oleh

Komunitas Urban Lahirkan Perkumpulan “Tangerang Guyub”

Para inisiator berdirinya perkumpulan Tangerang Guyub.

MASYARAKAT urban yang terdiri dari berbagai profesi dan lintas etnik mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama Tangerang Guyub. Organisasi yang diinisisi oleh mayoritas orang-orang Jawa ini, bertujuan untuk melestarikan seni dan budaya tradisi yang merupakan warisan leluhur.

Selain itu, organisasi ini juga sebagai wadah dan ajang komunikasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial dan ekonomi, terutama bagi orang-orang perantau.

Ketua Tangerang Guyub, Iratmoko menjelaskan, meskipun perkumpulan ini diinisiasi dan terdiri dari orang-orang Jawa, namun terbuka untuk masyarakat lintas etnik, baik warga lokal maupun masyarakat urban dari berbagai derah yang ada di wilayah Tangerang. Karena, menurut Iratmoko, selain untuk melestarikan seni budaya tradisional, sosial, dan ekonomi, perkumpulan ini juga sebagai ajang silaturahmi merajut kebersamaan dalam bingka Kebhinekaan.

“Organisasi ini tidak bersifat kesukuan, tapi universal. Karena kita tahu, Tangerang ini bisa dikatakan sebagai miniatur Indonesia. Dengan adanya Tangerang Guyub ini, kami berharap semua masyarakat yang ada di Tangerang bisa menjadi bagian dari kami, untuk mewujudkan Tangerang yang ‘guyub dan rukun’ dalam bingkai kebhinekaan,” papar Iratmoko, Kamis 7 September 2017.

Bambang Afianto sebagai sekretaris dalam perkumpulan ini juga mengatakan, organisasi ini didirikan oleh sebelas orang yang terdiri dari berbagai profesi seperti praktisi pendidikan, pengusaha, buruh, aktivis, dan wartawan. Dari keberagaman profesi yang ada di dalam perkumpulan Tangerang Guyub ini, menurut Bambang, akan semakin memperkaya ide serta gagasan untuk mewujudkan visi dan misi organisasi tersebut.

Sementara, Supalar yang ditunjuk sebagai bendahara dalam organisasi ini menambahkan, perkumpulan ini lahir dari kegelisahan serta keprihatinannya dalam melihat berbagai problema di masyarakat. Mulai dari persoalan-persoalan yang mengarah ke disintegrasi bangsa, sosial, ekonomi, serta budaya tradisional yang mulai tergerus oleh masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia.

Hatmoko Widi

Baca juga:

  1. Rodiah, 17 Tahun Terbaring Lumpuh: Sang Ibu (Warga Carenang) Ini Hanya Bisa Pasrah dan Berdoa
  2. Film Widji Tukul Dapat Penghargaan dalam Ajang Internasional
  3. Inilah Penyebab Pemain Kuda Lumping Bisa Kesurupan

 

Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE