Masjid Tertua “Saka Tunggal” di Cikakak Banyumas

JAUH sebelum Walisongo masuk ke wilayah Nusantara, ternyata Islam sudah ada tanah Jawa. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan sebuah masjid di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Masjid ini diberi nama Masjid Baitusallam, atau lebih dikenal dengan Masjid Saka Tunggal. Masjid ini dibangun pada tahun 1288 oleh seorang tokoh bernama Kiai Mustolih.

Dalam sebuah karya ilmiah berjudul “Fungsi Antropologis Masjid Saka Tunggal” (Studi Etnografi Pada Umat Islam di Aboge Banyumas) yang ditulis Teguh Trianton dan diterbitkan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kiai Mustolih atau akrab disapa Mbah Tolih, adalah tokoh yang menyebarkan ajaran Islam, sekaligus mendirikan desa Cikakak. Mereka juga meyakni, Mbah Tolih adalah putra Prabu Siliwangi dari Pajajaran.

Kecil Mbah Tolih dipercaya bernama Kian Santang. Pun demikian, kepercayaan masyarakat di Desa Cikakak tersebut, seperti diterangkan dalam penelitian, belum bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah.

Saat membangun masjid tersebut, Kiai Mustolih usianya sudah cukup sepuh. Dinamakan Masjid Saka Tunggal karena masjid tersebut memang hanya ditopang oleh satu pilar utama. Sehingga Masjid Saka Tunggal merupakan masjid dengan desain konstruksi yang unik.

Dalam karya ilmiah tersebut juga menerangkan perihal eksistensi Masjid Saka Tunggal. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa Masjid Saka Tunggal secara antropologis tidak dapat dipisahkan dari kearifan lokal masyarakat Banyumas penganut Islam Aboge, yang seiring perkembangannya munculah Komunitas Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas.

Menurut Teguh, eksistensi Masjid Saka Tunggal, bagi umat Islam Aboge, merepresentasikan kuatnya hubungan manusia dengan sesamanya. Hal tersebut tercermin dari ritus ganti jaro masjid, yakni sebuah upacara mengganti pagar yang mengelilingi Masjid Saka Tunggal yang terbuat dari bambu atau jaro.

Dalam prosesnya, warga desa Cikakak secara gotong royong dan bahu membahu mengganti pagar bambu Masjid Saka Tunggal, dengan pagar bambu yang baru. Ritual ganti jaro masjid ini dilakukan setiap tanggal 27 Rajab, dan dibarengi dengan pembersihan makam Kyai Mustolih.

Selain menjadi sarana ibadah, ritual ganti jaro merupakan bentuk konkret fungsi Masjid Saka Tunggal sebagai pilar hubungan manusia dengan manusia lainnya atau hablum minanas. Upacara ganti jaro juga kerap diikuti oleh sejumlah utusan dari Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Masjid Saka Tunggal juga memilki keunikan, yaitu ketika masyarakat di sana melaksanakan shalat Jumat. Sebelum menunaikan salat Jumat, azan biasanya dikumandangkan oleh empat orang muazin secara serentak.

Mereka mengumandangkan azan tanpa menggunakan pengeras suara layaknya kebanyakan masjid di Indonesia. Tradisi mengumandangkan azan tanpa pengeras suara dan dilakukan secara serentak oleh empat orang muazin.

Berdasarkan hasil penelitian Teguh, ini mengandung pesan moral, yakni agar dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebaiknya tidak bergantung pada pengunaan alat-alat.  Sebab, Allah SWT, telah memberikan akal atau kecerdasan untuk menyelesaikan setiap persoalan secara arif.

Selain itu, empat orang muazin tersebut membuat lantunan azan tidak hanya terdengar di sekitar area masjid saja, tapi juga menjangkau daerah sekitar tempat tinggal para jamaah.

Dari aktivitas ini, menurut Teguh, terdapat nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan kebersahajaan. Adapun sosok Kiai Mustolih, yang mendirikan Masjid Saka Tunggal, pernah dibahas dalam sebuah penelitian berjudul “Pertumbuhan dan Perkembangan Islam Aboge di Desa Cikakak, Wangon, Banyumas” yang diterbitkan Universitas Negeri Yogyakarta.

Masjid Saka Tunggal, saat ini juga menjadi salah satu destinasi wisata Islami di daerah Banyumas. Keunikan lain dari Masjid Saka Tunggal ini adalah, banyak terdapat kera liar di sekitar masjid, dan jalanan dari gerbang menuju masjid.

Jadi tidak heran, jika wisatawan ingin berkunjung di masjid, atau berziarah ke makam Kiai Mustolih atau Mbah Tolih, banyak warga yang berjualan dan menawarkan kacang kepada pengunjung, untuk kemudian diberikan kepada kera-kera liar.

Wid/red/berbagai sumber

Penulis: 
    author

    Posting Terkait