oleh

Miris, Prostitusi ‘Online’ Mulai Merambah ABG Pelajar di Kota Tangerang

ILUSTRASI (Oleh Widi.H)

SEMAKIN banyaknya aplikasi internet yang menawarkan kemudahan untuk berkomunikasi, serta lemahnya pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya, berdampak buruk bagi kehidupan remaja. Penelusuran lensapena.id, mudahnya penggunaan aplikasi ini banyak digunakan oleh para ABG, yang diantaranya pelajar, untuk ‘open booking out (BO)’ alias membukan praktik prostitusi ‘online’.

Salah seorang pelajar pengguna aplikasi ‘wechat’ dengan nama Maria Marcella, dan membuka praktik prostitusi ‘online’ yang berhasil ditemui lensapena.id, Rabu 27 September 2017, mengaku terpaksa ‘open booking out’ untuk membayar kos yang sudah dua bulan nunggak.

Dalam statusnya, ia menulis “BO sekarang!! PC urgent.” Ia mengaku, dari status itu, dalam satu hari banyak pria hidung belang yang merespon, dan bermaksud ingin ‘membooking’ dirinya. Namun dari sekian banyak pria yang merespon tersebut, tidak semua menemuninya. Karena ia mematok harga cukup fantastis, yaitu Rp5 juta sekali main. Menurutnya, ia memasang harga tersebut karena belum pernah melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya, alias masih perawan.

“Ini terpaksa aja, karena terbentur kebutuhan ekonomi. Sudah dua bulan belum bayar kos,” ujar gadis blasteran Cina-Palembang yang mengaku ‘broken home’ karena ditinggal cerai kedua orang tuanya tersebut.

Gadis yang mengekos di daerah Sangiang Kota Tangerang ini juga mengaku, membuka praktik prostitusi ‘online’ ini karena ia terinsprasi oleh saudara sepupunya berinisial R alias O, yang juga melakukan hal yang sama. Kata pemilik akun Maria Marcella, saudara sepupunya tersebut pisah ranjang dengan suaminya, dan untuk memenuhi kebutuhan hidup ia dengan anaknya, terpaksa harus ‘open booking out’ sambil mencari-cari lowongan kerja.

“Pokoknya dia (RN alias Ocha) yang begini aja, tau-tau keluar pulang bawa uang. Tapi katanya, kalau di ‘wechat’ itu kadang-kadang ada yang beneran mau BO, tapi juga ada yang cuma curhat doang,” katanya.

Berbeda dengan apa yang diungkapkan VS, pelajar pindahan dari Batam dan saat ini meneruskan di salah satu sekolah SMK jurusan keperawatan, di wilayah Kecamatan Priuk, Kota Tangerang. Dunia prostitusi remaja ABG ini tidak hanya terjadi di Kota Tangerang, tapi juga marak di Batam.

Meskipun ia tidak terjun langsung sebagai pelaku prostitusi, VS mengaku kerap jadi perantara. Rata-rata, problem mereka karena terbentur masalah keuangan, menggunakan uang bayaran sekolah untuk jajan. Hingga saat ini, kata VS, ia juga masih sering menerima pesanan, dan mengendalikan praktik prostitusi ‘online’ tersebut dari tempat ia tinggal saat ini. Jadi, bagi yang ingin memesan, ia tinggal memberikan nomor telpon saja.

“Kalau di Tangerang ini belum ada apa-apanya. Meskipun gue enggak begitu (‘booking out’-red), tapi gue sering jadi perantara, sampai sekarang juga masih. Tapi lewat nomor telpon aja, jadi enggak ketemu langsung,” katanya.

Hatmoko Widi

Baca juga:

  1. Minimnya Ruang untuk Berkreativitas, Grup Kuda Lumping Ini Terpaksa Ngamen Keliling
  2. Budi Sabarudin: Kampanyekan Budaya Membaca Lewat Seni Mendongen
  3. Letjend Anumerta S. Parman, Korban G 30 S Ini Ternyata Adik Kandung Petinggi Politbiro CC PKI
Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE