oleh

Inilah Goenawan Mangoenkoesoemo, Sahabat Dekat dr. Soetomo

SELAIN dr. Soetomo, tokoh pendiri organisasi Boedi Oetomo adalah Goenawan Mangoenkoesoemo, yang saat itu mahasiswa School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA), Batavia (sekarang Jakarta).

Goenawan Mangoenkoesoemo juga merupakan adik dari dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, salah seorang pelopor gerakan nasionalisme di Indonesia. Nama Tjipto jauh lebih dikenal ketimbang Goenawan. Karena, Tjipto dicatat sebagai pembangkang; sosok anak muda yang pada zamannya berani menentang otoritas kolonial di tengah cengkeraman alam pikiran masyarakat yang masih terbelenggu oleh feodalisme. Namun demikian, sama halnya dengan Tjipto, Goenawan juga memiliki minat terhadap aktivitas politik dan sama-sama bernyali tinggi.

Goenawan Mangoenkoesoemo sangat dekat dengan dr. Soetomo. Itulah sebabnya, dalam tulisannya tentang Goenawan, Soetomo menguraikan panjang lebar berbagai kesan dan kenangannya, sebagai berikut:

”Tuan ini adalah salah seorang dari sekretaris saya. Mas Goenawan Mangoenkoesoemo, seperti hampir semua dari keluarganya mempunyai pekerti dan rasa akan bahasa Belanda, ditambah dengan temperamennya (tangkasnya), maka tulisan- tulisannya dapat menggembirakan kawan, membuat panas hati dan merah telinga lawan-Iawannya.

Sebagai keturunan Tjitrosoemo, sudah selayaknya Mas Goenawan ini adalah seorang pahlawan kita yang gemar pada keadilan dan kemerdekaan. Perasaan persamaan, semboyan dari kaum demokrasi, sungguh-sungguh hidup di dalam hati sanubarinya. Mengingati tabiatnya ini, tidak mengherankan kalau waktu berumur kira-kira 15 tahun dia sudah bertukar pikiran dengan orang-orang yang senang melihat perubahan keadaan adat-istiadat dan cara di dalam masyarakat kita. Polemik ini berturut-turut dilakukan di dalam surat kabar harian Java Bode.

Mas Goenawan menyatakan sama sekali tidak setuju terhadap peraturan benuman bupati yang berdasarkan kekolotan, ketidakadilan, dan seterusnya. Sejak kelahiran Boedi Oetomo (1908) sampai wafat tahun 1929, Goenawan makin lama makin erat hubungan dengan saya, sampai-sampai tuan Tjipto Mangoenkoesoemo mengatakan, “Soetomo sekarang telah kehilangan dalangnya.”

Goenawan segaris dengan Soetomo dan dalam beberapa hal pemikiran Soetomo dipengaruhi oleh Goenawan. Goenawan bertahan di Boedi Oetomo, betapa pun Boedi Oetomo telah mengalami disorientasi, karena dia masih percaya bahwa priayi-birokrat masih bisa diajak untuk menjadi manusia yang tak serta merta tunduk begitu saja pada kemauan Belanda. Seperti juga Soetomo, demikian tulis Savitri Prastiti Scherer, Goenawan menyadari sedalam-dalamnya bahwa sudah kewajiban mereka membimbing para priayi supaya menghargai martabat sendiri sebagai orang merdeka.

Savitri Prastiti Scherer dalam bukunya, Keselerasan dan Kejanggalan: Pemikiran-Pemikiran Priayi Nasionalis Jawa Awal Abad XX menulis tentang asal-usul keluarga Mangoenkoesomo. Mangoenkoesomo senior, ayah Tjipto dan Goenawan, bekerja sebagai guru bahasa Melayu di sekolah dasar pribumi di Ambarawa. Pada masa akhir kariernya, ia diangkat menjadi kepala sekolah dasar di Semarang.

Ayah Mangoenkoesomo senior atau kakek dari Tjipto dan Goenawan bersaudara, Mangoensastro, pernah mengabdi kepada Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa berlangsung 1825–1830. Ketika Diponegoro kalah perang Mangoensastro menyingkir ke pedesaan di pantai Utara Jawa dan mengubah namanya menjadi Pantjoroso. Kekalahan Diponegoro merupakan pukulan telak buat pengikutnya, tak terkecuali buat Pantjoroso.

Tidak ada jaminan bahwa keturunan pemberontak akan melanjutkan perjuangan leluhurnya. Namun di antara enam orang dari sebelas bersaudara yang mengenyam pendidikan tinggi, hanya Tjipto dan Goenawanlah yang menekuni dunia di luar keahliannya sebagai dokter: politik. Darmawan dan Kartono, adik Tjipto dan Goenawan yang sempat menjadi aktivis PNI, pada akhirnya pun memutuskan untuk meninggalkan aktivitasnya setelah penangkapan Soekarno pada 1929.

Red/Wid/Berbagai sumber

Banner IDwebhost
Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE