Seni Kuda Lumping Tetap ‘Sumringah’ di Era Milenial

KUDA lumping adalah salah satu jenis seni tari tradisional yang lahir dari masyarakat Jawa. Di beberapa daerah di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur), kesenian kuda lumping ini mempunyai sebutan atau nama yang berbeda-beda.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta orang menyebutnya jathilan. Di beberapa daerah Jawa Timur dan Purworejo namanya jaranan. Di Ponorogo disebut tari jathil, dan menjadi bagian dari atraksi kesenian reog Ponorogo. Sedangkan di daerah Banyumas dan sekitarnya masyarakat menyebutnya ebeg.

Selain sebagai tari kesurupan, ada  versi yang menyebutkan bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran Kerajaan Bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan Lodaya pada serial Legenda Reog pada abad ke-8.

Namun, terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Dalam seni kudang lumping ini, terkadang juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, atau berjalan di atas pecahan kaca.

Atraksi ini diyakini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Nah, bicara soal kesenian yang saat ini muali digerus oleh seni-seni kreativitas modern, ternyata tidak hanya ada di daerah Jawa saja. Kesenian ini hampir merata di berbagai daerah di Indoneisa, bahkan sampai ke negeri Jiran, Malaysia.

Di daerah Tangerang, Banten, kesenian kuda lumping atau jaranan ini juga hidup berdampingan dengan berbagai kesenian masyarakat urban yang dibawa oleh masyarakat pendatang yang menggantungkan hidupnya di daerah berjuluk Kota Seribu Pabrik tersebut. Salah satu grup kesenian kuda lumping yang saat ini sedang naik daun di Tangerang adalah “Turonggo Purwo Manunggal“.

Grup Kuda Lumping Turonggo Purwo Manunggal ini digagas oleh para seniman buruh asal Purworejo-Jawa Tengah yang hidup di Tangerang. Poniran, salah seorang pengurus Grup Kuda Lumping Turonggo Purwo Manunggal menjelaskan, kuda lumping adalah kesenian rakyat warisan nenek moyang yang harus tetap dilestarikan. Ia juga mengakui, mengidupkan kesenian tradisional di tengah-tengah gencarnya seni modern di era milenia saat ini, bukanlah hal yang mudah.

“Kalau dibilang melawan arus, ya tidak sebenarnya. Karena seni kuda lumping ini adalah kesenian asli dari Indonesia. Hanya saja, kita harus bisa memberikan pemahaman budaya kepada masyarakat. Siapa lagi yang mau melestarikan kekayaan budaya kita, kalau bukan diri kita sendiri,” ujar Poniran kepada lensapena.id.

Grup kesenian kuda lumping yang ia gagas ini, dimainkan oleh para remaja putra dan putri asal Purworejo yang hidup di Tangerang. Menurutnya, memiliki kebanggan tersendiri, karena di tengah-tengahnya maraknya dance-dance modern, ternyata seni tari yang dimainkan secara berkelompok ini masih disukai oleh generasi modern.

“Ini yang harus kita tanamkan kepada generasi kita, agar seni budaya yang kita miliki ini tidak hilang ditelan zaman,” tandasnya.

Widi

Penulis: 
    author

    Posting Terkait