oleh

Ananta Bangga APTA Peduli Seni dan Budaya

Ketua APTA Widi Hatmoko (berkacamata) bersama Sony Josz dalam acara HUT Ke-3 Grup Ndolalak NTB.

PEMERHATI budaya sekaligus pengasuh Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis (PKKT), Ananta Wahana, mengaku bangga terhadap Asosiasi Pengrajin Tangerang (APTA). Karena, organisasi yang bergerak di sektor pengrajin alas kaki (sepatu dan sandal-red) ini, tidak hanya konsen di bidang ekonomi tapi juga peduli dengan pelestarian seni dan budaya tradisional.

Hal ini disampaikannya saat menghadiri ulang tahun ke-3 grup kesenian tradisional “ndolalak” New Trenso Budoyo (NTB) di Lapangan Graha Raflesia Citra Raya, Tangerang, Sabtu 20 Oktober 2018.

“Seni dan budaya tradisional adalah aset bangsa yang perlu dilestarikan. Dan kami juga merasa gembira karena ternyata APTA, organisasi yang bergerak pada sektor ekonomi pengrajin alas kaki ini juga ikut peduli terhadap seni dan budaya,” kata Ananta Wahana.

Ia juga mengatakan, kesenian “ndolalak” merupakan kearifan lokal masyarakat Purworejo-Jawa Tengah yang sarat akan nilai sejarah.

“Kami juga sangat bangga, karena di tengah-tengah kesibukannya sebagai buruh dan pekerja di Tangerang ini, saudara-saudara kita dari Purworejo masih bisa mengembangkan dan melestarikan kesenian warisan nenek moyangnya,” katanya.

Ketua APTA, Widi Hatmoko menambahkan, dalam gebyar budaya yang dikemas dalam acara hari ulang tahun NTB ini, pihaknya berperan sebagai pendukung utama. Dengan harapan, kesenian tradisional bisa tetap lestari di tengah-tengah krisia moral dan “dekadensi” bangsa.

“Tidak hanya ndolalak, kita berharap kesenian tradisional Nusantara lainnya bisa tetap dilestarikan, termasuk kesenian tradisional Tangerang sendiri,” tandasnya.

Helmi

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE