“Matung” Tradisi Sehari Sebelum Lebaran di Pandeglang

Selain sebagai simbul kegotong royongan,”Matung” juga sebagai cara untuk mendapatlan daging murah saat Lebaran.

PANDEGLANG merupakan salah satu daerah di Provinsi Banten. Selain memiliki panorama wisata laut yang indah, daerah ini juga memiliki tradisi unik pada menjelang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, yang sampai saat ini masih dipertahankan, yaitu “Matung”.

“Matung” sendiri berasal dari kata “patungan” atau iuran. Tradisi “Matung” ini adalah, warga mengumpulkan sejumlah uang (patungan-red), sesuai kesepakatan, untuk kemudian dibelikan hewan kerbau, dan dipotong satu hari menjelang Lebaran. Dalam tradisi ini, warga kampung berkumpul dan bersama-sama motong kerbau, mengulitinya dan memotong daging dan anggota badan hewan lainnya, kemudian dibagi secara rata pada kelompok masyarakat yang berpatungan.

Tradisi “Matung” ini, selain simbul kegotong royongan warga di daerah tersebut, dalam merayakan hari kemenangan setekah satu bulan berpuasa; juga untuk mensiasati mahalnya harga daging saat Lebaran. Dengan “Matung”, warga bisa mendapatkan daging dengan harga murah, segar, dan kualitas bagus.

Salah seorang tokoh masyarakat Pandeglang H.M. Yusuf, mengungkapkan, “Matung” merupakan kebiasaan turun-temurun. Tidak ada keterangan pada tahun berapa dimulainya dan siapa yang memulainya.

“Sejak saya kecil, itu sudah ada. Sampai sekarang oleh sebagian masyarakat, terutama yang tinggal di pelosok masih dipertahankan,” kata pria yang sekarang berusian 60 tahun itu.

Menurutnya, inti dari budaya ini sebenarnya kebersamaan. Dengan matung, semua warga bisa mempunyai daging kerbau dengan volume cukup banyak untuk dimasak saat Lebaran.

“Kan sama. Kalau dapat 5 kg, semuanya segitu. Jadi, yang kaya dan kurang mampu punya daging sebanyak itu berlebaran,” ujarnya.

Kalau harus membeli daging dadakan menjelang Lebaran, cukup berat. Jika harga daging Rp120 ribu/kg, untuk dapat 5 kg harus mengeluarkan uang Rp600 ribu saat itu juga.

“Kalau matung ‘kan dicicil. Pengumpulan uang yang telah disepakti dalam waktu 1 tahun. Itu pun tidak ditentukan cicilannya harus berapa. Istilahnya ‘sabogana” (berapa pun punya) yang penting saat bulan puasa lunas,” ujarnya.

Bahkan, ada juga yang pembelian kerbau dari hasil “persatuan” (masyarakat memborong satu pekerjaan bersama-sama), uang dari pekerjaan itu dikumpulkan pada satu orang, dan saat bulan puasa dibelikan kerbau untuk disembelih bersama.

Yusuf juga menyatakan sangat mendukung masyarakat terus mempertahankan budaya matung itu karena sesuai dengan semangat bulan puasa, yakni kebersamaan dan berbagi pada sesama.

Ketua Kelompok Matung Kampung Pasirbatung Suja’i menyatakan dalam pengumpulan uang untuk membeli kerbau masyarakat mencicil tanpa menentukan nilai cicilannya.

“Bagaimana punyanya saja. Kadang dalam sebulan ada yang hanya mencicil Rp20 ribu, Rp50 ribu. Akan tetapi, ada juga yang sekaligus dilunasi. Intinya yang penting waktunya mau membeli kerbau sudah lunas,” ujarnya.

Mengenai nilai iuran atau patungan, menurut dia, ditentukan secara bersama-sama. Berapa sanggupnya dan berapa orang anggota yang akan gabung.

Ant/Hatmoko

Budaya Edukasi Lingkungan Tradisional

Penulis: 
    author