oleh

Seni Jaranan dan Simbol Gagahnya Pasukan Kaveleri Tempo Dulu

Banner IDwebhost
Kesenian jaranan dalam Peringatan HUT RI Ke-72 oleh seniman urban asal Purworejo, Jawa Tengah. (FOTO Widi.H)

GAGAHNYA pasukan kaveleri, atau pasukan berkuda tergambar dalam gerak koreografi para pemain seni jaranan Turonggo Purwo Manunggal (TMP) Tangerang di Area Fosos/Fasum Komplek Perumahan Graha Raflesia, Citra Raya, Panongan, Kabupaten Tangerang, Minggu 20 Agustus 2017.

Tidak sekadar melestarikan budaya kearifan lokal yang kian hari kian digerus oleh perkembangan teknologi, kesenian jaranan Turonggo Purwo Manunggal ini juga merefleksikan kegigihan prajurit tempo dulu yang tak gentar menghadapi musuh; yang dintaranya adalah bangsa penjajah yang berkuasa di tanah Nusantara kala itu.

Simbol-simbul perjuangan serta kedikdayaan prajurit tempo dulu juga hadir lewat berbagai atraksi berbau magic oleh para pemain seni jaranan yang dimainkan oleh masyarakat urban asal Purworejo, Jawa Tengah tersebut.

Salah seorang pengurus paguyuban seni jaranan Turonggo Purwo Manunggal, Poniran menjelaskan, kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang ke-72.

Dalam kegiatan kali ini, pentas seni jaranan ini juga dikolaborasikan dengan seni ndolalak, kesenian tradisi khas Purworejo, Jawa Tengah. Para penari ndolalak yang terdiri dari koreografer-koreogfer cantik ini digambarkan sebagai Ibu Pertiwi.

Dengan gerak yang diiringi musik gamelan Jawa dan angklung bambu, para penari dalam seni jaranan ini digambarkan sebagai prajurit berkuda yang menjemput Ibu Pertiwi dalam alam kemerdekaan.

“Jadi, ini kita kolaborasikan dengan kesenian ndolalak, sebagai simbol prajurit sedang menjemput seorang putri. Ini kita gambarkan sebagai ibu pertiwi, dan simbol kemerdekaan Indonesia,” ujar Poniran.

Poniran mengungkapkan, kesenian jaranan dalam acara ini juga sebagai upaya untuk membangkitkan semangat patriotisme dan cinta tanah air, serta mengapresiasi para pejuang terdahulu yang ikut berjuang meraih kemerdekaan.

Ia juga berharap, dengan munculnya seni jaranan Turonggo Purwo Maunggal ini, akan muncul kesenian-kesenian jaranan yang lain, yang ikut meramaikan gairah seni tradisional masyarakat urban di Tangerang. Ia juga sangat mengapresiasi jika banyak generasi-generasi terkini yang mau melestarikan kesenian tradisi asli Indonesaia, khususnya masyarakat Jawa tersebut.

“Kita sangat mengapresiasi, semakin banyak bermunculan, kan semakin memperkaya khasanah budaya kita. Tidak ada istilah saingan, karena semua sama-sama melestarikan seni budaya tradisional kebanggan kita semua,” tandasnya.

Untuk diketahui, seni jaranan di beberapa daerah di Jawa muncul dengan kreasi dan nama yang berbeda-beda. Di Ponorogo, Jawa Timur, tarian ini disebut tari Jathil, yang merupakan rangkaian dari kesenian Reog Ponorogo. Di daerah Purwokerto dan sekitarnya, masyarakat menyebutnya ebeg. Namun masyarakat lebih populer dengan sebuta seni kuda lumping atau seni kuda kepang.  (WH/ST/*)

Baca juga:

  1. Ndolalak Seniman Urban Makin Nge-hits di Tangerang
  2. Tari Topeng Ireng dari Lereng Merapi Ini Tampil di Ajang Internasional
  3. Mengenal Lengger Kesenian Rakyat Asli Banyumas

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update