Komunitas Bonokeling, Sumitro: Hidup Itu Harus Jujur

MENGKONTRUKSIKAN adat sebagai sendi utama organisasi sosial merupakan hal terpenting yang dilakukan oleh orang-orang Komunitas adat Bonokeling di Desa Pekunceng, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Komunitas yang juga memiliki julukan Islam Kejawen, Islam Blangkonan, atau Islam Aboge ini memiliki praktik religi yang bersifat khas dan berbeda dengan masyarakat di sekitarnya.

Saat lensapena.id melakukan wawancara khusus dengan Ketua Adat Komunitas Bonokeling, Sumitro mengaku, dalam mengimplementasikan ajaran yang dianut, mereka lebih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan hati nurani.

Karena menurut Sumitro, manusia memiliki hak asasi, yaitu hak yang dimiliki sejak lahir, dan tidak boleh dipaksakan dalam hal apapun; yang tentu saja tetap mengedepankan adat istiadat serta aturan hidup yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta.

“Yang paling penting itu ya menjaga hati nurani, tidak boleh menyakiti, dan jangan memaksakan kehendak kepada orang lain. Karena setiap manusia memiliki hak asasi, yang tentu saja tetap mengendepankan apa yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Hidup juga harus jujur,” papar Sumitro.

Ia juga mengakui, kegelisahan orang-orang Bonokeling dalam menghadapi situasi bangsa saat ini adalah tentang kejujuran. Karena, menurut Sumitro, dengan gaya bahasa Ngapak ia menyebut, ‘Zaman siki golet wong pinter kuwi orang mingser, tapi golet wong seng ngerti kuwi langka’, yaitu untuk mencari orang pandai tidak perlu kemana-mana, karena banyak di sekitar kita. Namun untuk mencari orang yang tahu dan benar, sudah sangat jarang.

Sumitro juga mencontohkan, para koruptor yang banyak bercokol di negeri ini, rata-rata adalah orang-orang pandai yang notabenenya memiliki pendidikan tinggi.

Namun dalam praktiknya, kata Sumitro, tidak mengedepankan nilai-nilai kejujuran, rakus, dan tega merampas uang rakyat yang bukan menjadi haknya.

“Kan, jadinya orang-orang pinter yang seperti ini tidak ada gunanya. Korupsi uang negara, atau uang rakyat, dan mereka ini orang-orang pinter, dan sekolahnya setinggi langit,” katanya.

Untuk itu, kata Sumitro, menanamkan kejujuran dan selalu menjaga hati nurani, serta menunjung tinggi hak asasi manusia menjadi hal terpenting dalam mengarungi perjalanan hidup bagi orang-orang yang menganut ajaran Bonokeling.

Red-Wid

Penulis: 
    author

    Posting Terkait