oleh

Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya dalam Cerita Tari Jathil Kridho Budoyo Magelangan

Prajurit Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya dalam tari jathilan oleh Grup Seni Jathilan Kridho Budoyor, di Mardi Gras Citra Raya, Tangerang.

EVENT Festival Seni Tradisional dan pasar Rakyat yang dihelat di Area Panggung Mardi Gras Citra Raya, Tangerang tidak sekadar memberikan hiburan, tapi juga memberikan pendidikan budaya kepada masyarakat. Salah satunya adalah menguak sejarah dan legenda tentang Arya Penangsang bersama dengan Sultan Hadiwijaya atau Mas Karebet yang dalam sebutan lain Djoko Tingkir, Raja Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

Kisah dua tokoh legendaris ini, secara teatrikal digambarkan dalam sebuah tari kolosal jathilan yang dimainkan oleh kelompok kesenian jathilan Kridho Budoyo oleh para seniman urban dari Magelang, dan DI Yogyakarta, Minggu 19 November 2017. Dalam atraksi ini, dua tokoh satu perguruan, yaitu murid┬áRaden Ja’far Sodiq atau Sunan Kudus ini diiringi oleh pra prajurit berkuda, yang dalam hal ini Arya Penangsang menunggangi kuda gagak rimang dengan senjata keris setan kober.

Ketua Paguyuban Seni Jathilan Kridho Budoyo, Agus, yang memerankan sebagai Sultan Hadiwijaya memgungkapkan, tari jathilan Magelangan ini salah satunya adalah merefleksikan gagahnya pasukan berkuda atau pasukan kaveleri tempo dulu, yaitu pada masa Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya.

Untuk itu, setiap kali menampilkan kesenian ini, sesi Arya Penangsang dan Hadiwijaya adalah babak yang menjadi ciri khas pementasan seni jathilan tersebut, di samping juga muncul beberapa atraksi barongan dan buto kosek. “Untuk jathilan Kridho Budoyo ini kita memang klasiknya. Kanapa kita buat klasik, karena kita ingin benar-benar melestarikan dan mempertahankan keaslian seni jathilan ini,” ujar Agus.

Ia juga mengungkapkan, Grup Seni Jathilan Kridho Budoyo ini berdiri dari rasa kecintaannya terhadap kesenian tradisional sebagai warisan nenek moyang. Awalnya, kata Agus, ia bersama saudara-saudaranya seperantauan asal Magelang, Jawa Tengah itu iseng-iseng memainkan kesenian ini, dengan menyewa peraalatan dari salah seorang pemilik gamelan. Dari situlah, kesenian jathilan ini berkembang dengan munculnya juga seni ndayaan atau topeng ireng.

Dalam setiap kali pementasan, berbagai sesi tarian seperti jathilan, buto kosek, barongan, dan ndayaan pun ditampilkan. Bahkan tarian wayang seperti buto cakil dan anoman pun memperkaya kesenian yang lahir dari tradisi masyarakat Jawa tersebut.

Saat ini, Grup Seni Jathilan Kridho Budoyo ini kerap mengisi berbagai acara, baik di wilayah Tangerang maupun di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Masmoko Widi

Baca juga:

  1. 21 November 2017 Tarif Tol Tangerang-Merak Naik 7. 32 Persen
  2. Warga Kabupaten Tangerang Nikmati 955 Sambungan Air Gratis Aetra Tangerang
  3. Festpar 2017: Gotong Royong dengan Pelaku UKM dalam Melestarikan Seni dan Budaya Tradisional

Banner IDwebhost

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Update