Sanggar Karina Ajak Generasi Kreatif dengan Seni Tradisional

LENSAPENA – Pada era millenia atau ‘zaman now’, bukan hal yang mudah untuk mengenalkan seni dan budaya tradisional kepada masyarakat, terutama generasi muda. Karena, pesatnya pengaruh teknologi yang saat ini sudah merangsek ke dunia multi dimensi, terutama kehidupan anak-anak muda, membuat mereka lebih asyik dengan dunia ‘zaman now’ ketimbang menggeluti seni dan budaya tradisional.

Kondisi ini pula yang membuat sosok Rina Rohayati untuk melawan arus tersebut, dan terus mempromosikan seni tradisional melalui kreativitas seni tari. Beragam seni tari kreasi tradisional pun ia kenalkan kepada masyarakat, terutama pelajar di wilayah Kabupaten Tangerang. Melalui sanggar yang ia kelola, yaitu Sanggar Karina yang berlokasi di Kompleks Perumahan Puri Permai I, Blok E 11 No 18, RT 5/5, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Rina terus melatih anak-anak, mulai dari tingkat SD hingga mahasiswa dan dewasa.

“Sanggar Karina ini berdiri sejak 2012, yang di dalamnya berbagai tarian Nusantara. Anak didik dari mulai SD hingga mahasiswa dan pelajar,” ujar Rina Rohayati, Selasa 18 Juni 2019.

Selama berdiri sejak 2012, kata Rina, anak didiknya sudah mementaskan tariannya, baik kesenian tradisional maupun kreasi di berbagai kota besar di Pulau Jawa, seperti Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Ia juga mengungkapkan, keinginannya mendirikan sanggar ini timbul sejak ia masih gadis, ketika ia ikut salah satu sanggar di Bandung, dan kerap membawakan tarian tradisional.

Dari situlah, pada tahun 2012-an ia mulai merintis sanggar yang ia berinama Sanggar Karina. Keinginannya mendirikan sanggar tersebut, selain ingin melestarikan seni dan budaya tradisional, terutama seni koreografi atau seni tari, yaitu mengajak agar generasi di era ‘zaman now’ lebih kreatif dengan kearifan lokal.

“Karena seni dan budaya tradisional ini kan jati diri suatu bangsa.Kita harus bangga dengan seni tradisional yang kita miliki, jangan sampai kita juga lupa dengan seni dan budaya tradisional sendiri. Boleh kita mengenal budaya asing, tapi budaya sendiri ya jangan ditinggalkan,” paparnya.

Ia juga mengakui, mengajak generasi kekinian untuk mencintai seni dan budayanya sendiri memang banyak kendala. Namun demikian, ia tidak patah semangat. Salah satu cara yang ia lakukan untuk menarik anak-anak muda mencintai seni tradisional ini, adalah dengan menginovasi karya-karyanya dengan kemasan yang lebih moderen, mengedepankan nilai-nilai estetika dengan tidak meninggalkan pakem atau dari akar seni dan budaya yang ia tampilkan.

Widi

BACA JUGA:
Ananta Wahana: Kalau Ada Pungli PPDB Laporkan Saja!
Kerambit, Senjata Khas Minang Ini Diadopsi Militer US Marshal

Penulis: 
    author