oleh

Batik Lasem, Sarat Pesan Moral dan Nilai Sejarah

Rifa’i, salah seorang pengusaha batik di Lasem, Rembang, Jawa Tengah.

LASEM, salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang kini mulai dikenal dengan batik tulisnya yang khas. Beragam motif pun lahir dari tangan-tangan kreator batik di wilayah pesisir utara sebelah timur Jawa Tengah tersebut.

Diantaranya adalah batik motif empat negeri, pagi sore, sekar jagad, kendoro kendiri, grinsing, pasiran, lunglungan, gunung ringgit, pring-pringan, pasiran kawung, kawung mlathi, endok Walang, bledak mataraman, bledak cabe, kawung babagan, parang rusak, parang tritis, Latohan, ukel, alge, ceplok iring, ceplok benik, sekar srengsengan, kembang kamboja, dan batik kricaan atau motip batu pecah.

Batik kricaan, yaitu motif batik yang diambil dari sejarah pembuatan Jalan Deandles, dari titik nol (Anyer-Banten) hingga ke Panarukan (Jawa Timur) yang melintas di wilayah tersebut.

Ada lagi batik yang diberinama motif tiga negeri. Istilah tiga negeri ini diambil dari proses pewarnaannya, yaitu untuk warna biru dari Pekalongan, soga atau coklat dari Solo serta merah darah ayam sendiri dari Lasem. Batik tiga negeri ini didominasi dengan gambar burung-burung hong, yang dalam masyarkat Tionghoa, burung hong memiliki mitos burung yang bisa membawa keberuntungan.

“Diberinama tiga negeri, karena pada zaman dulu itu kan setiap daerah itu negara-negara, tidak seperti sekarang. Dan ,batik tiga negeri ini ini proses pewarnaannya dari Pekalongan, Solo dan Lasem,” ujar Rifa’i.

Rifa’i, salah seorang pengusaha batik di Lasem menyebutkan bahwa batik tiga negeri ini lebih didominasi dengan warna merah darah ayam. Keunikan warna merah darah pada batik tiga negeri ini juga tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia.

Batik tiga negeri ini menjadi salah satu simbol harmoniasi antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat pribumi Jawa di daerah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya pengaruh unsur Tionghoa, yaitu gambar burung hong dalam batik tersebut.

Harmonisasi masyarakat Jawa Lasem dengan orang Tionghoa juga tersirat dalam sejarah Perang Kuning, dimana warga pribumi kala itu bersama-sama dengan orang-orang Tionghoa yang bermukim di Lasem bersama-sama berjuang, perang melawan VOC.

Hatmoko

Komentar

News Feed