oleh

Hingga Akhir Hayatnya, Harry Roesli: Konsisten dengan Kritik Sosial Lewat Karya-karyanya

Banner IDwebhost
Harry Roesli (FOTO Capture Youtube)

MASIH ingat kah dengan sosok seniman nyentrik asal kota kembang Bandung, Harry Roesli? Dia adalah seniman yang melahirkan budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif dan konsisten memancarkan kritik sosial. Sosok yang memiliki nama lengkap Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli ini, lahir di Bandung 10 September 1951, dan meninggal dunia di Jakarta, 11 Desember 2004.

Karya-karyanya konsisten memunculkan kritik sosial secara lugas dalam watak musik teater lenong. Harry berpenampilan khas, berkumis, bercambang, berjanggut lebat, berambut gondrong dan berpakaian serba hitam. Pria berdarah Minangkabau ini merupakan cucu pujangga besar Marah Roesli, penulis novel “Siti Nurbaya: Kasih TakSampai”.

Pada awal 1970-an, namanya sudah mulai melambung, yaitu ketika ia membentuk kelompok musik ‘Gang of Harry Roesli’ bersama Albert Warnerin, Indra Rivai dan Iwan A Rachman. Lima tahun kemudian (1975) kelompok musik ini bubar.

Di tengah kesibukannya bermain band, pada tahun 1973, dia mendirikan kelompok teater Ken Arok. Setelah melakukan beberapa kali pementasan, antara lain, Opera Ken Arok di TIM Jakarta pada Agustus 1975, grup teater ini kemudian bubar, karena Harry mendapat beasiswa dari Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk (CRM), belajar ke Rotterdam Conservatorium, Belanda.

Selama belajar di negeri kincir angin itu, Harry juga aktif bermain piano di restoran-restoran Indonesia dan main band dengan anak-anak keturunan Ambon di sana. Selain untuk menyalurkan talenta musiknya sekaligus untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya yang tidak mencukupi dari beasiswa.

Gelar Doktor Musik diraihnya pada tahun 1981, kemudian selain tetap berkreasi melahirkan karya-karya musik dan teater, juga aktif mengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung.

Dia ini juga kerap membuat aransemen musik untuk teater, sinetron dan film, di antaranya untuk kelompok Teater Mandiri dan Teater Koma. Juga menjadi pembicara dalam seminar-seminar di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, serta aktif menulis di berbagai media, salah satunya sebagai kolumnis Kompas Minggu.

Sosok Harry Roesli juga dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dalam mengembangkan kreativitasnya, ia juga membina para seniman jalanan dan kaum pemulung di Bandung lewat Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang didirikannya. Rumahnya di Jalan WR Supratman 57 Bandung dijadikan markas DKSB.

Rumah inilah yang pada tahun 1998 menjadi pusat aktivitas relawan Suara Ibu Peduli di Bandung. Rumah ini ramai dengan kegiatan para seniman jalanan dan tempat berdiskusi para aktivis mahasiswa. Dimana kerap lahir karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan Orde Baru.

Bersama DKSB dan Komite Mahasiswa Unpar, Harry Roesli mementaskan pemutaran perdana film dokumenter Tragedi Trisakti dan panggung seni dalam acara “Gelora Reformasi” di Universitas Parahyangan. Dalam acara ini kembali dinyanyikan lagu Jangan Menangis Indonesia dari album LTO (Lima Tahun Oposisi), Musica Studio, 1978.

Setelah reformasi, saat pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tidak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara memelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.

Hatmoko Widi

Baca juga:

  1. Kerambit Khas Minang Ini Diadopsi Jadi Senjata Wajib Personil US Marshal
  2. Inilah Resep Kuliner “Kelo Mrico” Khas Rembang
  3. Kuliner Khas Rembang “Kelo Mrico” Ini Menyehatkan Tubuh

Komentar

News Update