Inilah Topeng Ireng Cahyo Kawedar dari Kalibawang

TOPENG Ireng dikenal juga dengan kesenian Dayakan, yang merupakan bentuk tarian rakyat kreasi baru hasil metamorfosis dari kesenian Kubro Siswo. Berbagai sumber menyebutkan bahwa kesenian ini berasal dari Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Pada awalnya, kesenian ini disebut seni Topeng Kawedar. Seni kreasi baru ini diciptakan oleh lurah Desa Tuksongo bernama Tumpal. Tarian tersebut dirintis pada 1950 dan baru diresmikan secara terbuka pada 1953.

Seiring perjalanan waktu, seni Topeng Ireng ini berkembang tidak hanya di wilayah asal, Kecamatam Borobudur, tapi berkembang ke wilayah lainnya, seperti Boyolali, termasuk Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta. Salah satu kelompok seni Topeng Ireng yang eksis di Kulonprogo adalah kelompok Topeng Ireng Cahyo Kawedar dari Dusun Padakan, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonrogo.

Setiap kali pementasan, kelompok Topeng Ireng Cahyo Kawedar Kalibawang ini riuh dengan iringan beduk, kendang, dan bende. Terlebih lagi, muncul jurus-jurus pencak silat dalam tarian yang cukup atratktif.

Untuk pementasan sederhana, jurus-jurus pencak silat yang ditampilkan masih sesuai dengan pakem tari Topeng Ireng. Namun dalam pentas yang lebih khusus, gerak tariannya dikolaborasi dengan berbagai macam jurus pencak silat, sehingga durasi pentas pun bisa agak panjang.

Untuk pementasan sederhana, dibutuhkan waktu paling cepat 15 menit. Tetapi, untuk pementasan khusus dengan sisipan berbagai jurus pencak silat memakan waktu 1 jam.

Setiap pentas, kelompok penari Topeng Ireng memiliki susunan materi tari yang sudah mapan, dirancang sesuai dengan kebutuhan pementasan. Biasanya, pertunjukan Topeng Ireng melibatkan 13 penari.

Di awal tarian biasanya penabuh musik memainkan lagu Atur Pambagyo diiringi dengan satu gerakan pencak silat. Lalu bersambung dengan lagu Atur Sugeng, Pemuda, dan Olah Rogo. Di setiap peralihan, masuk selingan musik intro, lantas penari pun terus membawakan tarian mereka mengikuti alunan tetabuhan.

Setiap ada alunan dari musik tabuh, penari bergerak tanpa henti, dengan menonjolkan jurus-jurus pencak silat yang mereka kuasai. Seperti jurus elakan bangau pada lagu Atur Pambagyo, jurus elakan harimau pada joget di lagu Pemuda, dan jurus serangan macan dan elang melayang pada judul lagu Olah Rogo.

“Tarian topeng ireng juga memiliki pakem seperti halnya tarian lainnya. Tetapi kita fleksibel dalam menari karena disesuaikan dengan kebutuhan,” kata pelatih tari Topeng Ireng Cahyo Kawedar Kalibawang, Sumarjono.

Selain gerak koreofrafinya yang atraktif, daya tarik kesenian Topeng Ireng terletak pada kostum para penarinya. Hiasan bulu warna-warni serupa mahkota kepala suku Indian menghiasi kepala setiap penari. Senada dengan mahkota bulunya, riasan wajah para penari dan pakaian para penari juga seperti suku Indian. Berumbai-rumbai dan penuh dengan warna-warna ceria.

Sedangkan kostum bagian bawah seperti pakaian suku Dayak, rok berumbai-rumbai. Untuk alas kaki biasanya mengenakan sepatu gladiator atau sepatu boot dengan gelang kelintingan yang hampir 200 buah setiap pemainnya dan menimbulkan suara riuh gemerincing di tiap gerakannya.

Widi

BACA JUGA:
Suka Minuman Bubble Tea? Ini yang Perlu Anda Ketahui!
Anda Pencinta Kopi? Ini Dia Efek Sampingnya!

Penulis: 
    author

    Posting Terkait