oleh

Ahmad Supriadi: Komisi II Akan Tindaklanjuti Kasus Rodiah Penderita Lumpuh di Carenang

Nuraeni (35) bersama Rodiah (17) putrinya yang terbaring lumpuh selama 17 tahun. (FOTO Hatmoko. W)

KETUA Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang Ahmad Supriadi menilai, lumpuh yang diderita oleh Rodiah (17) sejak lahir, dan hingga saat ini disinyalir tidak ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, telah terjadi kesalahan komunikasi antara aparat di bawah dengan stakehoulder pemerintah di tingkat kabupaten yang bertanggungjawab terhadap permasalahan tersebut.

Terlebih menurut Ahmad Supriadi, lumpuh yang diderita oleh salah satu warga kurang mampu di RT 04/02, Kampung Pulo Gede, Desa Carenang, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang tersebut sudah dialami sejak ia masih bayi, yaitu 17 tahun silam.

“Kalau ada permasalahan seperti ini, aparat yang paling bawah, yaitu pemerintah desa harus ada upaya-upaya. Yang bisa dilakukan itu bukan berarti kemdudian saling meberikan sumbangan secara pribadi, yang berapa pun belum tentu akan cukup,” ujar Ahmad Supriadi di Istana Nelayan, Kota Tangerang, Kamis 21 September 2017 malam.

Ia juga mengungkapkan, karena permasalahan tersebut merupakan persoalan yang harus diperhatikan oleh Pemkab Tangerang, menurut Supriadi, seharusnya aparat di tingkat desa melaporkan permasalahan tersebut kepada instansi-instansi di tingkat kabupaten.

“Misalnya dari RT, RW ke kepala desa, lalu ke kecamatan, dan camat langsung yang mengomong kepada kepala dinas (kesehatan-red), itu bisa. Baru kemudian, dari komisi dua proses itu bisa dikawal agar dinas kesehatan segera menindaklanjut yang diperlukan,” katanya.

Namun demikian, lanjut Supriadi, jika permasalahan tersebut dilaporkan kepada dirinya, ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Untuk itu, pihaknya meminta agar data Rodiah, penderita lumpuh yang hingga saat ini masih membutuhkan bantuan dari pemerintah tersebut, segera ia dapatkan.

“Dan sekarang, misalnya, langsung disampaikan kepada saya, ya ini tentu menjadi PR buat saya. Tinggal nanti saya minta aja data dari si penderita, namanya siapa, alamatnya di mana, nanti akan saya coba sondingkan ke dinas kesehatan, untuk melakukan kunjungan rumah. Nah, dinas kesehatan bisa saja memerintahkan Puskesmas. Karena Puskesmas itu ada tim yang harus menanggulangi, seperti anak kurang gizi dan lain sebagainya,” paparnya.

Ia juga menegaskan, persoalan-persoalan seperti yang menimpa Rodiah, seharusnya tidak harus terjadi. Karena menurut Supriadi, di tingkat desa ada yang namanya Posyandu, yang bertugas memberikan pelayanan terpadu, sebagai perpanjangan tangan dinas kesehatan di tingkat desa, bahkan RT dan RW.

“Kalau mekanisme pelayanan di Posyandu itu ada, harusnya, keluhan-keluhan semacam ini enggak terjadi. Tapi kami tidak akan menyakahkan siapa-siapa, mungin ini terjadi miss komunikasi di aparat setempatnya, atau mungkin ada keterbatasan informasi,” tandasnya.

Untuk itu, ia berharap, aparat setempat harus berprilaku aktif, berkoordinasi dengan pihak desa dan pihak kecamatan, untuk kemudian dikomunikasikan dengan dinas kesehatan. “Dan, sekali lagi, ini sudah menjadi informasi saya langsung, akan saya tindaklanjuti dalam batas kewenangan saya di komisi dua,” pungkasnya.

Hatmoko Widi

Baca juga:

  1. Rodiah, 17 Tahun Terbaring Lumpuh: Sang Ibu (Warga Carenang) Ini Hanya Bisa Pasrah dan Berdoa
  2. Ciputra Hospital Citra Raya Tangerang Jalin Kerjasama dengan Mandiri Inhealth
  3. Prostitusi ‘Online’ Menjamur: Mulai dari Anak di Bawah Umur, Mahasiswi, Hingga Profesi Tertentu
  4. FAM Tangerang: Pendikan Gratis dan Kesehatan Lebih Penting dari Pembuatan Taman
Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE