oleh

Film G 30 S/PKI Jadi Momentum Mengenang Jasa Pahlawan Revolusi

Salah satu adegan Film Pekhianatan G 30 S/PKI. (Youtube)

FILM Pekhianatan G 30 S/PKI yang diproduksi pada era Orde Baru (Soeharto), kini diputar kembali pada era Presiden Jokowi. Film yang menggambarkan kekejaman PKI tersebut, menjadi tontonan wajib yang digelar dalam nonton bareng (nobar) di 21 jajaran Komando Rayon Militer (Koramil), wilayah teritorial Komando Distrik Militer (Kodim) 0506 Tangerang.

Malam puncak nobar Film Pengkhianatan G 30 S/PKI ini dilaksanakan pada Sabtu 30 September 2017. Komandan Kodim 0506 Tangerang, Letkol Inf. M Imam Gogor Agnie Aditya, dalam komunikasinya dengan lensapena.id lewat ‘WhatsApp’ mengatakan, film ini adalah bukti sejarah kekejaman PKI terhadap para Pahlawan Revolusi.

Selain itu, Film Pengkhianatan G 30 S/PKI ini dijadikan momentum untuk mengenang jasa pahlawan dan mengingat kekejaman paham komunisme.

“Film ini adalah bukti sejarah kekejaman suatu paham kepada para pahlawan kita,” ujar Letkol Inf. Gogor.

Dikatakannya, pada era pecahnya G-30 S/PKI merupakan suatu masa dimana perjalanan Bangsa Indonesia mengalami penderitaan. Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia tidak boleh melupakan peristiwanya.

Ia berharap, masyarakat lebih waspada agar masa itu tidak lagi terulang. Sebab kata dia, tidak menutup kemungkinan komunis sudah ada di tengah-tengah masyarakat.

“Maka marilah kita sama-sama menjaga NKRI dari perpecahan. Dengan Nobar ini, kita jadikan sebagai langkah awal untuk menyadarkan masyarakat agar semuanya ikut bergerak untuk membangun kesadaran seluruh masyarakat Indonesia,” tegasnya.

Lurah Batuceper, Kota Tangerang, Edi mengungkapkan, antusiasme masyarakatnya dalam menyaksikan film yang pada erah Orde Baru menjadi tontonan wajib setiap tahun menjelang Peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini, sangat luar biasa. Ia juga mengungkapkan, ini merupakan pembelajaran tentang sejarah bangsa untuk generasi muda.

Menurut Edi, PKI itu menyeramkan dan juga sadis, tidak berprikemanusiaan. Apalagi ketika PKI melakukan pembunuhan terhadap umat Islam yang sedang menjalankan ibadahnya.

“Makanya kita tetap harus waspada untuk mencegah munculnya komunis modern (baru) di negara Indonesia tercinta. Jadi usai nobar ini, saya berharap masyarakat mengerti dan memahami sejarah bangsa Indonesia serta juga sejarah kekejaman paham komunis,” tandasnya.

Helmi

Baca juga:

  1. Miris, Prostitusi ‘Online’ Mulai Merambah ABG Pelajar di Kota Tangerang
  2. Minimnya Ruang untuk Berkreativitas, Grup Kuda Lumping Ini Terpaksa Ngamen Keliling
  3. Budi Sabarudin: Kampanyekan Budaya Membaca Lewat Seni Mendongen
Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE