oleh

Petani Kangkung Keluhkan Penghasilan Panennya

KERJA keras bercucuran keringat, tatapi ketika panen justri orang lain yang banyak mengeruk hasilnya. Pun demikian, harus tetap bekerja memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Itulah yang dialami Asnawi (27) dan kawan-kawannya, para petani kangkung di lahan tidur kawasan Cikupa Mas, tepatnya di Kampung Sumur, Desa Talaga, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang.

Saat lensapena.id wawancara di lokasi lahan pertaniannya, Asnawi mengaku, dalam satu petak, sekali panen bisa menghasilkan uang rata-rata Rp600 ribu, itu pun kalau harga sedang berpihak pada petani. Namim dalam satu petak pula, ia harus mengeluarkan modal sekitar Rp500ribu, belum termasuk tenaga.

“Kalau satu petak sekali panen hanya dapat enam ratus ikat, berarti kan saya dapat enam ratus ribu. Itu pun kalau tengkulak belinya seribu perikat. Jadi keuntungannya satu petak ya hanya seratus ribu. Kan modalnya lima ratus ribu,” keluh Asnawi.

Ia juga mengungkapkan, per-dua ikat kangkung yang ia jual ke tengkulak, kalau sudah di pasar dibuka lagi, dan dibuat menjadi tiga ikat, yang dijual per-tiga ikatnya Rp5ribu. Jadi, jika dijual lagi, dalam dua ikat kangkung keuntungan pedagang atau tengkulak Rp3ribu, jauh lebih besar ketimbang penghasilan petaninya.

“Tapi ya gimana lagi, kalau enggak ngikutin mereka, enggak ada yang beli hasil tanaman kangkung kami,” katanya.

Saat ini Asnawi menggarap empat petak lahan tanaman kangkung, dengan harga sewa kepada orang yang diberikan kuasa mengelola lahan tidur milik kawasan tersebut sebesar Rp4 juta pertahun.

“Kita hanya bisa berharap, kalau ada berita harga-harga sayuran naik kita bisa sapat imbas keuntungannya. Karena selama ini kalau ada berita harga-harga sayuran di pasar naik, kita biasa aja, dan kita tidak pernah menaikkan harga tanaman kami, malah yang ada malah dikurangi,” pungkasnya.

Wid-rd

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE