Beginilah Polemik Gagalnya ‘Tour’ SMPN 02 Cikupa

GAGALNYA ‘tour’ perpisahan SMP Negeri 02 Cikupa, Kabupaten Tangerang ke Jogja awal Mei 2019 lalu, menimbulkan banyak pertanyaan bagi para wali murid. Pasalnya, dari jumlah anggaran Rp1,3 juta, yang seharusnya dikembalikan utuh ke wali murid, dipotong Rp300 ribu persiswa, menjadi Rp1 juta.

Pemotongan anggaran sebesar Rp300 ribu persiswa tersebut, menurut pihak sekolah digunakan untuk biaya perpisahan, yang diselenggarakan beberapa hari setelah keberangkatan ‘tour’ ke Jogja digagalkan.

Kepala Sekolah SMP Negeri 02 Cikupa, Ujang Eman mengklaim, biaya perpisahan sebesar Rp300 ribu persiswa tersebut sudah menjadi kesepakatan bersama antara pihak sekolah dengan wali murid pasca gagalnya keberangkatan ‘tour’ perpisahan ke Jogja.

“Karena acara perpisahan ke Jogja tidak jadi, kita selenggarakan di sekolah. Soal biaya tiga ratus ribu, itu sudah menjadi kesepakatan antara pihak panitia dengan wali murid waktu itu. Malah untuk konsumsi juga, ada yang dikelola oleh wali murid,” kata Ujang Eman.

Sementara, perwakilan wali murid kelas 9 SMP Negeri 02 Cikupa, Muhamad Parihin (45) yang mendatangi sekolah tersebut, Senin 13 Mei 2019 mengungkapkan, ada kejanggalan dalam persoalan perincian biaya ‘tour’ ke Jogja yang digabungkan dengan acara perpisahan. Karena, tidak ada rapat dengan wali murid terkait rencana ‘tour’ tersebut sebelumnya.

“Kalau perincian dari kepala sekolah tadi, biaya ‘tour’ termasuk perpisahan persiswa itu Rp1,3 juta, dan dikali 353 siswa, yang jumlahnya semua Rp 458 900 000, dan sudah disetorkan ke pihak travel sebesar Rp275 juta. Jadi masih ada sisa uang Rp 183 900 000,” ujar Muhamad Parihin.

Namun, kata dia, pasca gagalnya ‘tour’ pihak sekolah memutuskan untuk melaksanakan perpisahan di sekolah saja, dengan anggaran memotong biaya ‘tour’ keseluruhan, yaitu Rp300 ribu, dan dikalikan jumlah siswa 353 orang, sebesar Rp 105 900 000.

Dengan jumlah biaya perpisahan hingga mencapai seratus juta lebih, menurut Parihin, terlalu besar. Karena hanya dilaksanakan di lingkungan sekolah saja.

“Kita tidak tahu seperti apa rinciannya, setelah ada masalah tau-tau dikasih rincian seperti itu. Kita juga bingung, biaya perpisahan kok sampai seratus juta lebih. Katanya sih termasuk buat beli kenang-kenangan untuk wali kelasnya. Dalam kondisi seperti ini kok tega-teganya guru masih minta dibelikan kenang-kenangan,” bebernya.

Senada diungkapkan Ida (45), yang juga wali murid kelas 9 SMP Negeri 02 Cikupa. Saat penarikan iuran untuk ‘tour’ ke Jogja ini juga tanpa ada penjelasan, dan tidak ada rapat terlebih dahulu dengan wali murid.

“Tau-tau anak saya minta uang untuk ‘tour’ perpisahan. Pas bayar juga tidak ada kwitansinya. Tapi karena ini permintaan dari sekolah, kita ikut saja, namanya juga progrman sekolah. Tapi malah jadinya begini, kena tipu,” tandasnya.

Widi

Penulis: 
    author

    Posting Terkait