pegiat seni, pimpinan/ketua komunitas seni, dan beberapa mahasiswa.

Diharapkan dari workshop tersebut selain dapat membuka wawasan perkembangan manajemen seni pertunjukan, pun mampu mengimplementasikannya pada aktivitas berkesenian. Sehingga kemampuan mengelola seni menjadi tata nilai yang menjadi payung seniman dalam kiprah-kiprahnya. Dengan melibatkan manajemen proses berkesenian dapat berjalan dinamis, harmonis, positif, dan progresif serta terapresiasi oleh masyarakat secara luas. Karena manajemen seni akan mengatur dan memutakhirkan semua permasalahan berkesenian mulai dari hulu hingga hilir termasuk masalah kesejahteraan seniman. Semoga…

Oleh: Madin E. Sumadiningrat (Ketua Dewan Kesenian Tangerang)

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update